
Tidak hanya Khanza yang kaget atas adanya Azriel di sana, tapi juga Naura yang juga sama-sama kaget namun juga senang bisa bertemu dengan sosok yang selalu hadir dalam mimpinya.
"Perhatian semua, mulai hari ini akan ada guru baru yang akan mengajar di sini. Beliau adalah ustadz Azriel seorang ustadz muda lulusan Kairo, Mesir. Silahkan ustadz, waktu dan tempatnya di persilahkan untuk memulai mengajar," kata ustadz Ali.
Ustadz muda itu tersenyum ramah dan senyumnya pun mampu membius mata yang melihatnya.
Khanza dan Naura saling lirik. "Ustadz!" keduanya sama-sama nampak terkejut kala mendengar ucapan Ustadz Ali yang bilang kalau Azriel seorang ustadz muda.
"Ini seriusan kakak kamu jadi seorang ustadz? Emangnya kalau lulusan Kairo bakalan jadi ustadz ya?" tanya Naura yang memang tidak tahu apapun tentang pendidikan di sana.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Bunda sama Ayah tidak pernah membahas masalah ini. Mereka hanya bilang kalau Kakak itu kuliah disana, ngambil jurusannya pun aku tidak pernah tahu. Mau banyak cerita gimana, kan aku hanya berbicara lewat ponsel saja dan itupun ketika libur sekolah. Selama ini aku dan kakak tidak bertemu secara langsung begini. Aku saja kaget kakak ternyata jadi seorang ustadz." Khanza memang sering bertukar kabar dengan kakaknya lewat ponsel, tapi kalau bertemu secara langsung baru kali ini dia melihatnya. Selama Azriel menempuh pendidikan jauh, jarang sekali keduanya bertukar kabar karena memang peraturan disana sangatlah ketat. Jika ingin berkunjung harus ada izin dulu.
"Jadi sekarang dia ngajar di sini?" Naura masih tidak percaya kalau ini tidaklah mimpi, sosok yang selalu ada dalam mimpinya kini berada di depan mata dengan tubuh tinggi, kulit putih, wajah di tumbuhi bulu-bulu halus, semuanya serba berubah namun tidak dengan rupa yang masih sama. "Dia tampan sekali, gagah pula, aku semakin mengaguminya."
Sepanjang materi yang dibawakan Azriel berlangsung, mata Naura tidak sedikitpun beralih dari pandangannya. Sosok yang ada di hadapannya begitu menghipnotis mata dia yang seakan tidak ingin melewatkan setiap gerakan dari pria itu. Jantungnya pun semakin berdetak kala mengingat bahwa pria inilah sang pemilik tasbih yang seringkali genggang dalam ibadahnya.
Dunianya seakan hanya tertuju pada sosok tampan nan menawan yang ada di hadapannya. Tujuannya kini bertambah ingin menjadi wanita yang pantas untuk menjadi pendampingnya. Bolehkan Naura berharap dan bermimpi menjadi istri dari ustadz muda di depan sana? Ingin sekali ia teriak dan memberitahukan pada semua orang kalau dia menyukai pria itu. Pria yang dulu pernah menolongnya, pria yang pernah membantunya dan merawat dirinya ketika dalam keadaan kritis, pria yang berhasil menyentuh hatinya sejak tahu kalau pria itu peduli padanya. Ingin sekali Naura bilang kalau dia menyukai dari dulu, namun Naura tidaklah tahu cerita selanjutnya akan seperti apa.
Khanza yang ada di samping Naura menatap Naura. "Tatapannya gitu banget, Kak. Apa kakak aku sangat tampan ya?" bisik Khanza menggoda Naura.
Naura tetap menatap ke depan. "Banget, seperti pangeran yang tampangnya semakin lama di pandang semakin betah."
Sampai gulungan kertas yang entah datang darimana mengalihkan perhatian keduanya. Mereka berdua menoleh mencari siapa yang sudah melemparkan mereka kertas putih.
"Siapa sih yang sudah melempar kita kertas?" tanya Naura.
__ADS_1
"Tidak tahu. Sepertinya mereka iseng." Lalu Khanza dan Naura menunduk mencari kertasnya yang ternyata ada di bawah mereka.
