Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 42 - Aku akan berjuang


__ADS_3

Lari menghindari Umi Qulsum adalah hal yang Naura lakukan saat ini. Tidak terbayangkan sebelumnya jika ia akan mendapatkan kabar mengejutkan ini. Kabar yang membuatnya patah hati sekaligus merasa di bohongi oleh sosok pria yang mengatakan akan meminangnya.


Tak pernah terbayangkan akan begini jadinya. Tak pernah ia duka kalau ternyata kedatangan pria itu ke pondok hanya untuk melihat calon istrinya. Tak pernah ia sangka kalau Azkia yang ia anggap teman dan juga tidak pernah menunjukan ketertarikan pada Azriel adalah sosok yang akan di jodohkan dengan pria yang ia sukai. Namun satu hal yang membuatnya kecewa, baik Khanza ataupun Azriel tidak pernah cerita perihal perjodohan ini.


Azriel yang bilang akan meminangnya ternyata sudah di jodohkan, tapi kenapa bilang mau datang melamarnya? Itu yang Naura pikirkan. Lalu Khanza yang selalu mendukung apa yang Naura bilang tentang kakaknya, tidak pernah bilang juga kalau Azriel sudah di jodohkan. Sikap Azriel dan Khanza membuat Naura kecewa dan merasa di bohongi oleh keduanya.


Gadis berperawakan tinggi, berkulit putih bersih, memiliki mata bulat dengan bulu mata yang lentik itu berlari ke arah belakang pondok, tempat dia sering menikmati kesendiriannya dan di temani oleh hamparan sawah yang luas.


Duduk di batu seorang diri, menangis dalam diam itulah yang Naura lakukan. Pikirannya sempat kacau oleh perkataan Fatimah.


"Apa aku yang terlalu berharap sampai mereka semua membohongiku? Apa perasaan yang aku miliki ini salah? Apa aku tidak akan bisa menjadi makmumnya? Apa memang aku tidak pantas untuknya sampai perihal ini di sembunyikan dariku?" lirih Naura menunduk sembari menutupi wajahnya. Ia terisak dalam keadaan kecewa.


Dan kenapa perasaan yang ia miliki untuk pria itu setiap hari semakin berkembang. Meskipun ia tahu kalau perasaan ini adalah kelemahannya, tapi anehnya terus saja tumbuh meski jarang berinteraksi.

__ADS_1


Dan sekarang dia harus apa? Apa mundur? Atau terus baju memperjuangkan perasaan yang dia miliki meski harus ditentang oleh keluarga dari prianya. Dalam hidupnya, ini kali pertama Naura merasakan yang namanya jatuh cinta dan berkembang begitu dahsyatnya.


Cinta yang terkadang sering ia agungkan dalam setiap sujudnya, cinta yang sering ia harapkan dalam setiap harinya. Ketika cinta bertasbih yang hadir dalam kehidupannya. Dalam artian, ketika dia mencintai seseorang maka berdzikir dan berdoa meminta pada sang pemilik alam untuk menyatukan hubungan mereka.


Namun siapa sangka kalau cinta ini ternyata membuatnya kecewa sebelum menepi. Kecewa karena ternyata sosok yang ia harapkan sudah di jodohkan orang lain.


"Cinta memang membuat orang lemah tidak berdaya, kini cinta ini juga membuatku kecewa. Ya Allah, aku hanya ingin mendapatkan cinta dari sosok lelaki yang memang ku inginkan." Dalam kesendiriannya, Naura terus meracau sendiri dan mengingat setiap jalan kehidupannya hingga saat ini.


Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari pria. Baik ayahnya ataupun pasangan. Pasangan memang tidak pernah merasakan yang namanya pacaran, namun berteman mungkin banyak.


Dan sekarang sudah ada sosok pria yang ia inginkan dan berharap bisa mendapatkan kasih sayangnya, ternyata malah mengecewakannya.


