
Diam, itu yang terjadi pada Azriel ketika sebuah pertanyaan melontar dari mulut Genta. Pemuda berusia 24 tahun itu tengah memikirkan jawaban yang pasti, tepat, dan juga masuk akal.
Genta ingin tahu jawaban apa yang akan di katakan Azriel. Dia juga ingin mengetes Azriel terlebih dulu sebelum dia memutuskan pantas atau tidaknya pria muda itu mendampingi Naura.
Azriel menghela nafas berat. "Jika Om tidak merestui, maka aku akan berusaha dan berjuang mendapatkan restu itu dengan tindakan dan doa sampai Om sendiri memberikan restu dan sampai aku lelah serta takdir Allah telah menetapkannya. Dan jika Naura sudah menikah, aku akan iklaskan dia bersama pilihannya meski hatiku sendiri yang akan merasakan sakitnya."
"Bagaimana kalau suatu hari nanti sesuatu terjadi pada Naura yang mengakibatkan buta, cacat, atau bisu? Apa yang akan kamu lakukan dan apakah kamu akan menerimanya sedangkan Naura pastinya tidak akan menjadi istri yang baik."
"Jika itu terjadi, saat ia tidak bisa melihat maka aku akan menjadi matanya untuk melihat dunia dan menceritakan keadaan yang ada. Jika dia tidak memiliki tangan maka aku yang akan menjadi tangannya untuk melakukan setiap pekerjaannya. Jika dia tidak punya kaki maka aku yang akan menjadi kakinya berjalan kemana-mana. Jika dia tidak bisa bicara aku yang akan menjadi mulutnya untuk berucap. Jika bertanya apa yang akan aku lakukan maka aku akan melakukan apapun yang aku bisa dan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga. Insyaallah aku akan menerima setiap kekurangan dan kelebihan Naura dengan sepenuh hati karena sesungguhnya kesempurnaan itu milik Allah semata," tutur Azriel serius. Dia bicara langsung dari dalam hati beralih ke mulut. Setiap tutur katanya adalah hal yang ingin ia lakukan dan tulus tanpa ada syarat apapun.
Baik Genta dan Aditya takjub oleh jawaban dari Azriel. Mereka cukup puas atas penuturan yang di berikan Azriel.
"Kalau seandainya saya meminta kamu menikahi Naura hari ini juga apa kamu siap? Lalu mas kawin apa yang akan kamu berikan sebagai maharnya? Dan apakah kamu siap menanggung semua keperluan Naura di saat kamu sendiri belum bekerja?"
"Kapanpun itu aku siap, Om. Soal nafkah lahir insyaallah aku mampu dan aku percaya rezeki setelah nikah itu ada. Yang paling penting adalah rukun nikah syarat nikah dalam Islam sudah ada. Rukun nikahnya antara lain satu, Adanya calon mempelai pria dan mempelai perempuan yang tidak terhalang secara syar’i. Maksudnya adalah kedua mempelai bukan mahram. Kedua adanya wali dari calon mempelai perempuan. Ke tiga ada dua orang saksi laki-laki yang menyaksikan sah tidaknya akad. Ke empat diucapkan ijab dari pihak wali calon mempelai perempuan atau yang mewakilinya. Dan ke lima diucapkannya kabul dari pengantin laki-laki atau yang mewakilinya."
"Selain harus memenuhi rukun nikah, ada syarat pernikahan dalam Islam yang harus dipenuhi oleh kedua calon mempelai. Yaitu, Beragama Islam, Bukan mahram, Adanya wali bagi calon pengantin."
Jika mempelai perempuan masih memiliki ayah kandung, maka dialah pihak paling utama untuk menjadi wali nikah. Namun, jika ayah perempuan sudah meninggal atau memiliki uzur tertentu bisa diwakilkan. Wali nikah biasanya bisa diwakilkan oleh saudara kandung laki-laki, kakak atau adik mempelai yang ada di keluarga, atau juga laki-laki tertua yang ada di keluarga yang masih ada misalnya kakek, paman dan seterusnya berdasarkan nasab. Jika wali nikah dari nasab keluarga tidak ada, bisa dicarikan alternatifnya yakni wali hakim dengan syarat dan ketentuannya.
__ADS_1
"Ke empat dihadiri 2 orang saksi. Lima kedua mempelai sedang tidak berihram atau haji. Enam tidak ada paksaan. Kedua belah pihak saling ridha, saling menyukai dan mencintai dan sepakat untuk menikah. Dan insyaallah ini semua pasti sudah terpenuhi. Maka dari itu hari ini juga aku siap menikahi Naura," tutur Azriel menjelaskan setiap syarat dan rukun nikah supaya Genta paham kalau nikah dalam Islam itu mudah yang penting sesuai akidah Islam. Karena nikah yang ribet itu, nikah menurut adat istiadat suku yang di miliki setiap orang. Misal adat Jawa, Sunda, Sumatra, dan masih banyak lagi.
"Punya mahar berapa kamu?" Genta ingin tahu.
Azriel menoleh pada Khanza. Khanza mengerti, dia mengambil sesuatu dari dalam tas gendong yang berada di gendongannya. Kemudian memberikannya pada Azriel.
Azriel pun menerimanya. "Satu set perhiasan seberat 20 gr dan uang sebesar dua puluh juta. Hanya ini yang aku punya saat ini. Ini pun hasil tabunganku selama lima tahun belakangan ini, sisa uang jajan."
Lagi-lagi Aditya dan Genta di buat takjub. Pun dengan Naura yang tidak menyangka kalau Azriel sudah menyiapkan itu semua. Benarkah pria itu menabung hanya untuk memberikan mahar untuknya? Jika ia sungguh luar biasa sekali.
"Tapi sayangnya saya tidak akan menyetujuinya," tutur Genta.
"Ayah!" Naura. Keduanya terkejut, Naura pikir Ayahnya akan setuju tapi ternyata ia di buat terkejut.
Genta menatap Naura. "Kenapa, Nau? Ayah salah tidak merestui hubungan kalian? Apa kamu keberatan?"
Naura terdiam sejenak. Hatinya memang keberatan karena ia masih mencintai Azriel. Cinta itu masih ada, cinta itu masih tetap bertahan, dan cinta itu tidak bisa di hilangkan dengan mudah.
Wajahnya menunduk murung, ia tidak mungkin bilang yang sebenarnya jika ia ingin menikah.
__ADS_1
"Tapi demi kebahagiaan kamu, Ayah akan menikahkan kalian berdua hari ini juga dengan atau tanpa restu neneknya Azriel," ucap Genta begitu tegas.
Naura mendongak, Azriel pun menatapnya. Keduanya sama-sama terkejut.
"Benarkah?" seru Azriel sudah girang.
"Ayah seriusan?"
"Ya sudah, kalau tidak amu kalian tidak usah ni ..."
"Aku setuju," jawab Azriel cepat-cepat. Naura langsung memeluk ayahnya.
"Terima kasih, Ayah." Genta membalas pelukan Naura. Dia mengusap kepala putrinya dan mengecup pucuk kepalanya.
"Sama-sama, demi kamu Ayah akan lakukan itu. Lebih baik kalian halal secara agama dulu sebelum syetan mampu menggoda iman kalian. Terutama pria itu, nekat sekali dia."
Azriel menunduk malu. Dia memang nekat tanpa berpikir dulu, namun ini adalah perjuangannya.
"Eh, tapi soal perjodohan itu bagaimana?" seru Azriel baru ingat kalau Naura akan di jodohkan.
__ADS_1
"Perjodohan? Siapa?"