Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 74 - Ternyata kamu ...


__ADS_3

Suasa semakin memanas diantara Naura dan Azriel. Keduanya melupakan berbagai macam kegiatan lainnya selain tentang mereka yang saat ini mereka pikirkan.


Jantung Naura berdebar dan semakin berdebar kencang saat dimana dia mencium keningnya penuh perasaan. Mengecup setiap kelopak matanya dengan lembut dan menye sap bibirnya penuh kehati-hatian seakan takut menyakiti bibinya. Tiada satupun tempat yang tidak di lewatkan karena pria itu begitu menyayangkan setiap tempat.


Naura bisa merasakan perasaannya Azriel lewat tindakan yang ia lakukan kepadanya. Menurutnya tidak ada laki-laki sesetia dirinya, tidak ada laki-laki yang rela menunggunya selama itu selain dia. Menurutnya hanya dia lelaki pertama yang cintanya begitu besar dan juga tulus terhadapnya. Cinta yang ia tunggu selama ini juga kini telah resmi bersatu dalam ikatan halal walau hanya pernikahan siri dulu. Namun Naura merasakan kebahagiaan yang belum ia dapatkan sebelumnya.


Naura tak bisa menolak kelembutannya dalam setiap sentuhan dan dalam perlakuannya saat ini. Dia terbuai, dia terlena, dia tergoda di kala tangan dan bibirnya terus menyusuri setiap lekukan tubuhnya. Tanpa sengaja Naura pun mengeluarkan suara lenguhan merdu yang begitu manja sehingga membuat ia semakin buas memangsanya.


Tak hanya itu, pria yang kini menjadi suaminya itu begitu lihai menggapai apa saja yang ingin ia gapai tanpa peduli kalau suasana semakin tambah panas saja.


Naura sampai mengalungkan kedua lengannya ke leher Azriel sesekali mere mas rambut suaminya di saat dia semakin semangat mengulum salah satu buah simalakama secara bergantian.


Lenguhan itu semakin menjadi di saat sebuah rasa yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata merasuk ke dalam tubuhnya di kala suaminya semakin liar tak terkendali.


Perlahan tangannya mulai melepaskan sisa pakaian yang ada di tubuh Naura. Dia juga berusaha melepaskan pakaiannya sambil menatapnya penuh cinta dan naf*u. Kabut gairah sudah merasuk kedalam tubuh mereka berdua, dan hawa yang tadinya dingin kini menjadi semakin panas.


Azriel kembali memberhentikan aktivitas nya saat berusaha melepaskan kain terakhir yang menutup bagian miliknya. Pipi Naura memerah terasa panas, dia malu saat tak sengaja matanya melihat milik dia yang sudah berdiri menantang dan diapun mengambil selimut menyelimuti tubuh mereka berdua lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Naura pasrah dan ikhlas memberikan jiwa dan raganya untuk suaminya. Naura tidak ingin terlalu lama menyerahkannya karena baginya Azriel berhak mengetahui dan memiliki sesuatu berharga yang ia jaga selama dua puluh tiga tahun ini. Naura bisa merasakan Azriel begitu kesusahan, bahkan Naura pun merasakan sakit di kala sesuatu di paksakan masuk.

__ADS_1


"Hubby," lirih Naura begitu lembut sambil mencengkram apa saja yang bisa ku gapai.


"Iya, sayang." Jawab Azriel sempat terpaku dengan panggilan Naura namun ia tetap berusaha keras menyatukan milik keduanya. "Kenapa susah sekali, sih?" batin Azriel yang kini terus berusaha dan menggebu ingin menikmati surga dunia di saat nafsuunya semakin memuncak tak terkendali.


Setelah sekian kali percobaan, Azriel berhasil membobol pertahanan Naura. Naura merasa miliknya terasa terkoyak, sakit, perih, namun nikmat terasa menjadi satu.


"Hubby, sakiiit!!" Naura menjerit kesakitan sambil mencengkram kuat punggung suaminya karena Azriel begitu kuat mendorong masuk miliknya.


Saking teramat sakit, Naura sampai meneteskan air mata dan menggigit bibir bawahnya. Namun Naura bahagia karena suaminya lah pemilik kehormatannya.


