
"Ada apa ini? Kalian sedang membicarakan Ayah?" seru Genta datang menghampiri kedua anaknya. Dia ikut duduk di samping Aditya penasaran apa yang sedang kedua anaknya bicarakan.
"Dih, jadi orang percaya diri sekali. Aku dan Naura tidak sedang membicarakan Ayah. Kami sedang membahas masalah sejarah yang nantinya akan di ceritakan lagi pada anak cucu kita," jawab Aditya.
"Emangnya kamu sudah mau menikah? Perasaan belum punya calon istri, mana bisa punya anak. Jomblo kok bertahun-tahun," balas Genta menyindir putranya.
"Ck, terus saja di sindir. Nanti Adit akan mencari jodoh yang paling baik, Solehah, kalau perlu mondok seperti Naura. Tapi enggak tahu kapan, dan enggak apa-apa Adit jomblo. Biar menjauhkan ayah dari dosa, kata Ustazah kita ini pacaran itu diharamkan. Jadi kalau sudah srek di hati ya di nikahi bukan di pacari. Bukan begitu ibu Ustazah Naura?" Aditya menoleh pada adiknya, ia tersenyum mengusap kepala Naura yang terbalut kerudung.
Naura mengangguk sambil tersenyum juga. "Iya, Kak. Karena dalam Islam, pacaran merupakan jalan menuju zina yang nyata. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Sepasang kekasih yang menjalin hubungan pacaran biasanya memadu kasih dan berkhalwat atau berdua-duaan. Alangkah baiknya kita ta'aruf saja daripada pacaran dulu. Kalau sudah ta'aruf, cocok, bisa langsung nikah dan pacaran halal. Kayaknya itu jauh lebih nikmat tanpa takut dosa, tanpa takut ketahuan orang-orang di saat tengah berduaan," tutur Naura.
"Tuh dengerin, Yah. Naura bersabda," sahut Aditya terkekeh.
"Apaan sih, Kak." Naura memukul pelan lengan Aditya.
__ADS_1
"Ma syaa Allah, putri Ayah emang luar biasa cerdasnya. Semoga Allah melindungi mu dan semoga Allah senantiasa memberimu kebahagiaan, aamiin yarobbal'alamiin." Doa tulus Genta panjatkan untuk anak-anaknya. Ia yang minim agamanya merasa bangga dan terharu memiliki putri seperti Naura. Genta merasa kalau didikan Farida sangat luar biasa sampai membuat Naura menjadi sosok seperti ini. Meskipun ia tahu kalau ada sosok lain yang mendorong Naura begini, namun ia tetap tidak melupakan jasa Farida yang membesarkan Naura seorang diri.
"Aamiin."
Tiba-tiba keheningan terjadi untuk beberapa saat, hingga suara Genta kembali terdengar. "Maafkan Ayah, Naura. Ayah menyesal telah menyakiti ibumu dan Ayah salah telah meninggalkan ibumu dan kamu."
Naura menggelengkan kepalanya, lalu ia beranjak dan berjongkok di hadapan Genta. "Ayah tidak perlu minta maaf pada Naura ataupun ibu. Semuanya pasti terjadi begitu saja dan dalam keadaan yang mungkin saja darurat. Meskipun Ayah salah karena telah berbohong pada Ibu, ibu juga salah telah pergi dari Ayah dan tidak memberitahukan keberadaan aku, namun itu hanyalah masa lalu. Ya, aku tahu masa lalu yang aku hadapi, ibu hadapi, Ayah hadapi mungkin saja ada yang menyakitkan, mungkin ini ga sulit di maafkan. Namun, itu hanyalah masa lalu saja yang tidak mungkin bisa kembali di ulang lagi, tapi di masa ini kita bisa memperbaiki masa lalu dengan cara saling memaafkan, saling menyayangi, dan pastinya tidak mengulang kesalahan lagi. Untuk demikian, Naura minta maaf atas sikap Naura yang selama bersama Ayah kurang baik, sering cuek, sering banget menjauh. Jujur, Naura memang masih berusaha menata hati, pikiran, keadaan, dan juga kesiapan Naura dalam menerima segala macam peristiwa yang terjadi, keadaan baru, dan juga situasi saat ini. Dan di hadapan Ayah, Naura memohon ampun. Memohon maaf yang sebesar-besarnya, jangan marah sama Naura, jangan benci Naura karena hanya Ayah yang kini Naura punya. Naura tidak mau kehilangan lagi, cukup ibu yang pergi lebih dulu." Naura menunduk bersimpuh di kaki Genta.
"Naura." Genta membawa Naura dalam pelukannya. Tidak ada kata selain pelukan dan kecupan bertubi-tubi ia layangkan ke kepalanya Naura. Hatinya senang kalau Naura mau memaafkannya, tidak ada lagi beban pikiran lagi tentang masalah Naura karena kini semuanya sudah membaik.
Aditya tersenyum bahagia. Sejak kehadiran Naura di rumah mereka, rumah menjadi ramai dengan celotehannya meski terkesan dingin dan jarang interaksi dengan Ayahnya. Namun tidak dengan dia. Apapun Naura suka cerita termasuk kisah cintanya.
Hingga sebuah pesan terdengar masuk ke ponselnya mengalihkan Aditya yang sedang terharu menyaksikan ayah dan adiknya. Dia merogoh saku celananya, lalu membuka pesannya. Dahinya mengkerut kala membaca pesan dari Revan, sahabat satu perjuangan.
__ADS_1
"Ok, kita akan bermain sedikit," ucap batinnya.
*****
Tempat lain.
"Assalamualaikum Jeng Fatimah," sapa seseorang menghampiri Fatimah yang sedang duduk di salah satu meja, Cafe.
"Waalaikumsalam, Jeng Silvi. Ayo mari duduk." Fatimah menyambut kedatangan perempuan itu dengan senyum ramah.
"Makasih, Jeng." Lalu Silvi duduk.
"Mau makan atau ..."
__ADS_1
"Langsung saja, Jeng. Soalnya saya harus menyambut kepulangan anak pertama saya dari luar negri. Sudah lulus kuliah S1."
"Alhamdulillah ya anaknya bisa kuliah di luar negeri. Oh iya, saya mau membicarakan perihal perjodohan cucuku Azriel dan anakmu, Jeng. Bagaimana, apa akan di lanjut?"