
Biarlah dirinya di katakan egois, biarlah dirinya yang akan mencari tahu semuanya. Mungkin dia kecewa karena perjodohan ini, namun hati kecilnya mengatakan bahwa Khanza dan Azriel tidak tahu menahu tentang masalah ini.
Meski mendapatkan peringatan dari Fatimah, Naura tidak akan menjadi dah goyah. Ia akan meyakinkan sendiri kalau informasi yang barusan dia dapatkan belum disetujui oleh pria itu.
Tanpa banyak bertanya dan berpikir, Naura menemui Khanza yang masih berada di dalam kamar yang sering mereka tempati. Dan benar saja, Naura melihat Khanza tengah menghapal kitab kuning.
"Khanza, aku mau bicara sama kamu." Naura duduk disampingnya Khanza mengagetkan Gadis itu yang tengah fokus pada kegiatannya.
"Astaghfirullah, Kak. Kalau datang ya ucap salam dulu. Kau sampai kaget gini."
"Maaf, tapi ini sangat penting dan aku ingin kamu menjawab dengan jujur." Muka Naura terlihat serius, dia tidak ingin berlama-lama dalam rasa penasaran yang menyelimuti relung hatinya.
"Ada apa sih? Kok muka Kakak terlihat serius sekali. Ada masalah?"
Naura menatap mata Khanza penuh seksama dan juga begitu tajam.
"Jangan menatapku seperti itu, aku jadi takut." Khanza mengerjakan matanya menghindari tatapan tajam dari sorot mata yang dimiliki Naura. Baru kali ini dirinya melihat perempuan yang sering akrab dengannya berbeda dari cara memandangnya.
"Apa kamu tahu kalau Nenek Fatimah datang ke sini?"
"Nenek Fatimah ke sini? Aku tidak tahu. Kapan? Kok aku tidak di suruh datang ke rumah Umi Qulsum, ya?" Raut kebingungan yang terlihat dari wajah Khanza menunjukan kalau gadis itu tidak tahu menahu tentang neneknya yang berada di lingkungan pondok.
"Jawab yang jujur Khanza! Aku ingin kamu serius menjawab apakah kamu tahu kalau nenek Fatimah datang ke sini?" Naura kembali bertanya untuk memastikan bahwa Khanza tidak tahu menahu tentang perihal perjodohan itu.
"Sumpah demi Allah aku tidak tahu apapun, Kak. Kalaupun Nenek emang bener datang ke sini pasti dia akan mencariku dan juga Kak Azriel. Tapi sampai saat ini nenek tidak ada?"
"Apa kamu tahu kalau tadi aku melihat nenek Fatimah berada di rumah umi?"
"Tidak! Dari tadi aku berada di sini menghafal hafalanku." Khanza menjawab yakin karena memang dia tidak tahu apapun.
__ADS_1
"Berarti kamu juga tidak tahu perihal perjodohan antara Azriel dan juga Azkia?" lagi-lagi Naura bertanya serius.
"Perjodohan? Kak Azriel dijodohkan dengan Kak Azkia putrinya Ustadz Ali?" Justru Khanza malah balik bertanya, dahinya pun mengkerut dan terlihat kebingungan.
"Jadi kamu tidak tahu tentang perjodohan itu?"
"Tidak tahu. Nenek ataupun kedua orang tuaku belum bilang apapun tentang masalah ini. Kalau Ayah sama Bunda menyerahkan semua jodohnya kepada kakakku, tapi kalau nenek ..." dan Khanza baru paham kalau perempuan yang nenek yang sebut adalah Azkia.
"Ya Allah, jadi perempuan yang dimaksud nenek adalah Kak Azkia."
"Maksud kamu?" Naura memicingkan matanya.
"Nenek pernah bilang kalau dia akan mencarikan jodoh yang terbaik untuk kakakku. Perempuan Solehah pilihannya dan Nenek juga bilang kalau kakak pulang dari kuliahnya bakalan di nikah kan. Apa ini artinya perempuan itu adalah Kak Azkia?"
Deg.
"Kak," lirih Khanza mengusap pundak Naura. Ia merasa kasihan pada Naura yang mendapatkan penolakan dari neneknya. Secara tidak langsung neneknya tidak menginginkan Naura.
"Nenek kamu bilang Azriel tahu tentang masalah perjodohan ini, makanya dia mau datang ke sini dan mengajar di sini. Kalau dia menerimanya Kenapa dia bilang bakalan datang melamar? Apa itu tidak menyakiti perasaanku?" lirih Naura menunduk.
