Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 58 - Dia?!


__ADS_3

Panik, kaget, dan bingung harus berucap apa ketika Azkia menatapnya penuh intimidasi. Dia seperti maling yang tertangkap basah karena ketahuan mencuri.


"Eh, a-ada Azkia. Ka-kapan kamu datang ke sini?" tanya Fatimah tergagap gugup. Tangannya pun mulai basah oleh keringat dingin, ia pun berpikir kalau Azkia tahu bisa-bisa doa tidak akan lagi bisa memiliki calon mantu idaman. Baginya Azkia perempuan baik dan Solehah dan pantas menjadi pendamping cucu laki-lakinya.


"Tidak perlu nenek tahu dari kapan aku berada di sini. Aku hanya ingin tahu kenapa nenek bilang pura-pura terkena serangan jantung? Apa ini artinya kalau nenek tidak pernah memiliki riwayat jantung?"


"Ah bukan begitu, mungkin kamu salah dengar. Mana mungkin nenek pura-pura, itu hal yang sangat serius tidak mungkin pura-pura kan? Pasti kedatangan kamu ke sini mau menjenguk Naura. Kamu itu memang baik ya, sudah cantik baik lagi. Azriel akan beruntung mendapatkan istri seperti kamu." Fatimah mengalihkan perhatian Azkia dari pertanyaan yang di lontarkan gadis itu padanya. Ia tidak mau Azkia bertanya yang tidak-tidak lagi.


"Nenek sudah selesai menjenguk, silahkan kamu yang di sini. Nenek mau pamit dulu, mau periksa tentang keadaan jantung nenek." Fatimah cepat-cepat keluar dari sana menghindari Azkia. "Untung saja bisa mengelak. Aku harus hati-hati lagi, jangan sampai mereka tahu tentang rencanaku ini. Hanya dengan ini semua orang akan mau mengikuti permintaan ku."


Azkia memperhatikannya penuh curiga. "Apa mungkin aku salah dengar? Jelas-jelas beliau bilang kalau Naura benar jika dia hanya pura-pura terkena serangan jantung? Tapi ... Ah sudahlah. Lebih baik aku bertemu Naura saja." Azkia tidak ingin ambil pusing. Ia pun mendekati Naura dan duduk.


Tangannya mengambil tangan Naura, ia genggam dengan erat.


"Assalamualaikum, Nau. Apa kabar? Maaf aku baru menjenguk mu. Sebenarnya aku malu ketika ingin bertemu kamu, aku malu telah menyakiti kamu dan telah menilai rendah mu. Maafkan aku, Naura. Aku merasa bersalah sama kamu. Jika nanti kamu sudah sadar, tolong jangan benci aku, tolong jangan jauhi aku, ya."


Azkia terus berceloteh apa saja sambil menemani Naura. Dia juga terus meminta maaf.


******


Di sisi lain, seorang pria menyeret paksa ayahnya untuk cepat-cepat ke rumah sakit.


"Kamu itu kenapa sih Dit? Ayah sedang kerja saja kamu terus hubungi Ayah. Bilang pentingkah, bilang darurat lah, ada apa?"


"Nanti saja jawab pertanyaannya. Pokoknya Ayah harus jelaskan sesuatu pada Adit tentang seseorang. Ini sangat serius." Aditya tidak ingin terlalu lama memendam keinginannya dalam mengetahui tentang Naura.


Dia sampai menelpon Ayahnya untuk datang dari kota J ke kota B. Sampai-sampai Aditya mengancam akan bunuh diri kalau Ayahnya tidak datang. Dan sekarang dia berhasil membawa sang ayah ke kota B meski harus ada drama dulu.

__ADS_1


"Seseorang siapa? Dan kenapa kamu bawa Ayah ke kota B? Di rumah sakit pula? Siapa yang akan kamu temui?" Meskipun penasaran, dia tetap mengikuti langkah putranya.


Aditya membuka pintu. "Masuk, Yah. Lihat sendiri siapa yang akan kita temui?" kata Aditya menatap ayahnya yang bernama GENTA BUANA.


Pria itu mengerutkan keningnya. "Siapa?"


"Masuk saja!" titahnya.


