
Keesokan harinya
Pemakaman
Hujan rintik mulai turun membasahi tubuh lemah sang gadis dan juga membasahi tanah seakan ikut hanyut dalam kesedihan yang Naura rasakan. Seiring derasnya hujan, tangis Naura semakin pecah, dia sesegukan memeluk makam sang ibu, tak peduli dengan hujan yang terus membasahi tubuh lemahnya. Rasa kehilangan sosok yang ia sayangi begitu menyakitkan. Rasa tak percaya masih hadir menyelimuti dirinya. Baru saja kemarin dia bertemu ibunya lagi, baru saja kemarin dia bermanja-manja pada ibunya, tertawa bahagia bareng ibunya, namun kini harus sirnalah sudah terhapus takdir dari Allah.
Sepanjang malam tiada hentinya Naura menangis, matanya pun terlihat bengkak sekali dengan rasa pusing ia rasakan. Kepalanya menunduk dengan mata terpejam, tak ada air mata yang jatuh namun kesedihan terus ia rasakan.
"Ya Allah, apa salahku sehingga engkau ambil keluargaku? Hanya ibuku yang aku miliki di dunia ini, hanya dia yang ku punya, tapi kenapa engkau malah mengambilnya dariku? Ya Allah, aku tidak pernah menduga jika engkau akan mengambil ibuku secepat ini. Jika memang ini adalah garis takdir, aku akan mencoba ikhlas meski hatiku belum siap kehilangannya," jerit hati Naura menangis pilu.
Kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup seseorang, tetapi Allah selalu mempunyai rencana lain untukmu. Ikhlaskan, mungkin itu yang terbaik untuk hidupmu.
"Nak, sebelum ibumu mengalami musibah ini dia menitipkan sesuatu pada saya," kata Bu nur yang masih setia berada di sana. Ia tidak tega melihat Naura sendirian menangis diam.
Naura melepaskan pelukannya pada batu nisan, lalu ia mencoba berdiri. "Ibu menitipkan apa?"
"Lebih baik kita pulang dulu, hujan semakin deras, tidak baik buat kesehatan kamu saat ini. Jangan menyiksa diri kamu sendiri, semuanya sudah terjadi dan ini ujian buat kamu."
Naura mengangguk dan dengan berat hati dirinya meninggalkan pemakaman itu. Bu Nur merangkul pundak Naura membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Langkah Naura begitu lemah, kepalanya menoleh ke belakang menatap dulu bertulisan bertuliskan nama ibunya sendiri. Lagi-lagi hatinya terenyuh sakit ketika kini tidak ada lagi sosok yang akan menjadi tempat ia bersandar.
"Ibu maafkan Naura belum bisa menjadi anak yang berbakti pada Ibu. Naura minta maaf belum bisa bahagiakan ibu?" ucapnya dalam hati. "Selamat jalan, Bu. Naura akan ikhlas membiarkan ibu pergi duluan meski hati kecilku belum siap."
*****
Sesampainya di kontrakan yang di tinggali Farida, Naura dan Bu Nur masuk. Keduanya duduk secara lesehan karena tidak ada kursi di sana.
"Naura, kemarin pagi, sebelum kejadian itu menimpa ibu kamu. Beliau menitipkan ini pada ibu. Entah apa isinya, saya sendiri tidak tahu. Ketika saya bertanya pada ibumu ini apa, beliau hanya bilang sebuah kenyataan tentang kamu." Bu Nur memberikan sebuah amplop coklat pada Naura.
Gadis itu menatap amplopnya, ia penasaran kenyataan apa yang di maksud ibunya.
"Sama-sama, Naura. Kalau begitu saya permisi dulu." Ibu Nur pun pamit pergi dari kontrakan itu.
Selepas kepergian Ibu Nur dari kontrakannya, Naura menggapai amplop itu dan cepat-cepat membuka isinya.
Matanya terus memperhatikan setiap benda yang ada di dalam amplop. Sebuah foto dua orang yang tengah menjalani pernikahan sederhana dengan pria menjabat tangan penghulu.
