
"Naura!" Azriel terperanjat bangun dari tidurnya. "Astaghfirullah!" Dia mengusap wajahnya secara kasar. Lagi-lagi dia bermimpi tentang Naura yang pergi meninggalkannya.
"Ustadz, kamu baik-baik saja?" tanya salah satu pengajar yang ada di pondok.
"Iya, aku baik-baik saja." Nafasnya memburu, ia tertidur di ruangan para pengajar. Namun hatinya berdenyut sakit ketika mengingat kepergian Naura yang di bawa pergi oleh orangtuanya. Pergi ntah kemana dan apakah akan kembali lagi atau tidak, Azriel tidaklah tahu. Namun sejak Naura pergi dari hidupnya, ia berubah menjadi pendiam, dingin, dan juga tidak pernah terlihat tersenyum lagi.
Sudah enam bulan berlalu dari kejadian di rumah sakit itu, Azriel kehilangan kontak dengan Naura. Dia menunduk memejamkan matanya.
"Ya Allah, kenapa rindu ini menyiksaku? Aku masih sangat mencintainya, kalau memang kami berjodoh tolong pertemukan dan persatuan kita, ya Allah. Hanya kepadamu kamu meminta, hanya kepadamu kamu berserah. Ya Allah, beri aku petunjuk keberadaannya."
"Eh malah bengong, mendingan cepat ke kamar mandi, tamas, lalu ngajar. Ini waktunya ngajar anak-anak yang sekolah agama Ustadz."
Azriel melirik jam tangannya. "Astaghfirullah sudah jam satu siang."
Setiap hari Azriel hanya mengabdikan dirinya mengajar anak-anak Diniyah dan santri saja. Tidak lagi mengajar santriwati karena ketika ia mengajar suka teringat pada Naura. Kenangan tentang Naura begitu melekat dalam benaknya. Ia tidak bisa melupakan momen suka duka bersama Naura.
*****
Madrasah Diniyah.
Sudah ada sosok gadis yang selalu ada di sana ketika hari kamis dan Jum'at. Dia adalah Khanza yang suka memperhatikan kakaknya saat mengajar dan terkadang suka berbalas pesan dengan seseorang.
Setiap hari kamis dan Jum'at, kegiatan mengajar libur dan ponselnya di kembalikan. Namun ketika Jumat sore sampai Rabu malam ponselnya di tahan di rumah guru mereka.
( "Assalamualaikum, Khanza. Lagi apa?" )
( "Seperti biasa, sedang memperhatikan Kakak ku. Apa kabar dengan Kak Naura?" )
( "Jauh lebih baik dan sekarang tangannya sudah sembuh. Namun sepertinya tidak dengan hatinya yang masih berada di sana." )
__ADS_1
( "Dokter Revan, boleh aku meminta bantuanmu?" )
( "Tentu boleh. Bantuan apa?" )
( "Tolong bantu aku menyatukan Kak Naura dan Kakak aku, ya. Bujuk Kak Aditya untuk mau membantu juga. Aku kasihan sama Kakak aku yang bagaikan mayat hidup." )
( "Hmmm gimana ya? Bantuin gak ya?" )
( "Dokter Revan..." )
( "Tapi ada syaratnya." )
( "Syaratnya apa?" )
( "Kamu harus jadi pacar aku." )
Khanza membelalakan matanya. ( "Astaghfirullah, Dokter! Pacaran hal yang dilarang dalam agama." )
( "Aku sedang bahas kak Naura dan Kakak aku, hei." )
( "Hahahaha, ok, ok. Aku hanya bercanda, kok. Kamu kan sudah ku anggap adikku sendiri. Jadi tidak usah di dengarkan ucapanku. Nanti aku hubungi Aditya dulu. Aku tinggal dulu, ya. Mau menerima pasien. Assalamualaikum." )
( "Waalaikumsalam." )
*****
Kota J
Naura sedang mencurahkan apa yang ada di hatinya tentang memaafkan orang-orang di masa lalunya. Bahkan sampai saat ini dirinya masih belum bisa memaafkan ayahnya, dan yang lainnya.
__ADS_1
"Kak, kenapa sulit sekali memaafkan orang yang telah membuat kita sakit. Bahkan aku pun belum memberikan kata maaf untuk ayah. Apa tindakan ku ini salah?" tanya Naura yang tengah duduk di samping Aditiya. Dia termenung memikirkan perbuatannya. Ia tahu salah, tapi malah di lakukannya.
"Memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita memang terasa sulit, namun ketahuilah bahwa, orang yang kuat dan berjiwa besar mampu melakukan hal tersebut. Pemenang sejati adalah mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. “Memaafkan adalah kemenangan terbaik,” kata sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib.