"Baiklah kalau kamu memaksa." Dan pria itu pun masuk. Namun setibanya di sana ia mengerutkan keningnya melihat seorang perempuan terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus di tangan kirinya, dan tangan kanan di gips.


"Siapa dia?" tanya Genta pada Aditya dengan langkah semakin dekat semakin jelas saja wajah Naura. Azkia sudah lebih dulu pulang, jadi tidak ada siapapun di sana.


Deg.


Dia tertegun dengan mata terbelalak sempurna. "Wajahnya! Wajahnya kenapa begitu mirip dengan Ayah?" ujar Genta terkejut. Jantungnya pun berdebar kencang seakan mendapatkan kabar mengejutkan.


"Justru aku ingin bertanya kepada Ayah siapa dia, Yah? Kenapa wajahnya begitu sangat mirip dengan Ayah? Apa Ayah punya anak selain aku? Apa Ayah punya istri selain Ibu?" tanya Aditya penasaran. Namun melihat dari wajahnya Naura ia sudah yakin kalau Ayahnya punya perempuan lain. Namun ia tidak tahu alasan ayahnya punya istri lain apa?


Tubuh Genta limbung ingin jatuh, Aditya cepat-cepat menahan tubuh ayahnya.


"Ayah tidak apa-apa?"


"Ka-kamu bertemu dengan dia di mana?" Matanya terus menatap wajah Naura.


"Bukan aku yang bertemu dengannya, tapi Revan yang bertemu dengan dia ketika ibunya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia."


"Ibunya meninggal dunia?" Genta kenbali terkejut, ia menata putranya meminta penjelasan. "Siapa, siapa nama ibunya? Jawab Adit! Kamu pasti tahu?"

__ADS_1


"Farida Luciani."


Deg.


Lagi-lagi Genta terkejut. "Nama itu ... Nama dia .. Dia."


"Dia siapa Ayah? tolong jelaskan kepada atlet siapa dia!" tunjuknya pada Naura, "dan dia yang dimaksud Ayah itu siapa?" Adit ingin tahu tentang masa lalu orang tuanya beserta Naura.


Genta terduduk lesu di kursi yang ada di samping Naura. Kebisingan dari mereka berdua mampu mengusik telinga Naura, gadis itu bisa mendengarnya tapi mata sulit di buka seakan ada sesuatu yang merekat di matanya.


"Ayah, tolong jelaskan padaku! Aku ingin tahu, tidak mungkin ada anak yang begitu mirip dengan Ayah sampai golongan darahnya pun sama."


Genta menunduk, ia mencengkram kuat rambutnya sendiri. Pikirannya kembali menerawang masa lalunya. Dia memejamkan matanya.


"Apa ini yang dimaksud perempuan itu?" Aditya mengambil foto milik Naura dan menunjukkannya kepada ayahnya.


Genta terbelalak. "Dia ..."


"Jawab Ayah! Adit butuh penjelasan dari Ayah sekarang juga!"


"Dia .. Dia istri kedua ayah," jawanya begitu lirih.


"Apa?! Istri kedua? Jadi Ayah telah berselingkuh dari ibu? Ayah telah mengkhianati Ibu?" Aditya kaget, ini yang ia tunggu dari ayahnya, sebuah penjelasan mengenai masa lalu yang mungkin saja tidak ia ketahui.


Genta menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah tidak pernah berselingkuh dari ibumu, Dit. Tapi ibu mu sendiri yang sudah berkhianat pada ayah di saat keadaan kita tidak memiliki apapun."


"Kalau tidak berkhianat apa namanya, Yah? Apalagi sampai menikah, itu namanya berkhianat."

__ADS_1


"Kamu dengarkan dulu penjelasan ayah, ada cerita sebelum pernikahan ini terjadi, Aditya!" jawab Genta menatap putranya. Dia sendiri sedang kacau, apalagi ketika melihat wajah Naura seakan dia teringat akan dosanya yang telah meninggalkan Farida tanpa kabar. Dia bertanya-tanya apa pada saat itu Farida tengah mengandung anaknya? Lalu kenapa Farida tidak datang padanya untuk memberitahukan kehamilannya? Setidaknya jika ia tahu tentang kehamilannya, pasti Genta bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan pada Farida.


"Tolong jelaskan!"


__ADS_2