
"Aku pun tidak tahu, Kak. Tapi semoga saja Nenek menyetujui kamu dan juga kakak ku. Aku yakin kalau kalian berdua di takdirkan bersama. Pokoknya aku dukung kamu dan juga kakak aku." Meskipun Khanza tahu kalau neneknya tidak suka sama Naura, tapi dia berharap kalau Naura menjadi kakak iparnya.
Kepribadian Naura sebenarnya baik, namun karena memang tumbuh di lingkungan yang kebanyakan mayoritas penduduk seorang pembuat dosa, jadinya Naura sering berbuat hal yang juga menjadi salah satu dosa untuknya. Namun demikian, Khanza tetap meyakini dan juga merasa kalau Naura yang akan cocok menjadi istri dari kakaknya.
"Mudah-mudahan saja, ya. Tapi sekarang kita di pisahkan jarak. Dia ada di pondok pria cukup jauh dari sini, dan aku ada di sini. Lagi-lagi kita terpisah." Naura menghela nafas kasar.
"Jadi kalian di hukum?" kata Khanza baru tahu kalau kakaknya dipindahkan.
"Ya begitulah, kita kena hukum karena fitnah yang tidak benar-benar nyata."
"Sungguh bikin kesal, padahal kan kalian tidak melakukan apapun. Aku percaya itu." Meskipun Khanza tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, tapi ia yakin kalau kakaknya dan Naura tidak berbuat apapun.
"Tapi tetap saja mereka memberikan hukuman itu."
"Hei kamu, Naura. Kalau kamu mau berisik mendingan di luar sana! Ini tempat buat menuntut ilmu, bukan untuk banyak bicara bergosip ria." Siapa lagi yang bisa bicara sinis kalau bukan Anissa.
"Baik Ustazah yang paling mulia." Meskipun Naura merasa kesal karena itu adalah orang yang sudah membuatnya kesal karena fitnah darinya, tapi Naura tetap mencoba menghormati perempuan itu.
Tidak ada pembahasan lain lagi selain pembicaraan tentang pelajaran yang sedang berlangsung. Semua murid terus mendengarkan selagi itu adalah ilmu yang harus di serap.
Setiap hari, setiap saat, kegiatan di pondok lebih banyak belajar ilmu agama, belajar memahami isi Alquran, belajar memahami isi kitab-kitab, dan juga masih banyak lagi hal yang tengah para santri pelajari.
*****
Selesai sudah kajian yang diberikan oleh Anissa, para santriwati membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka istirahat. Ada pula yang sibuk mandi sore, masak, dan berbagai macam kegiatan banyak dilakukan oleh mereka.
"Khanza, aku mau ke rumah umi Qulsum dulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan tentang hukuman yang diberikan padaku. Kamu mau ikut aku atau tidak?" Naura menyimpan kitab-kitab kuning yang ia bawa tadi ke tempat semula. Keduanya sedang berada di dalam kamar mereka yang selalu menjadi tempat beristirahat ketika lelah.
__ADS_1
"Sebenarnya ingin sih, tapi ada hapalan yang harus aku hapalkan buat besok. Kakak kan tahu kalau Ustazah Asiah itu tegas, kalau tidak hapal pasti kena hukuman," jawab Khanza sambil membuka buku bertuliskan arab.
"Ya sudah, kalau gitu aku saja sendiri. Aku tinggal dulu, ya." Terpaksa Naura pergi sendirian.
"Hati-hati, Kak."
"Hei, aku ini lagi sedang ingin berkunjung ke rumah Umi, bukan mau pergi jauh, ya."
"Ya pokoknya hati-hati saja. Semoga Allah selalu melindungi kakak dan semoga Allah selalu membuat kakak bahagia dengan segala rahmatnya, aamiin."
Naura tersenyum. "Aamiin, semoga spa yang kamu ucapkan kembali lagi pada kamu. Aku turun dulu."
Khanza mengangguk.