"Tapi kata kak Azriel dia sudah punya seseorang yang ingin di perjuangkan. Katanya nunggu waktu saja, nunggu kesiapan dia dipersunting olehnya." Waktu pertama kali kakaknya ke sana, Khanza pernah bertanya tentang sosok yang kakaknya sukai. Khanza mendesak Azriel untuk bilang perempuan yang dia suka. Dan Azriel pun mengakui kalau dia menyukai seseorang namun belum berani mengungkapkannya. Azriel juga menunggu kesiapan perempuan itu barulah dirinya bakalan datang meminangnya.
"Siapa? Apa kamu tahu siapa perempuan itu?" Semakin bertambah kesal dan juga sakit saja hatinya mengetahui kalau pria yang iya inginkan sudah memiliki pujaan hati.
"Aku juga tidak tahu siapa perempuan itu, tapi Kakak bilang dia dekat dengan aku. Aku masih mikirnya itu adalah kamu, Kak."
"Aku harus cari tahu dan aku harus menanyakan tentang kesediaan dia menerima perjodohan." Naura berdiri, dia akan nekat menemui orang yang ingin ia temui meski dirinya harus mendapatkan hukuman, namun Naura tidaklah peduli.
"Kakak mau kemana?"
__ADS_1
"Ke luar menemui Azriel."
"Apa? Aku ikut!" Khanza pun berdiri mengejar Naura.
******
"Apa? Di jodohkan?" pekik Azriel kala Neneknya datang ke pondok menemui dia dan meminta dirinya menikah dengan wanita pilihan sang nenek.
"Iya, kamu akan Nenek jodohkan dengan Azkia, putrinya Ustadz Ali. Dia itu baik, Solehah, cantik, dan cocok sama kamu."
"Tapi Nek, Azriel dia mau dijodohkan dan Azriel juga tidak menyukai Azkia. Ada sosok yang Azriel suka dan Azriel juga sudah berjanji padanya untuk datang meminang pada kedua orangtuanya." Azriel tidak pernah menyangka kalau neneknya bertindak seperti itu. Padahal kedua orang tua tidak pernah menjodohkan dia dan segala pilihannya pada dirinya sendiri.
"Kamu harus batal kan niatmu itu dan harus menikah dengan perempuan yang nenek pilihkan untukmu. Demi kebaikan kamu, demi masa depan kamu, dan demi keturunan yang jauh lebih baik kamu harus menikah dengannya."
"Nek, Ayah sama Bunda saja tidak melarang aku menentukan pilihanku dan membebaskan Siapa saja yang ingin aku nikahi. Namun kenapa nenek malah menjodohkan aku dengan orang yang tidak aku sukai?"
"Lalu siapa yang kamu sukai? Apa wanita hina itu yang kamu ingin nikahi? Apa wanita kotor itu yang telah membuat kamu menolak keinginan nenekmu ini?" Fatimah merasa cucunya sudah terpengaruhi oleh perempuan yang menurutnya tidak pantas menjadi pendamping sang cucu. Itulah sebabnya dia datang ke sana membicarakan perihal perjodohan karena dia tahu kalau Naura pasti bakalan berbuat ulah. Dan Fatimah tidak akan membiarkan itu terjadi dan tidak Sudi memiliki menantu seorang wanita murahan.
"Dia sudah bertaubat, Nek. Aku yakin kalau dia itu memiliki hati yang baik dan juga akan menjadi sosok istri yang menurut dan bertanggung jawab. Aku memang menyukainya, Nek. Aku juga berniat ingin menikahinya. Aku mencintainya," kata Azriel mengakui perasaannya sendiri. Perasaan yang memang ia rasakan sejak lama dan semakin bertambah ketika sering bermimpi bertemu dengan Naura.
"Apa?!" pekik Fatimah syok mendengar kabar mengejutkan ini. Ini yang ia takutkan, ini yang tidak ia harapkan ketika cucunya malah terpikat pada perempuan hina.
"Kamu gila menyukai perempuan hina itu? Apa yang kamu lihat dari sosoknya yang sudah kotor, Azriel? Dia itu pemabuk, suka main di club, dari tempat hina, banyak teman-teman yang hina juga, apa yang kamu cari darinya?"
"Tapi aku mencintainya, Nek. Aku mencintai Naura tanpa peduli darimana dia berasal!" jawab Azriel sedikit meninggikan suaranya saking kesal pada neneknya yang selalu menghina Naura.
"Jadi kamu mencintaiku?" ucap seseorang.
Azriel dan Fatimah menoleh. "Naura!"
__ADS_1