"Ibu? Ini ibu kan? Lalu siapa pria itu?" Naura bertanya-tanya tentang apa maksud dari foto itu. Lalu Naura mengambil kertas putih yang dilipat, kemudian membukanya.
__ADS_1
Dalam hatinya Naura membaca setiap tulisan tangan ibunya.
Assalamualaikum Naura sayang, mungkin ketika kamu membaca surat ini Ibu sudah tidak ada di sampingmu. Sayang, selama ini kamu selalu bertanya Siapa ayah kandung kamu? Dimana dia berada, dan kenapa kita hanya hidup berdua. Namun ibu selalu bilang kalau ibu tidak tahu siapa ayah kandung kamu dan beralasan kalau kamu anak hasil dari ibu menjadi wanita malam.
Nak, maafkan ibu yang sudah menyembunyikan kenyataan ini dari kamu. Maafkan ibu yang tidak jujur siapa ayah kandung kamu yang sebenarnya. Ibu melakukan ini karena ibu tidak mau kamu terus bertanya tentangnya, tentang pria yang sudah membohongi ibu selama ini.
*Naura, sayang. Sebenarnya kamu bukan anak haram, kamu hadir di saat ibu sudah menikah dengan sosok pria yang ada di foto itu. Pria yang ibu cintai sampai menghadirkan kamu dari rahim ibu. Namun ternyata, sebelum pria itu menikahi ibu, dia sudah menikah dan punya anak dan dia pergi ninggalin ibu tanpa pamit dan juga tanpa kabar yang pasti. Padahal pada saat itu ibu ingin bilang kalau kamu sudah hadir dalam perut ibu, tapi takdir tidak berpihak pada ibu. *
*Hingga suatu hari, ibu melihat dia bersama wanita dan seorang anak kecil yang ternyata adalah anak dan istrinya. Sejak saat itu ibu tidak lagi mau berurusan dengan dia dan tidak mau memberitahukan keberadaan kamu. *
*Naura, kalau suatu hari ibu sudah tidak ada di dunia ini, carilah dia, Nak. Cari ayah kandung kamu karena kelak dia yang akan menjadi wali sah nikah kamu dan hanya dia yang kamu miliki. Maafkan ibu telah menyembunyikan kenyataan ini selama 23 tahun lamanya. Maafkan ibu tidak bisa berkata jujur pada kamu, maafkan ibu telah berbohong siapa ayah kandung kamu. *
*Asal kamu tahu, Nak. Kehancuran hati ibu yang menyebabkan ibu mengambil jalan pintas demi bisa menghidupi kamu. Kita yang tidak punya apa-apa membuat ibu terpaksa menjadi wanita panggilan. Namun, sejak kamu pergi meninggalkan ibu, ibu tidak lagi bekerja di sana dan ibu mencari uang halal untuk kamu. *
*Maafkan ibu yang sudah menafkahi mu dengan uang haram, maafkan ibu yang telah membesarkan dengan uang hasil jual diri, maafkan ibu, Naura. Sebagai penebus rasa bersalah ibu padamu, ada sedikit tabungan buat kamu kelak. Mungkin itu tidak seberapa, tapi itu adalah yang halal yang ibu kumpulkan dari kerja menjadi pelayan warung. *
Sekali lagi maafkan ibu dan pria yang sedang berada di samping ibu adalah ayah kandung mu. Kami menikah siri dan carilah dia, Nak. Maaf, maaf, ibu sangat menyayangi mu, jantan benci ibu, Naura.
Air mata yang tadi sudah berhenti kini kembali mengalir lagi. "Huaaaa, ibuuu..." jerit Naura menangis meraung memeluk amplop yang berisi foto, buku tabungan, dan juga secarik surat tadi.
__ADS_1
Ternyata dia bukan anak hasil hubungan haram, ternyata dia hadir atas hubungan yang sah dan ternyata ia punya ayah kandung. Rasanya begitu sesak mengetahui kenyataan ini. Kenyataan yang ternyata sulit ia terima meski ia tahu semua ini pasti akan terjadi juga. Namun ternyata kenyataannya begitu menyakitkan.