*****
Kaki yang terbalut kais kaki beralaskan sendal jepit terus melangkah menuju rumah Umi Qulsum. Saat hendak mengucapkan salam, Naura melihat sosok yang ia kenal, dia adalah Neneknya Khanza.
"Itu kan neneknya, Khanza. Kenapa ada di sini? Khanza tidak bilang kalau neneknya berkunjung." Namun karena ada hal yang ingin di bahas, Naura terus melangkah dan tiba di dekat pintu.
Akan tetapi dirinya tertegun ketika Fatimah mengutarakan niat kedatangannya ke pondok.
"Qulsum, sebenarnya kedatangan ku kesini hanya untuk membicarakan perihal perjodohan cucuku dan juga cucumu. Aku sudah tertarik pada Azkia sejak awal melihatnya dan ingin menjodohkan dia dengan Azriel, cucuku. Mere sangat cocok."
"Ini masalah yang cukup serius, Fatimah. Aku harus membicarakan ini pada Ali dan Asiah selagi orangtuanya Azkia dan juga harus bicara sama Azkia yang akan melakukan perjodohan ini. Meskipun aku senang kalau mereka berjodoh." Umi Qulsum nampak terlihat senang. Namun tidak mau gegabah dulu.
Fatimah pun tersenyum senang jika apa yang ia inginkan akan terwujud. "Kalau kamu sudah setuju, pasti anak mu dan cucumu akan setuju juga. Pokoknya Azkia harus jadi cucu mantuku. Dia adalah pasangan yang terbaik untuk Cucuku."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Azriel sendiri? Apa dia mau menerima perjodohan ini?"
"Tentu saja dia akan mau karena Azriel itu anak penurut. Jadinya dia akan menerima perjodohan ini, toh Azriel sudah tahu."
Deg
Naura yang diam menguping pembicaraan keduanya terhenyak penuh keterkejutan. "Azriel tahu tentang perjodohan ini? Tapi kenapa dia bilang akan datang meminang ku?" Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak mendengar kabar mengejutkan ini.
"Alhamdulillah, itu artinya Azriel setuju sama perjodohan ini. Kalau gitu tinggal bertanya sama Azkia."
"Semoga Azkia pun bisa menerimanya. Itulah sebabnya Azriel mengajar di sini supaya dia tahu tentang kian terutama tentang Azkia, calon istrinya. Azriel kesini juga atas perintahku yang mengatakan kalau ilmu harus di amalkan. Dan sekarang dia ada di sini."
Naura baru tahu jika alasan Azriel berada di pondok adalah untuk menilai sosok calon istrinya. Ia semakin kecewa karena pria itu dan juga Khanza tidak bilang masalah ini padanya.
Hatinya terasa sakit dengan dada yang tiba-tiba sesak mendengar kabar dari Fatimah. Dia yang sudah tahu jika Fatimah membencinya akan selalu berbuat sesuatu untuk Azriel, mungkin termasuk menjodohkan pria itu dengan cucu umi Qulsum.
"Kenapa rasanya se sakit ini mendengar dia mau di jodohkan dengan Azkia? Kenapa juga dia tidak bilang dan malah mengatakan mau datang meminangku? Kenapa Khanza juga tidak bilang apapun tentang hal ini semu?"
Perlahan tubuh Naura mundur dengan rasa yang terdapat menyesakkan dada. Sosok yang ia idamkan akan di jodohkan dengan salah satu orang yang juga dekatnya.
Bruk!"
Tidak sengaja Naura menyenggol pas bunga sampai dua perempuan yang ada di dalam menoleh pada asal suara.
"Naura!" ucap Umi Qulsum dan Fatimah bersamaan. Namun berbeda dengan raut wajah Fatimah yang tengah menatap sinis padanya.
"Maaf Umi, permisi. Assalamualaikum." Naura berlari tidak jadi membicarakan sesuatu yang ingin di bicarakan. Pikirannya lagi bingung dan juga dadanya terasa sesak me dengar pria pujaannya akan di nikahkan dengan orang lain.
__ADS_1