"Tidak, kamu harus cari tahu dulu sebelum menyimpulkan sendiri. Tidak mungkin Khanza bohong sama aku, tidak mungkin Azriel menyembunyikan ini. Aku haru harus mencari tahu dulu." Naura mengusap air mata yang ada di pipi putihnya. Ia ingin memastikan dulu semua kebenarannya dan tidak ingin gegabah dalam menilai sesuatu.

__ADS_1


Ia pun berdiri hendak kembali ke kobong untuk bertemu Khanza, namun baru saja melangkah ada sosok yang sedang berdiri di sampingnya.


"Jadi kamu bersembunyi di sini?" kata wanita itu yang ternyata adalah Fatimah. Dia ingin memberikan peringatan untuk Naura lagi. Apalagi melihat raut wajah Naura yang sedih membuatnya yakin kalau Naura menyukai cucunya


"Maaf, aku mau kembali ke dalam." Naura hendak menghindari, tapi Fatimah merentangkan kedua tangannya menghalangi Naura pergi.


"Saya tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum mendengarkan ucapan saya. Kamu ..." Fatimah menunjuk bahu Naura dan meletakkan telunjuknya ke bahu Naura. "Tidak pantas menjadi pendamping Azriel. Cucuku itu seorang pria lulusan Kairo yang seharusnya memiliki pendamping anak yang Solehah, baik, masih bersih dari dosa, bukan kamu yang seorang perempuan dari kalangan kotor. Kamu dan Azriel tidak pantas bersanding. Kalian itu berbeda, kalian tidak sama, dan kalian bukan jodoh. Jadi saya peringatkan untuk menjauh dari cucu saya karena dia sudah saya jodohkan dengan perempuan yang jauh lebih baik daripada kamu!" ujar Fatimah penuh penekanan dengan sorot mata tajam.


"Astaghfirullah." Naura mengucap istighfar untuk menahan emosi yang mampir padanya. "Saya tahu kalau aku ini bukan wanita suci, masa laluku yang buruk mungkin jadi pertimbangan Anda. Namun, aku juga manusia biasa yang terkadang punya salah dan khilaf. Aku juga tahu kalau pendidikan aku, ilmu aku, tidak sebagus Azkia ataupun Azriel. Namun, untuk masalah hati aku serius dan tidak pernah main-main. Aku tahu kalau Anda tidak menyukai aku, tapi bukan berarti aku tidak pantas bersanding dengan sosok sempurna seperti cucu Anda. Kalau kita mencari yang sempurna sampai kapanpun tidak akan menemukannya. Aku juga tahu kalau aku ini bukan manusia suci, tapi apakah Anda tidak bisa memaafkan kesalahan aku dan memberikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku mampu menjadi pendamping terbaik untuk Azriel? Allah saja maha pemaaf, maha pengampun, dan maha pemberi kesempatan pada umatnya. Lalu kenapa Anda tidak bisa memberikan itu semua sedangkan kita ini makhluk yang sama dan ciptaan Allah juga?" Bukan Naura jika tidak bisa membalikkan sebuah pertanyaan pada orang yang menekannya.


"Saya ini bukan Allah yang selalu menerima dan memberikan kesempatan buat kamu. Dan saya peringatkan untuk menjauh dari kehidupan Azriel karena dia sudah akan menikah dengan jodoh terbaik pilihan saya. Azriel sudah setuju dan kamu jangan berharap bisa menjadi anggota keluarga saya! Jangan harap! Cam kan itu!" Fatimah menekankan setiap perkataannya yang selalu saja meminta Naura untuk tidak mendekati Azriel.


"Tapi aku tidak akan mudah menyerah begitu saja sampai Allah sendiri yang menunjukan jalan terbaik buat kita.Aku akan berjuang demi perasaan kita, dan aku akan tunjukan kalau aku bisa menjadi sosok yang pantas untuk Azriel .Aku yakin kalau cucu Anda tidak akan pernah bohong yang mengatakan jika dia akan datang melamar ku pada ibuku. Dan aku akan menagih ucapannya." Biarlah dia di bilang egois karena cinta terkadang nekat.

__ADS_1


"Apa? Cucuku akan datang melamarmu? Jangan mimpi!"


__ADS_2