Azriel tertegun, ia bingung kenapa Naura terlihat kesakitan bahkan sampai meneteskan air mata.


"Sayang, kamu!!" Azriel membelalakkan mata ketika merasakan ada sesuatu yang robek di bawah sana saat berhasil membobol gawang lawan. "Kita sudahi saja dulu, ya? Aku tidak tega menyakiti mu." Dia merasa bersalah telah membuat istrinya menangis meski dirinya belum merasakan kepuasan.


Meski terkejut, namun Azriel membalas lu ma tan Naura dan melanjutkan kegiatannya sampai mereka berdua benar-benar berada di puncak gunung tertinggi. Tiada kata yang mampu Azriel katakan lagi, bibirnya terasa sulit sekali berucap. Banyak pertanyaan yang ingin Azriel tanyakan pada Naura kenapa perempuan itu masih suci? Bukannya Naura sering bilang kalau dia tidak lagi suci? Hina, kotor, dan masih banyak lagi yang Naura bilang tentang dirinya sendiri.


Hingga pasa akhirnya Azriel mampu melepaskan tembakan dahsyat dan ia terkapar lemah di atas tubuh Naura dengan wajah berada di ceruk leher istrinya. Napas keduanya memburu, lelah, dan tentunya ada kepuasan tersendiri yang mereka rasakan di saat penyatuan terjadi.


Azriel menggulingkan badannya ke samping Naura. Dia tidur menyamping dengan tangan menyangga kepalanya dan menatap wajah Naura. Naura yang saat ini tengah memejamkan matanya tidak menyadari kalau dirinya sedang di tatap mesra.

__ADS_1


Tangan Azriel mengusap sisa air mata yang ada di pelupuk mata istrinya. "Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya lalu mengecup kening Naura. Kemudian Naura membuka matanya dan mata mereka saling pandang.


"Apa?"


"Aku tidak mengerti kenapa kamu ..." Azriel menggantung ucapannya karena merasa tidak enak membicarakannya.


"Perawan," kata Naura mengerti kemana arah pertanyaannya suaminya. Ia sudah bisa menebak pasti suaminya akan bertanya tentang ini padanya.


"Iya, kamu kan selalu bilang kalau kamu itu sudah kotor, tidak suci, tapi ini?"


Naura menghela nafas, ia menatap langit-langit kamar. "Aku memang kotor dan selamanya akan menjadi manusia kotor. Kenapa? Karena aku hanyalah manusia biasa yang selalu saja melakukan kesalahan. Aku memang tidak suci karena sering banget menyentuh barang haram seperti minuman keras dan juga hampir pernah mengalami pelecehan, pernah berpelukan dengan teman priaku. Nyatanya aku bukan manusia bersih karena banyak dosa yang aku lakukan. Namun, jika kamu bertanya tentang keperawanan masih utuh maja jawabnya adalah, aku ingin menyerahkannya pada suamiku sendiri. Sebejad-bejadnya aku, sekotor-kotornya aku, se bajingannya aku, akan aku pertahankan mahkota ku karena aku tahu hal yang paling berharga bagi perempuan adalah keperawanannya. Almarhum ibu juga sering bilang jagalah keperawanan mu hanya untuk suamimu saja." Naura selalu teringat nasehat - nasehat ibunya ketika masih ada. Meskipun ibunya pernah berada dalam jalan kemaksiatan, namun ibunya tidak membiarkan anaknya terjerumus kedalam lembah maksiat.


Azriel tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia langsung saja membawa Naura kedalam pelukannya dan memberikan kecupan mesra di keningnya. "Terima kasih ya Allah, engkau sudah memberikan wanita ini untukku dan terima kasih sudah menjaganya untukku," ucap dalam hatinya penuh syukur memiliki Naura.


"Apa kamu menyesal dan marah padaku?"


"Tidak, aku malah bahagia dan terima kasih sudah menjaganya untukku. Anna uhibbuka Fillah ya Humaira."


Naura tersenyum, lalu membalas pelukannya Azriel. "Aku juga mencintaimu karena Allah, Hubby."

__ADS_1


Deg.


"Hubby!"


__ADS_2