
Sedangkan di rumah Genta, Azriel sedang membicarakan masalah tawaran ayahnya tentang pekerjaan yang di tawarkan. Azriel juga menceritakan semuanya dari awal Azzam meminta dirinya menjadi seorang pemimpin di perusahaan keluarga yang nantinya akan menjadi miliknya dan juga Khanza.
"Maaf, Ayah. Mungkin aku tidak akan bisa menerima pekerjaan menjadi guru, ternyata tanggungjawab aku cukup besar. Sebenarnya aku pun kaget kenapa ayahku meminta seperti itu, namun semuanya demi kita semua. Mungkin ini terbilang egois karena aku memilih meneruskan usaha keluargaku yang mungkin sudah turun temurun."
Genta tersenyum, tentu dia tidak akan mengekang menantunya. "Ayah tidak keberatan dengan pilihan kamu ini. Mau kamu bekerja dimanapun juga itu adalah pilihan kamu. Ayah hanya minta sama kamu tolong jaga putri ayah dan bahagia dia dengan caramu. Melihat anak-anak bahagia saja sudah lebih dari cukup. Jika suatu hari nanti kamu sudah tidak lagi mencintai putriku tolong kembalikan padaku dengan cara baik-baik pula."
"Tentu saja, tentu saja aku akan berusaha membahagiakan istriku dan aku akan bertanggungjawab atas dirinya. Aku juga akan menjaga Naura dengan segenap hatiku karena aku mencintainya." Itulah janji yang Azriel ucapan baik kepada orangtuanya Naura dan kepada Tuhannya. Tidak ada alasan lagi untuk untuk tidak mencintai Naura.
Genta tersenyum, di usia tuanya hanya ini anak-anaknya bahagia dan dia juga tidak akan mau menikah lagi. "Oh iya, ayah sama ayah kamu sudah sepakat menggelar pesta pernikahan kalian dalam waktu satu bulan lagi."
"Apa harus? Kalau menikah menurut Islam itu cukup simpel, Yah."
"Sebenarnya ini harus karena walau bagaimanapun juga Naura anak ayah, anak perempuan satu-satunya dan kamu juga seorang anak dari Azzam pemilik perusahaan cukup terkenal. Demi menghindari hal yang tidak di inginkan dan mengantisipasi terjadinya pria dan wanita mencoba mendekati kalian, jadinya resepsi ini harus diadakan. Setidaknya mereka tahu kalau kian berdua sudah menikah."
"Hmmm, aku nurut kalian saja, Yah."
"Ya sudah, kau begitu ayah ke luar dulu." Genta beranjak dari sana dan Azriel pun beranjak juga menuju kamar istrinya.
Sudah jam lima sore, badannya cukup lengket ingin segera mandi. Untuk ibadah ashar, dia sudah menjalankannya ketika di perjalan pulang.
Setibanya di dalam kamar, kebetulan juga Naura baru keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian intinya saja.
"H-hubby!" Naura terkejut suaminya ada di sana. Dia masih malu memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya di depan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.
Glek!
Jakut Azriel naik turun melihat keindahan sempurna yang ada di depan matanya. Dia tidak menyia-nyiakan menatap lekat wanita halalnya. Azriel segera menutup pintunya, bahkan menguncinya dengan mata terus menatapnya.
Perlahan dia melangkah mendekati Naura yang masih saja diam mematung menunduk. Langkahnya perlahan maju mendekat lemari pakaian. Namun terhenti ketika ada tubuh kekar di depannya.
__ADS_1
"Kamu sudah mandi?" Suara pria itu begitu tercekat menahan gejolak rasa yang ia rasakan. Ingin sekali dirinya mengulang lagi kisah malam pertama mereka.
Naura mengangguk, lalu berjalan ke samping. Akan tetapi tangan Azriel menghalanginya dan menarik pinggang ramping sang istri. Di balik gamis longgar yang selalu menutup aurat Naura tersembunyi lekukan indah nan mempesona. Semua begitu sempurna dan hanya dia yang bisa melihat dan menikmati keindahan itu.
