Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 69 - Pernikahan dadakan


__ADS_3

"Siapa yang di jodohkan? Di sini tidak ada yang akan di jodohkan? Aditya ataupun Naura tidak akan pernah says main jodoh-jodohkan." Genta kebingungan karena di dalam keluarganya tidak ada yang yang dijodohkan dengan siapapun. Keluarga mereka selalu memilih pasangannya sendiri sesuai yang mereka inginkan, sesuai yang mereka cinta tanpa harus dipaksa.


"Loh, bukannya Naura akan di jodohkan dengan pilihan Om?" Azriel kebingungan. Khanza bilang kalau Naura akad segera menikah dan dijodohkan dengan jodoh pilihan orang tuanya. Namun apa yang barusan ia dengar membuatnya bingung serta bertanya-tanya, benarkah Naura akan di jodohkan? Dia menatap adiknya yang berada di belakang.


"Khanza?"


"Hehehe, ini idenya Dokter Revan, Kak. Kata Dokter Revan ini juga ide berasal dari Kak Aditya." Khanza cengengesan tanpa dosa. Dia, Revan, dan juga Aditya memang merencanakan sesuatu untuk Naura dan Azriel. Khanza yang tahu situasi kakaknya saat ini tidak tega dan ingin mempersatukan dua sejoli yang saling jatuh cinta. Pun dengan Aditya yang juga merasa kasihan kepada adiknya yang selalu terlihat murung dan sering bercerita kalau Naura merindukan pria itu. Hingga mereka bertiga saling kontekan satu sama lain dan merencanakan ini semua.


"Kau ..." Azriel beralih menatap Aditya.


"Apa? Mau protes? Tidak usah saja nikahnya. Bukannya berterima kasih malah mau banyak tanya," kata Aditya sewot.


"Eh enggak gitu, kakak ipar. Justru aku mau mengucapkan terima kasih karena kalian sedikit besarnya sudah membantu ku." Tidak mungkin Azriel marah pada kakaknya Naura, entar yang ada dia tidak jadi mendapatkan restu.


"Ya iyalah, Kalau saja kita tidak merencanakan ini semua, kamu tidak akan mungkin berani datang ke sini dan bertindak nekat begini. Paling sekarang kau sedang sok paling tersakiti dengan diam di tempat tanpa mau bergerak sedikit," sindir Aditya yang kesal karena Azriel tidak melakukan apapun. Ia tahu jika mereka saling mencintai, tapi kesal juga jika prianya tidak mau melakukan apapun. Di tambah Revan sering mengirimkan kabar tentang keadaan Azriel, jadinya Aditya luluh dan tidak bisa membiarkan dua orang saling jatuh cinta terlalu lama berjauhan.


"Oh jadi ini rencana kalian, tapi bagus juga sih. Jadinya pemudi ini nekat datang. Hmmm gimana, apa kamu siap?"


"Siap lahir batin, Om." Azriel menjawabnya begitu tegas. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Genta.


"Baiklah. Adit, kamu panggilkan ustadz yang ada di blok M sekalian beberapa warga yang akan menjadi saksinya!"


"Ini seriusan, Ayah? Hari ini?" Naura belum yakin kalau ini bukan hanya mimpi saja. Ia memang mengharapkan ini terjadi, tapi tidak menyangka kalau akan terjadi secepat ini.

__ADS_1


"Seriusan kalau kalian memang serius, tapi jika tidak juga tidak akan jadi nikahnya."


"Jadi Om, jadi. Hari ini juga hayu, aku siap." Azriel menjawabnya.


******


Singkat cerita.


Di kamar Naura, gadis itu sudah di rias sedemikian rupa. Kecantikannya menjadi berkali-kali lipat saat seorang MUA dengan lihai merias wajah gadis cantik bak boneka itu. Karena kebetulan ada salon tak jauh dari sana, maka tukang riasnya di undang ke rumah untuk merias Naura.


Naura mengenakan gamis tile berwarna putih. Kerudungnya pun simple juga tapi, mempesona. Semuanya serba mendadak, dan untungnya juga mereka mau menuruti klien nya meski dadakan, ya itulah gunanya uang.


*****


Keringat dingin mulai bercucuran, dia mengelap peluh di keningnya menggunakan tangan. Tiba-tiba saja kegugupan mendera tubuh Azriel saat dirinya sudah duduk di depan Ustadz yang akan menikahinya. Tadi dia sudah yakin dan siap, sekarang ia mendadak gelisah takut terjadi kesalahan. Azriel mengatur nafasnya supaya lebih tenang.


"Kakak gugup sekali, Khanza. Takut salah mengucapkan ijab qobul.


Khanza tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Azriel. "Santai Kak! Jangan gugup, aku mendukungmu. Jangan gugup dan jangan takut, ingatlah jika di depan ada kebahagiaanmu bersama wanita pilihanmu. Dan berdoa pada Allah kalau pernikahan ini akan lancar."


Azriel mengerjapkan mata menahan air mata supaya tidak jatuh. Antara bahagia dan juga gelisah menjadi satu. "Aamiin. Mudah-mudahan saja Bunda dan Ayah setuju dan tidak marah kakak melakukan ini tanpa sepengetahuan mereka." Azriel takut orangtuanya tidak setuju.


"Aku yakin mereka setuju, Kak."

__ADS_1


Dan tak lama kemudian.


"Untuk pengantin pria, apa Anda sudah siap? tanya Ustadz yang akan menikahkan mereka secara siri dulu. Setelahnya mereka akan mengurus surat-surat pengesahan pernikahan yang akan di bantu oleh Genta.


"Siap, Ustadz." Azriel menjawab dengan tegas.


"Silahkan pak Genta!" Ustadz itu mempersilahkan Genta menjabat tangan Azriel sebagai wali yang akan menikahkan Naura.


Hingga tidak lama kemudian kata SAH menggema di ruang keluarga. Tidak banyak orang yang hadir, hanya orang-orang perumahan saja yang hadir.


"Saaaaahhhhhh...."


"Alhamdulillah." Azriel menunduk haru, kini resmi sudah mereka berdua dan tidak akan bisa lagi ada yang memisahkan.


Pun dengan Khanza yang ikut meneteskan air mata bahagia karena kakaknya bisa menikahi gadis pujaannya. Ia berharap keduanya menjadi keluarga yang samawa. Dan muncullah Naura bersama Aditya yang tangannya di gandeng Naura. Bukan perempuan yang membawanya, tapi sang kakak sendiri yang mengantarkannya ke pelaminan.


"Waaw, cantik sekali!" Khanza terpukau melihat kecantikan Naura. Para pria yang ada di sana pun menoleh pada Naura melihat objek pemandangan. Azriel termangu karena terpesona oleh kecantikan .


Perlahan Naura duduk di samping Azriel. Mata pemuda tampan itu tak bisa lepas dari wajah sang istri. Mulutnya mangap saking terpesonanya karena sebelumnya ia tidak pernah melihat Naura dandan. Meski tidak dandan pun sudah terlihat cantik.


"Mingkem, Kak! Itu iler berjatuhan." celetuk Khanza membekap mulut Azriel. Mereka yang ada di sana sontak tertawa, Azriel mendengus kesal.


*****

__ADS_1


Di saat Azriel dan Naura sudah resmi nikah secara Agama, Fatimah justru tengah merencanakan sesuatu.


"Pokoknya hari ini juga harus selesai tanpa kekurangan sedikitpun!" Entah siapa yang di hubunginya, namun yang pasti rencana Fatimah tidak boleh gagal.


__ADS_2