
Naura merasa mendapatkan jackpot, ia makan gratis dari Mang Muklis. Sungguh nikmat mana lagi yang kamu dustakan, begitu pikir Naura.
Mulutnya terus mengunyah makanan yang ada di hadapannya. "Mang, ayo makan. Ini enak loh." Naura mengambil satu bungkus bakso. Ada beberapa makanan yang ada di hadapannya. Bakso, cemilan, minuman, dan batagor.
"Iya, sok mangga. Kamu yang makan saja, Mamang mah nanti." Mang Muklis malah bergidik ngeri oleh cara makan Naura yang terlihat lahap.
"Lapar apa doyan, Neng?"
"Lapar sama doyan, Mang. Maklum jarang Nemu bakso. Kan kebanyakan aku diam dia goa." Naura nyengir atas ucapannya sendiri.
"Ada-ada saja kamu ini."
"Nah, akhirnya aku menemukan kamu juga, Kak." Suara familiar terdengar di telinga Naura. Gadis itu mendongak.
"Eh, Khanza. Kamu mau? Tuh ambil masih banyak, ini gratis dari Mang Muklis."
"Terima kasih atas tawarannya. Apa kakak tidak kangen sama Ayah dan Bunda?" Khanza pun ikut duduk di samping Naura.
"Kangen sih, tapi gak berani melihat wajah mereka. Aku malu, mereka terlalu baik padaku." Naura menyelesaikan makannya. Lalu ia mulai fokus bicara dengan Khanza.
"Kenapa? Padahal tidak ada yang keberatan tentang hal itu. Kita memang baik dan juga saudara kakak juga."
Namun Naura terdiam memikirkan perkataan Fatimah. Rasanya ia tidak pantas berada di sekeliling orang-orang baik seperti mereka.
"Kak, kok malah melamun sih?" Khanza melambaikan tangannya tepat di hadapannya Naura.
__ADS_1
"Hah! Tidak. Hanya saja aku sedang lagi teringat pada ibuku." Setiap ada yang bertanya tentangnya, Naura selalu menjawab kangen ibunya. Emang iya kalau dia sedang merindukan ibunya, tapi di sisi lain ada kesedihan juga yang ia alami.
"Semoga Kakak segera ditemukan dengan ibunya."
"Amiin."
Naura terus mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap kegiatan yang ada di sana. Hingga matanya tertuju pada sosok yang selama ini ia kagumi sedang berjalan bareng kedua orangtuanya.
"Ya Allah, sungguh ciptaan mu begitu luar biasa. Gantengnya, kapan aku bisa menjadi makmum pria tampan itu?" Namun hanya dalam hatinya Naura berkata.
"Ayah, Bunda, ini kak Nauranya ada di sini." Khanza memanggil kedua orang tuanya.
Mereka terus berjalan ke arah Khanza.
"Sebenarnya Naura juga kangen sama Bunda, tapi Naura lagi banyak hapalan yang ingin di hapal." Naura mencoba untuk mencari alasan yang logis, padahal dia hanya menghindari tatapan dan omongan tidak jelas dari neneknya Azriel.
"Nau, sebenarnya kedatangan kita ke sini bukan hanya sekedar menjenguk Khanza saja, tapi ada hal penting yang harus kamu ketahui tentang seseorang yang mungkin selama ini kamu rindukan," kata Azzam.
Naura melepaskan pelukannya. "Emangnya siapa seseorang itu?" Meskipun hatinya sangat berharap mendapatkan kabar baik dari ibunya, tapi kali ini Naura tidak mau berharap terlalu tinggi karena ia sering banget kecewa.
"Ini menyangkut ibu kandung kamu."
"Iku kandung aku?" Naura semakin penasaran. Ia ingin sekali kabar baik datang menghampirinya, dan itu dari ibunya. Itulah keinginannya saat ini.
"Iya, Alhamdulillah kami sudah menemukan titik terang keberadaan ibu kamu. Kami juga sudah mendapatkan alamat tempat tinggal ibu kamu saat ini. Inilah kabar baik yang ingin kami sampaikan kepada kamu, tapi kamu malah tidak datang juga menemui kami.
__ADS_1
"Ya Allah ibu, sungguh ibuku di temukan?" Rasa bahagia di wajahnya tidak bisa hilang, Naura sangat senang dan juga tidak sabar ingin bertemu ibunya.
Azzura dan Azzam mengangguk yakin.
"Alhamdulillah ya Allah. Sekarang dimana ibuku berada? Apa aku boleh menemuinya m Aku ingin banget bertemu dengannya dan meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat." Matanya pun berkaca-kaca, ia terharu atas kabar baik yang ia terima.
"Di suatu tempat. Makanya kami ingin mengajak kamu keluar pondok untuk menemui keluarga kamu," kata Azzura.
"Aku mau, tapi ..."
"Hei, kamu selalu saja menyusahkan kita. Apa kamu lupa perkataan saya?" Fatimah tiba-tiba ada di sana dengan tatapan yang selalu menatap Naura tidak suka.
Naura menunduk sedih, ia sadar betul perkataan Fatimah yang terang-terangan menolaknya.
"Hari ini juga kita akan kesana menemui ibu kamu."
"Azzam! Bisa tidak jangan terlalu ikut campur pada urusan orang lain apalagi pada orang yang jelas-jelas tidak tahu asal-usulnya ini," kata Fatimah tegas.
"Mau darimana dia berasal, mau lahir dari rahim siapa dia dilahirkan, itu sudah menjadi salah satu ketentuan Allah yang tidak bisa kita hindari. Jadi Mama diam saya, ya. Diam jauh lebih anggun daripada banyak bicara," kata Azzam terdengar tegas.
"Kalian!" Fatimah melototkan matanya pada Naura.
"Kalau gitu kamu cepat siap-siap karena hari ini juga kita bakal menemui ibu kamu," kata Azzura.
"Sekarang?"
__ADS_1