
"Kau kan perempuan yang sering menjenguk Naura dan sering banget bilang kakak pada pria itu? Ngapain?" tanya Revan ketika tahu kalau Khanza sering bicara sama Naura di saat sedang berduaan dengan Naura.
"Aku adiknya Kak Azriel sekaligus teman satu pondok Kak Naura. Aku bertanya kalian berdua ada hubungan apa dengan Kak Naura? Tadi pria berbaju kemeja merah ini bilang kak Naura adiknya? Maksudnya apa? Kamu juga Dokter, kamu kenal kak Naura?" cerca Khanza memicingkan matanya menatap curiga. "Atau kalian berdua mau macam-macam saja Kak Naura? Mau berbuat jahat?"
"Siapa bilang kita mau berbuat jahat kepada Naura? Justru aku mau membawa Naura pulang ke rumah," kata Aditya.
"Berarti kamu mau berbuat jahat."
"Mana ada kakak jahat sama adiknya, ngaco kamu," kata Revan.
"Makanya jelaskan siapa kalian berdua biar aku tidak suudzon terus kepada kalian. Aku perlu tahu siapa kalian dan ada hubungan apa dengan Kak Naura. Aku dan keluargaku tidak akan mungkin begitu saja memberikan Kak Naura kepada kalian."
Revan dan Aditya saling pandang.
"Bagaimana?" tanya Revan pada Aditya.
"Bilang sajalah, daripada perempuan ini bawel terus. Tapi ..." Aditya beralih menatap Khanza dengan tatapan tajam penuh intimidasi.
"Jangan menatapku begitu, takut tahu." Lirih Naura menunduk takut.
"Jangan bilang pada siapapun termasuk kepada orang tuamu dan kakak kamu itu. Pokoknya jangan bilang pada siapa-siapa ini hanya rahasia kita bertiga, paham!" ujarnya tegas.
"Pa-paham."
"Revan, kau yang urus! Gue mau balik dulu ke rumah. Ada hal yang ingin gue tanyakan sama Ayah." Aditya pun pergi.
"Kok gue sih? Lo kan kakaknya, jadi Lo yang harus jelaskan."
"Gue tidak peduli, lo urus dia!" jawab Aditya sambil pergi tanpa menoleh ke belakang.
Revan menghela nafas. Ia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Masih ada waktu setengah jam lagi untuk menjelaskan. Baiklah, kita ketaman saja biar lebih enak ngobrolnya. Mari."
__ADS_1
"Dokter saja yang duluan, aku di belakang."
Revan mengangguk lalu ia berjalan duluan.
******
Taman
Keduanya duduk di bangku yang ada di taman dalam jarak yang cukup jauh. Keduanya menatap kedepan perhatikan setiap pergerakan orang-orang yang ada di sana.
"Cepat jelaskan!" kata Khanza.
"Baiklah." Revan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
"Pada hari itu, ada korban penembakan yang harus cepat aku tangani. Dia seorang perempuan berumur bernama Farida. Namun nyawa ibu itu tidak bisa tertolong karena peluru nya bersarang tepat di dada bagian jantung. Lalu datang seorang perempuan yaitu Naura menangis histeris. Kala pertama kali melihat Naura mataku tidak bisa beralih dari wajahnya karena wajah Naura begitu sangat mirip dengan ayahnya Aditya, pria yang tadi. Aku juga sedih melihat Naura menangis saat diberitahu kalau ibunya sudah tiada."
"Astaghfirullah, jadi ibunya kak Naura sudah meninggal?" Khanza terkejut, ia baru tahu kabar ini.
Revan mengangguk.
"Sejak saat itu aku memberitahukan kepada Aditya tentang Naura. Aditya juga kaget, dia memintaku mencari tahu lebih lanjut siapa Naura. Namun karena aku dipindah tugaskan ke daerah sini, jadinya aku menunda pencarian informasi itu. Kebetulan sekali aku melihat naura sendirian di pinggir jalan. Aku hampiri dan aku pun berpura-pura menanyakan alamat rumah sakit ini. Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh foto yang Naura pegang. Foto pernikahan dan sosok prianya sangat aku kenal sekali. Aku juga kembali memberitahu Aditya tentang pria itu. Lalu dia juga datang ke sini hari itu juga demi mengetahui sosok yang aku ceritakan."