Tubuh mereka begitu rapat dengan bibir Azriel menyapu kulit pundak Naura. "Wangi. Aku suka harumnya."
"H-hubby, aku mau berpakaian." Tubuh Naura memegang kala sapuan bibir Azriel terus saja menyentuh kulitnya.
"Jangan dulu, nanti juga kamu bakalan berkeringat lagi."
"Hubby," rengek Naura. Namun Azriel tidak bisa terus menganggurkan Naura begitu saja. Dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Naura dengan tangan kanan menarik tengkuk Naura untuk memperdalam setiap sentuhan yang dia berikan.
Naura pasrah, dia tidak bisa menolak di saat Azriel kembali berlayar menikmati manisnya madu yang ada dalam tubuhnya. Dia membiarkan Azriel menyentuh apa yang ada di dalam dirinya sendiri dan mereka berdua berbagi peluh sampai mereka berhenti.
*****
"......"
"Baiklah, Ayah akan menikahkan kalian berdua." Dia pasrah dengan keadaan yang terjadi.
*****
Lain tempat, Aditya memarkirkan mobilnya di dekat mesjid.
"Mu kamu itu apa sih? Sudah aku bilang kalau aku tidak mau mengikuti kamu. Dasar pemaksaan kehendak orang lain." Mentari menggerutu kesal karena Aditya bertindak sesukanya.
"Menolak atau pun tidak aku akan tetap memaksa kamu. Ini cara terbaik untuk membuat kalian berada di antara kita."
"Kamu itu sinting, Bang. Kamu tadi bilang mau menikahi ku hari ini? Kau tidak sudi. Dari dulu kamu itu tetap saja suka memaksa orang." Mentari menolak keras tindak Aditya. Dia tidak percaya kalau Aditya bakal nekat sampai amu menikahinya. Dia juga mendengar Aditya bicara sama papanya. Bukannya senang justru Mentari malah di buat kesal.
__ADS_1
Aditya tersenyum. "Rupanya kamu masih ingat panggilan sayang kamu ke aku, Abang."
Sial! Ingin sekali Mentari merutuk kebodohannya yang sudah mengucapkan kata itu.
Aditya turun dari mobil, dia membuka pintu mobilnya. "Turun!"
"Aku tidak mau!" Mentari tetap kekeh menolak.
"Turun atau aku akan melakukan hal tidak senonoh di sini."
Mentari mendelik tajam. "Dasar gila!" Dan ancaman itu mampu membuat Mentari turun dari mobil. Namun dia hendak berlari kabur dari Aditya, tapi Aditya segera menarik tangan Mentari padanya sehingga tubuh mereka saling berdekatan, bahakan nafas Aditya menerpa kulit wajah Mentari.
"Aku bisa lebih gila dari ini, sayang." Aditya menyeringai. Mata Mentari melotot, dia berontak dari dekapan Aditya.
"Hei! Kalian berdua mau berbuat mesum, hah!" Ucap salah seorang bapak yang hendak ke mesjid.
"Bukan, Pak. Saya ingin menemui ustadz di sini dan mau menikahi calon istriku ini sebelum dia kabur dariku. Maklum Pak, dia salah paham jadi marah sama saya dan hendak membatalkan pernikahan kita. Jadi saya tidak ingin membuang waktu lagi untuk tidak segera mengikatnya untuk membuktikan kalau aku hanya ingin menikahinya saja." Penuturan Aditya membuat Mentari membelalakkan matanya.
"Itu ti ...."
"Ih jadi calon istrinya cemburu sama orang begitu."
"Betul, Pak."
"Enak saja, aku tidak ..."
"Aditya!" Sentak seseorang membuat Aditya menoleh. Dia menegang sambil memeluk pinggang Mentari. Siap-siap dirinya akan di amuk oleh ayahnya.
"A-ayah!"
__ADS_1