
Rasa kesal menyelimuti hatinya Azriel, bisa-bisanya neneknya melakukan hal yang tidak pernah ia inginkan. Dari dulu dia paling tidak ingin di jodohkan, tidak ingin di atur, tidak suka di paksa. Kalau hatinya sudah mau maka harus sesuai hatinya, tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Genta, Azriel termenung di belakang pengemudi taksi. Dia menyenderkan kepalanya ke jok sambil memejamkan matanya. Tangannya mengusap kasar wajahnya.
Ada penyesalan menyelimuti relung hati di kala tutur katanya menyakiti keluarganya sendiri. Namun dia juga tidak ingin menerima tawaran itu karena hatinya sudah terpaut pada Naura dan juga sudah menjadi suaminya.
"Astaghfirullahaladzim," gumamnya terus mengucapkan kalimat istighfar dengan harapan mampu menenangkan diri sendiri.
Tidak lama kemudian, taksi yang Azriel tumpangi sampai di rumahnya Naura. Sebelum turun, dia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sesudahnya baru turun, lalu memberikan ongkos buat taksi.
Ada sosok yang memperhatikan mobil taksi itu. Dia yang sedang bercengkrama dengan seseorang di balik telpon menyudahi pembicaraan mereka.
"Nanti gue hubungi lagi, Van. Ada hal penting yang harus gue ketahui dulu," ucapnya pada Revan yang sedang menelponnya. Lalu Aditya mematikan sambungan teleponnya. Dia berjalan ke depan, melipatkan kedua tangannya di dada.
"Tumben lo pulang lagi? Bukannya mau menginap di sana?" Suara Aditya memberhentikan langkahnya Azriel.
Azriel mendongak, ia kaget di tanya secara tiba-tiba. "Assalamualaikum, Bang." Walau bagaimanapun juga, Aditya adalah kakak iparnya. Umur mereka juga terpaut tiga tahun. Dia dua puluh empat, Aditya sendiri dua puluh tujuh.
"Waalaikumsalam. Gue bertanya sama lo, adik ipar. Ngapain pulang lagi?"
"Aku rindu istriku, Bang. Ini malam pertama ku, gak bisa jauh," jawab Azriel cengengesan. Dia tidak mungkin langsung membicarakan tentang masalah yang ia hadapi saat ini. Untuk masalahnya, dia akan menyimpannya dulu.
"Emangnya keluarga mu tidak marah?"
"Sebenarnya marah sih, Bang. Tapi kan aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Naura di saat hati pertama kita. Sudah lima tahun lebih loh kita tidak berjumpa, masa tidak meluapkan segenap rindu yang menggebu? Tidak memanfaatkan situasi sekali aku ini." Azriel terkekeh sendiri membayangkan hal yang tidak-tidak. Ia tidak percaya kalau hari ini telah tiba.
"Ck, dasar ustadz mesum. Gue kira ustadz itu alim, tidak memiliki pikiran mesum seperti dirimu, eh ternyata ngeres. Dahlah sana, temui Naura di kamarnya. Mumpung gue lagi baik, jadinya gue biarkan lo masuk tanpa banyak pertanyaan dulu." Aditya membiarkan Azriel masuk ke dalam. Dia tahu kalau malam ini malam istimewa bagi adiknya, dan ia juga tidak mau memisahkan keduanya.
__ADS_1
"Ustadz juga manusia, Bang. Hmm kalau boleh aku minta, jangan panggil Ustadz ya. Aku tidak seperti ustadz, ilmuku masih di bawah dan juga aku tidak pantas di sebut ustadz karena sikapku yang tidak mencerminkan seorang ustadz." Azriel mengingat lagi kelakuan dirinya sendiri. Padahal dalam Islam tidak dianjurkan untuk melawan orangtua, namum karena sikap neneknya sangat keterlaluan, jadinya Azriel terpaksa melawan dan membela dirinya sendiri.
"Kenapa begitu? Bukannya lo memang ustadz yang suka ngajarin orang ngaji kan? Terus mau di sebut apa?"
"Nama saja, Bang."
"Masa gue manggil lo nama sih, heran banget deh."
"Enggak nama juga, Bang. Tapi Azriel. Masa ia manggil nama ... Nama kemari, kan gak enak."
