
Rumah Sakit
"Dokter, apa mama saya sudah bisa pulang?" tanya Azzam di saat dokter memeriksa keadaan mamanya.
"Semuanya sudah jauh lebih baik dari kemarin, Pak. Namun saya sarankan untuk tidak membuatnya kaget, syok, atau membuat dia marah dan tertekan karena itu bisa mempengaruhi keadaan jantungnya," saran dokter.
"Baiklah, Dok. Kami paham atas saran dokter," kata Azzam.
"Kapan saya boleh pulang, Dok?" tanya Fatimah.
"Hari ini juga sudah bisa, Bu." Dokternya itu tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah," ucap Fatimah dan Azzam.
Sedangkan di luar ruangan.
Azriel tengah dilanda kebingungan. Dia gelisah terus memikirkan Naura dan juga memikirkan persetujuan dia ketika Neneknya memintanya untuk menikah dengan wanita pilihan nenek.
"Kamu kenapa, Azriel? Wajahnya tegang dan gelisah begitu?" Azzura mengusap lembut punggung tangan putranya. Sebenarnya ia juga terpaksa menyetujui permintaan mertuanya karena melihat kondisi Fatimah sendiri.
"Bunda, apa jatuh cinta itu hal yang salah? Apa memperjuangkan cinta itu tindakan yang di larang?" Pria muda yang kini sudah menjadi sosok yang di segani itu dilanda kebingungan. Dia telah jatuh cinta pada Naura, tapi dia tidak bisa memperjuangkan cintanya karena alasan terhalang restu.
"Azriel, tidak ada yang salah dalam hal cinta dan memperjuangkan cinta itu bukanlah hal yang salah. Namun terkadang kita harus mengorbankan cinta demi suatu kebaikan."
"Cinta juga dapat dikatakan sebagai salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada kita sebagai umatnya. Di mana perasaan ini akan membawa seseorang untuk mencintai dengan tulus dan penuh kasih. Bahkan orang yang memiliki perasaan tulus ini akan melakukan hal baik dan bersedia mengorbankan diri demi orang yang dicintai."
__ADS_1
"Setiap hal dapat dicintai, selama kamu merasakan nyaman dan tenang terhadap hal atau orang tersebut. Jika seorang manusia meletakkan cintanya pada selain Allah, maka ini menunjukkan bahwa seseorang tersebut kurang mengetahui hal-hal tentang Allah. Karena minimnya pengetahuan, maka dia tidak meletakkan cintanya pada Allah."
"Azriel sesungguhnya cinta itu bersumber dari Allah, sehingga cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah hal yang diperoleh melalui proses pendekatan diri kepada Allah. Kalau kamu sedang jatuh cinta dan berharap bisa menjadikannya sebagai pendamping mu, maka mintalah pada sang pemilik Cinta. Berdoalah pada yang maha kuasa untuk terus memintanya. Kalau jodoh dekatkanlah, kalau bukan jauhkanlah."
"Untuk masalah ini, kamu serahkan pada Allah. Kalau memang ini yang terbaik untuk mu in syaa Allah indah pada waktunya. Kalau memang kalian berjodoh, in syaa Allah akan di persatukan dengan cara-NYA. Untuk saat ini, jalani dulu skenario yang Allah berikan untukmu demi kebaikan orang lain. Apa kamu tidak lihat keadaan nenek kamu saat ini? Bunda tahu kalau hati kamu miliknya, tapi satu sisi ada sosok yang harus kamu jaga kesehatannya. Bunda tahu ini terbilang egois, namun demi kebaikan kamu harus sedikit berkorban. Biarlah cinta kalian menemukan jalannya, biarlah cinta kalian bersatu ketika di waktu yang tepat. Kalau kalian berjodoh tidak akan kemana."
Panjang lebar Azzura memberikan pemahaman tentang definisi cinta menurutnya. Ia berharap dengan nasehat yang ia berikan pada Azriel mampu membuat putranya mengerti bahwa terkadang cinta butuh pengorbanan dan juga perjuangan.
Azriel menghela nafas berat. Sungguh sulit sekali melakukan semua ini meski pun ia sudah menyetujuinya.