Soal memaafkan, sesungguhnya tidak ada teladan yang paling baik selain Nabi kita Muhammad SAW. Berbagai perlakuan tidak pantas yang dihadapi Nabi Muhammad selalu diterimanya dengan lapang dada. Ketika Nabi memiliki kesempatan untuk membalas, dia justru memilih memaafkan dan merangkul mereka yang telah menyakitinya, hingga akhirnya banyak diantara mereka yang semula memusuhi beliau kemudian menjadi sahabat dekat dan loyalisnya. Namun, bagaimanapun juga beliau adalah Nabi, yang tentu saja kadar keimanan dan kepribadiannya tidak sama dengan kita manusia biasa.
"Lantas aku harus memaafkan orang berbuat salah hingga berniat menyakitiku? Aku ini hanya manusia biasa, Kak. Hatiku tidak sekuat itu untuk memaafkan kesalahan mereka. Aku bukan Nabi yang selalu memaafkan mereka," jawab Naura pada Aditya.
"Kakak tahu akan sulit bagi kamu memaafkan orang pada saat orang itu begitu mengecewakan dan menyakiti kita, namun kamu harus berusaha ikhlas dan juga bisa memaafkan setiap kesalahan orang lain karena dengan memaafkan hatimu, hidupmu, pikiranmu, dan kesehatan mu akan jauh lebih baik."
"Kakak akan sedikit bercerita tentang seseorang. Ada satu kisah yang manis dan menarik dari kehidupan nyata seorang tokoh kita soal memaafkan ini yang akan penulis ceritakan. Dulu, pada penghujung bulan Januari, tahun 1964, seorang lelaki berusia 58 tahun dijemput oleh 3 orang polisi dan dijebloskan ke penjara atas perintah penguasa ketika itu. Lelaki tua tersebut dituduh dengan berbagai tudingan, yang kemudian hari tidak terbukti samasekali."
"Ketika dalam tahanan, lelaki itu diinterogasi dengan kejam layaknya penjahat, ia juga disebut sebagai penghianat bangsa. Betapa pedih dan remuknya hati lelaki tua itu mendapat perlakuan yang sedemikian rupa. Ia sampai menitikkan air mata mendengar kata-kata yang begitu keji dihadapkan kepadanya. Namun pemahaman iman di dadanya membuatnya bisa tabah menjalani berbagai cobaan."
"Setelah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 2 tahun lebih dengan menanggung serta berbagai sakit di badannya. Dia kemudian dibebaskan dan kembali menjalani hidup secara normal. Dan kamu tahu siapa lelaki tua itu?" tanya Aditya pada Naura.
Naura menggelengkan kepalanya, "tidak Tante, siapa dia?"
"Lelaki tua itu adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang kita kenal dengan Buya Hamka. Kisahnya selama di penjara ditulis oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern, dan kisah lain ditulis oleh anaknya Irfan Hamka dalam buku yang berjudul Ayah, Kisah Buya Hamka. Betapa manisnya kisah pemaaf Buya Hamka tersebut yang tetap dikenang sejarah sampai sekarang."
"Tidak ada sedikitpun dendam dalam hatinya. Keikhlasan dan sifat pemaaf Hamka tersebut ternyata membawa berkah yang tak ternilai. Selama dipenjara, dia berhasil merampungkan tafsir Al-Azhar yang kemudian diakui dan menjadi salah satu rujukan dalam dunia Islam. Karya-karya tulis Hamka tetap dinikmati hingga kini. Namanya dikenang dengan baik sampai sekarang bahkan hingga ke negeri jiran Malaysia."
"Hamka menjadi satu contoh bahwa memaafkan pada akhirnya memenangkan dirinya dan mengharumkan namanya di kemudian hari bahkan setelah ia tiada. Keikhlasan dan sifat pemaafnya patut dijadikan teladan."
“Mereka yang tidak bisa memaafkan orang lain, menghancurkan jembatan yang akan dilewatinya. Hamka telah membuktikan, dia memaafkan dan merajut jembatan untuk dilewatinya hingga ia sampai ke penghujung jalan dengan tenang. Dia melenggang hingga ke akhir hayat tanpa membawa beban dalam jiwanya."
"Selain itu juga Allah maha pemaaf, maka kita sebagai umatnya harus juga memaafkan setiap manusia yang bersalah pada kita. Masalah hukuman biar Allah yang menghukumnya dengan seadil-adilnya. Karena sesuatu yang kita tabur, itu yang akan kita tuai. Tugas kamu sebagai manusia dan muslimah yang baik hanya perlu menjadi sosok yang mampu berjalan sesuai ajaran Allah dan junjungan kita nabi Muhammad Saw. Mungkin memaafkan mudah, namun untuk melupakan cukup sulit karena meski bertahun-tahun lamanya akan selalu terkenang selalu. Namun, kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan demi masa depan yang jauh lebih baik lagi dan bahagia versi kamu sendiri."
"Apa selamanya kamu akan tetap seperti ini? Bagaimana kalau mereka pergi dan kamu belum memaafkan? Nanti kamu akan menyesal sendiri. Perbaikan kesalahan yang pernah terjadi, luaskan kata maaf untuk mereka, dan buka lembaran kamu. Kakak percaya kamu bisa."
__ADS_1
Naura terdiam. "Ayah, Nek Fatimah, Azriel. Aku harus memaafkan mereka."