Belum juga mereka mengambil gulungan kertas itu, sudah ada teguran dari depan saja yang tak jauh darinya.
"Kalian berdua ngapain celingukan ke bawah? Apa kalian tidak memperhatikan pelajaran yang saya jelaskan?" ujar pria yang ternyata sudah ada di dekat duduk Naura dan Khanza.
Naura mendongakkan kepalanya, ia di buat melongo melihat orang yang ada dihadapannya. "Ganteng sekali," gumamnya sampai tidak berkedip. Dan untuk sesaat keduanya saling pandang hingga suara deheman Khanza mengalihkan pandangan Azriel namun tidak dengan Naura.
"Khhmm, aduh siapa ya yang sudah lempar kertas pada kita? Apa mereka tidak takut kena hukum?" celetuk Khanza.
"Kamu dan teman kamu maju ke depan!" katanya mempersilahkan Naura dan Khanza ke depan sana.
"Hah!" Naura dan Khanza saling pandang di buat tidak mengerti.
"Maksudnya gimana ustadz? Kita di hukum gitu?" seru Naura mengeluarkan kebingungannya.
"Hah! Ini .. Ini agak aneh, deh. Kita tidak melakukan apapun, tapi kenapa kita di hukum ya? Perasaan yang melempar kertas bukan kita berdua, ia kan Khanza?"
"Betul Ustadz, kertasnya berasal dari belakang. Kami tidak tahu apapun tahu." Khanza memberenggut manyun dan juga kesal sikap kakaknya terlihat sekali berbeda. Malah tidak menunjukan kerinduan terhadap adiknya dan terlihat seperti orang asing.
"Tapi kertas itu ada di kalian kan? Dan karena kertas itu juga kalian berdua tidak memperhatikan saja."
"Dih, gak jelas banget ni ustadz satu, main hukum tanpa mencari tahu dulu siapa yang lempar. Sungguh di luar ekspektasiku, tahu." Naura pikir Azriel bakalan bersikap lembut, menyenangkan, dan bisa saja ramah pada mereka berdua. Namun kenyataannya berbeda kalau ternyata semuanya tidak seindah ekspektasi.
"Apa mau hukumnya di tambah lagi?"
__ADS_1
"Ja-janganlah, masa gara-gara kertas di hukum yang berat? Ok, aku maju ke depan." Naura mengalah karena ia tidak mau dapat hukuman lebih dari itu.
Khanza menatap Azriel dengan tatapan memohon. "Maju!"
"Ck, menyebalkan." Mau tidak mau Khanza pun ikutan maju ke depan dan berdiri di samping Naura.
Azriel melipatkan kedua tangannya di dada. "Kalian ulang lagi pelajaran yang barusan saya jelaskan secara silih berganti!"
Naura melirik Khanza. "Kita bahas apa? Aku tadi tidak mendengar jelas saking fokusnya menatap ustadz nyebelin itu." Naura mendengus kesal dengan lirikan mata mendelik tajam ke arah Azriel.
"Mana aku tahu."
"Kenapa malah berbisik-bisik? Cepat jelaskan!" ke tegasan dan kegalakan Azriel dalam mengajar membuat orang-orang yang ada di sana pada ketakutan. Mereka pikir ustadz baru itu ramah, tapi ternyata galaknya minta ampun.
"Tadi Ustadz bahas apa ya?" tanya Naura memberanikan diri.
"Masih bertanya? Mana saya tahu, kalian harus menjelaskannya! Makanya kalau orang lagi ngajar ya di dengar, jangan asik sendiri."
"Kasih satu klu saja, Ustadz." Naura memelas.
"Bab nikah dan kalian harus menjelaskannya!"
"Bab Nikah? Aduh, gimana jelasinnya Ustadz? Kan saya belum nikah. Jadi masih polos," celetuk Naura.
"Astaghfirullah. Masa di suruh jelasin bab nikah harus nikah dulu? Terus kalau di suruh menjelaskan bab setelah kematian kamu juga harus merasakan mati dulu, gitu?" Azriel menggelengkan kepalanya tidak habis pikir oleh pikiran Naura.
__ADS_1
"Ya kali. Biar tahu rasanya secara langsung," jawab Naura enteng. Khanza menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah!"