"Cinta yang sangat rumit. Kakak dan kak Naura saling mencintai, tapi terhalang restu nenek. Jujur, aku merasa kasihan sama Kak Naura yang selalu berjuang dalam setiap doanya memintamu menjadi imamnya. Kak Naura juga sudah berusaha memantaskan dirinya dengan harapan mampu menjadi istri, menantu, dan muslimah yang baik. Namun kini cinta yang selalu bertasbih dalam sujudnya begitu rumit. Mungkin saja tidak akan bertemu di satu tempat yang sama," tutur Khanza menghela nafas panjang.
"Semoga kak Naura bisa menerima takdir ini dan semoga dia bisa menemukan pria yang benar-benar mencintainya dan mau berjuang bersama. Bukan seperti kakak yang bilang cinta namun tak mampu menunjukan cintanya. Sebenarnya semua ini bisa di atasi jika mau bersabar." Khanza berdiri meninggalkan Azriel dan Bundanya berdua. Ia yang tahu bagaimana Naura ikutan kecewa dan merasakan rasa sesak ketika nanti Naura tahu kalau pria yang sering di sebut dalam doanya akan menikah dengan orang lain.
"Khanza kenapa kamu bisa bilang begitu?" seru seseorang dan itu adalah Fatimah. Ya, Fatimah sudah keluar dari dalam dan mendengar Khanza.
"Nenek tidak salah, ini demi kebaikan Azriel juga. Pokoknya mama ingin cepat menikahkan Azriel dan Azkia."
"Mah.."
"Nek."
"Tidak ada tapi-tapian," ucapnya sambil memegangi dada.
******
__ADS_1
Ponpes
Fatimah tidak main-main dalam berucap. Baru saja pulang langsung menemui umi Qulsum dan kedua orangtuanya Azkia.
"Qulsum, saya ingin melamar cucu mu untuk menjadi istrinya Azriel. Cucu ku sudah setuju." Fatimah tersenyum bahagia kalau rencananya berhasil.
"Tapi ..." Umi Qulsum bingung dan tidak bisa memutuskan sendiri, ia menatap Azkia. "Azkia yang menentukannya. Dia yang akan menjalani kehidupan baru itu jadi aku serahkan pada Azkia saja."
Disana juga sudah ada Ustadz Ali dan juga Ustazah Asiah.
"Azkia, Umi dan Abi menyerahkan semuanya pada kamu. Bersediakah kamu menerima pinangan dari keluarga Ustadz Fauzi?" tanya Ali yang sebenarnya masih belum yakin dengan pinangan ini. Baginya ini begitu mendadak dan sebelumnya belum pernah ada pembahasan tentang hubungan ini. Meski dalam Islam ta'aruf di berlakukan, namun jika dadakan begitu membuatnya merasa was-was.
Dan semua orang yang ada di sana menatap Azkia terkecuali Azriel yang sedari tadi diam saja tidak banyak bicara. Dia lemah tak berdaya ketika neneknya terus mendesak dan memegang dada ketika ia melawannya.
"Meskipun Kak Azkia menerima lamaran ini, aku yang tidak setuju. Asal kalian tahu, akan ada banyak hati yang terluka jika perjodohan ini terus dilaksanakan termasuk hatiku," kata Khanza secara tiba-tiba lalu pergi dari sana.
Deg.
Azkia tertegun. "Kenapa Khanza bilang seperti itu? Ada apa ini?"
"Azkia jangan dengarkan Khanza, dia sedang tidak baik-baik saja. Ayo nak, jawablah!" desak Fatimah sudah tidak sabar mendengar jawaban Azkia.
"Cepetan jawab iya mumpung di wanita malam itu tidak ada di sini. Saya akan pastikan kalian menikah secepatnya sebelum dia datang kesini," batin Fatimah tidak sabar.
Azkia tertunduk malu. "Bismillah, aku menerima pinangan ini," jawabnya begitu yakin karena memang diam-diam ia menaruh hati pada pria muda itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap Fatimah bersorak gembira.
"Astaghfirullah," batin Azriel tertunduk lesu.