"Hingga saatnya aku mulai bertugas di rumah sakit ini, aku mendapatkan pekerjaan untuk menangani korban kecelakaan. Dan saat itu Aditya juga penasaran dan datang kemari untuk melihat langsung wajah Naura. Karena sibuk mencari darah yang sama, aku sampai lupa pada Aditya. Untungnya dia menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya, dan kebetulan darah Aditya cocok. Dia meyakini kalau Naura ada hubungannya dengan ayahnya. Wajahnya, golongan darahnya, sama persis dengan dia dan ayahnya. Begitu ceritanya."
"Dokter seriusan kan? Tidak sedang membohongiku?"
"Mana mungkin aku berbohong dalam hal masalah serius ini. Sudahlah, percuma bicara dengan mu juga. Mendingan aku kembali bekerja." Revan berdiri, ia meninggalkan Khanza seorang diri.
Khanza tidak menyangka kalau ternyata ada kisah di balik kepergian Naura sembilan hari yang lalu. Ada penyesalan yang hadir dalam diri Khanza karena ia tidak tahu sama sekali tentang kepergian ibunya Naura.
"Apa itu artinya dia datang untuk membawa Kak Naura pergi kembali ke keluarga ayahnya? Ya Allah, sebenarnya aku senang kalau kak Naura punya keluarga lain, tapi kalau sampai mereka melarang Kak Azriel bagaimana?" ada hal yang di takutkan Khanza dalam masalah ini. Bisa saja keluarga Naura yang tidak akan memberikan restu.
__ADS_1
*****
Pondok
Sudah hal biasa dalam kalangan masyarakat sekitar ketika ada sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Termasuk batalnya pernikahan Azkia menjadi topik hangat yang saat ini sedang di perbincangkan oleh para santriwati yang mondok di sana.
"Kasihan ya Teh Azkia gagal menikah karena Ustadz Fauzi lebih memilih Teh Naura."
"Justru yang lebih kasihan itu Teh Naura, dia sampai mengorbankan nyawanya demi sosok yang di cintai dan cinta mereka terhalang restu sang nenek."
"Sebenarnya ketiganya tidak ada yang salah, yang salah itu Neneknya Ustadz Fauzi. Sudah tahu cucunya tidak menyukai Teh Azkia, tapi malah tetap di jodohkan. Jadinya banyak yang terluka dan ada yang kecewa."
"Eh, tapi kiranya akan ada yang mau sama Teh Azkia gak ya? Soalnya dia gagal nikah?"
"Mana kita tahu, itu urusan Allah."
Azkia yang kebetulan lewat sana menghela nafas berat. Dia terus melanjutkan langkahnya menuju Kobong tempat Naura dan Khanza tinggal.
"Eh ada Teh Azkia," bisik mereka mendadak diam tidak lagi menggosipkan masalah yang ada.
"Assalamualaikum Teh."
"Waalaikumsalam, permisi."
"Silahkan, Teh."
Azkia pun cepat-cepat menaiki tangga. Setibanya di sana dia memperhatikan kamar itu.
"Teh, mau cari siapa?" tanya penghuni kamar itu.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja." Azkia juga tidak tahu apa yang ingin ia cari dari sana? Siapa yang ingin ia temui? Namun hatinya ingin kesana.
__ADS_1
"Oh iya, Teh. Aku menemukan buku diary ini da bawah bantal. Kebetulan kita sedang membersihkan Kobong ini dan menemukan buku Diary milik Teh Naura, mungkin Teteh bisa mengembalikannya pada Teh Naura." Orang itu memberikan buku catatan bertuliskan Naura di sampul depannya.
Azkia menatapnya. "Diary?"