"Hahaha iya juga, ya. Dah ah sana, gue lagi ada urusan di luar." Lalu Aditya pergi dari sana. Dia menaiki motor kesayangannya. Azriel pun melanjutkan lagi tujuannya.
Setibanya di dalam rumah, ia tidak melihat keberadaan mertuanya. Sekilas ia melihat jam dinding, lagi-lagi menghela nafas. Jarum jam menunjukan pukul sembilan malam, pasti Naura sudah tidur, begitu pikirnya. Di sekitar juga tidak melihat adanya Genta, bahkan tidak melihat kegiatannya.
"Papa juga tidak kelihatan, mungkin sudah tidur atau lagi kerja." Berhubung tidak ada seseorang, jadinya Azriel melangkah masuk ke lantai dua tempat kamar Naura berada. Sebelumnya ia sudah di beri tahu kalau kamar Naura ada di atas, jadinya mudah baginya menemukan kamar di saat tidak ada seseorang di sana.
"Astaghfirullah, Azriel. Jangan berpikir kotor apa-apa." Dia mengusapkan kasar tangannya ke wajah.
Namun karena ingin beristirahat dan banyak bercerita dengan Naura, Azriel mengetuk pintu kamar Naura.
Tok .. Tok .. Tok ...
Sosok yang ada di dalam kamar mengerutkan keningnya. Ia yang belum bisa tidur karena memikirkan Azriel, bertanya-tanya siapa yang sedang mengetuk pintunya.
Karena merasa itu adalah ayah atau kakaknya. Naura beranjak dari ranjang tanpa mengenakan hijabnya dan mengenakan baju tidur panjang gambar helo Kitty.
"Iya, tunggu sebentar!" Lalu setibanya di dekat pintu, Naura membukanya.
__ADS_1
"Apa si ..." dia tertegun sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya. Pun dengan Azriel yang juga diam terpaku pada wajah cantik Naura dengan rambut panjangnya yang tergerai indah. Untuk pertama kalinya ia melihat Naura tanpa hijab.
"Ka-kamu?" mendadak gugup, itu yang Naura rasakan saat ini. "Kapan kamu pulang? Bukannya kamu mau menginap di rumah keluarga kamu? Terus keadaan nenek kamu bagaimana?" cerca Naura tanpa berhenti meski keadaannya sedang dilanda kegugupan yang hakiki.
"Kamu cantik," celetuknya lain dari arah pembicaraan Naura.
"Hah, apa?!" Naura memekik.
"Eh, Astaghfirullah! Tadi kamu bilang apa?" Azriel tersadar, ia malu sendiri ketahuan mengagumi kecantikannya Naura.
Naura memanyunkan bibirnya kesal. "Jadi dari tadi aku bicara banyak kamu tidak mendengarkan aku? Kuping kamu kemana sih? Aku tuh bertanya kenapa kamu bisa pulang kesini? Bukannya kamu akan menginap di sana? Terus bagaimana keadaan nenek kamu?" Naura mengulang lagi pertanyaannya tadi.
Azriel menghela nafas, ia masuk ke dalam dan tiba-tiba memeluk Naura. Naura tertegun tubuhnya gemetar merasakan pelukan hangat dari Azriel.
"A-Azriel," lirihnya bingung harus apa.
"Biarkan begini saja dulu, Nau. Aku sedang gelisah, aku ingin kenyamanan." Azriel menghirup aroma yang ada di tubuh Naura. Wangi vanilla yang begitu menenangkan dan juga lembut membuatnya nyaman.
Naura membiarkan Azriel memeluk dirinya, bahkan sampai Azriel menutup pintu secara perlahan, Naura tetap diam dalam pelukannya Azriel.
Merasa puas dengan pelukannya, Azriel melepaskan Naura dan ia menempelkan keningnya ke kening Naura. "Maaf tiba-tiba memeluk kamu."
"Kenapa?" tanya Naura begitu lembut. Azriel menuntun Naura ke sisi ranjang, lalu mengajaknya duduk. Ia menggenggam kedua tangan Naura dan menatapnya.
"Apa aku salah menolak permintaan nenekku?"
"Permintaan apa emangnya?"
__ADS_1