Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 28 - Waktu Cepat Berlalu


__ADS_3

Hari demi hari telah Naura lewati, jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Sudah empat tahun lamanya Naura berada di pondok tanpa pulang ke tempat dia yang dulu. Bukan tidak ingin, tapi tidak pernah tahu keberadaan ibunya saat ini. Pernah Naura meminta tolong kepada orangtuanya Khanza untuk mencari tahu keberadaan ibunya, tapi sampai saat ini tidak ada titik terang mengenai keberadaan ibunya. Dari satu tempat ke tempat lain sudah pernah di telusuri sesuai informasi yang di dapatkan, akan tetapi lagi dan lagi kalau ibunya pindah lagi dan sulit lagi di temukan.


Setiap hari, setiap waktu, setiap menit, hampir semua ada waktu luang Naura gunakan untuk belajar dan terus belajar. Dalam kurun waktu tiga tahun pula Naura mampu menghafal setiap pelajaran yang ada di sana. Lidahnya pun sudah fasih menyebutkan setiap huruf Alqur'an dengan sangat baik, bisa menghapal beberapa macam hapalan, dan masih banyak lagi hal positif yang Naura dapatkan selama belajar di sana.


"Kak Nau cepat bangun, ada kabar gembira kak." Siapa lagi kalau bukan Khanza yang selalu heboh di saat bersama dengan Naura.


Dua gadis remaja itu menjelma menjadi dua primadona pondok. Kepandaian, keceriaan, kebaikan, kekompakan, kecantikan, serta kepintaran mereka berdua mampu mencuri perhatian beberapa santri putra. Naura si gadis ceria nan galak, tapi mampu di gemari para santri. Khanza di gadis pendiam nan anggun selalu mencuri perhatian pria yang ingin mengenalnya. Naura yang berusia 22 tahun dan Khanza yang berusia 19 tahun.


Selama Khanza sekolah MA, Naura juga ikutan belajar. Tidak ada yang Naura lewatkan selama ingin mengetahui apa yang tidak Naura ketahui.


MA adalah satuan pendidikan dalam jenjang pendidikan menengah dalam bentuk sekolah menengah umum yang berciri khas agama Islam.


Dan tujuh bulan yang lalu, Khanza lulus MA, tapi masih mau mondok di sana selama Naura juga ada.


"Kak Nau cepat bangun! Ada pengajar baru yang katanya galak. Kita harus segera kesana sebelum mendapatkan hukuman." Khanza mencoba membangunkan Naura yang sedang tidur di jam pagi yang seharusnya di gunakan buat setoran pagi.


"Hmmm, sebentar saja. Aku lagi bermimpi bertemu dengan pangeran ku, Khanza. Dia lagi ada di sini." Naura menjawab namun mata terus terpejam. Mimpi cukup indah sampai Naura enggan untuk membuka mata.


"Ck, mimpi ketemu pangeran terus yang di alami. Siapa sih pangerannya? Kak Azriel?" sejak mengenal Naura, Khanza tidak pernah tahu pria yang selalu hadir dalam mimpi Naura. Namun ia hanya menebak kalau pria itu adalah Kakaknya. Alasannya karena Khanza menginginkan Naura menjadi sosok kakak ipar dalam hidupnya. Selama mengenai Naura, hanya wanita itu yang bisa membuat Khanza terbuka dalam segala hal. Meskipun banyak pula teman-teman lainnya, tapi berbeda dengan Naura.


"Azriel hehehe, aku merindukanmu." Naura mengigau terus.


"Ya Allah, dia sudah tidak waras." Lalu Khanza mencari air untuk membangunkan Naura. Jika sudah sulit dibangunkan maka airlah yang menjadi obatnya.


"Tidak ada cara lain selain di guyur pake air." Dia mengambil setengah gelas air minum, kemudian menyerahkannya pada Naura.


Byur!

__ADS_1


"Hujan .. Hujan .." pekik Naura terbangun dari mimpi indahnya. Naura sampai terduduk sambil mengusap kasar wajahnya. "Hujan eoy, banjir!"


"Di sini tidak ada hujan, Kak. Buruan bangun! Sebentar lagi ada kajian dari ustadz yang katanya lulusan Kairo."


"Ustadz baru? Kairo? Apa itu kakak kamu?" Mendengar Kairo membuat Naura teringat seseorang yang pernah memberikannya tasbih. Tasbih yang sering menemani dia siang dan malam, sering menemaninya menyebut asma Allah, sering menemaninya ketika dalam situasi apapun. Tasbih yang tidak pernah ketinggalan ketika Naura beribadah.


"Aku tidak tahu karena aku belum dapat kabar tentang kelulusan kak Azriel. Ayah sama Bunda saja tidak memberitahu kapan kakak ku pulang. Pokoknya siapapun dia kita harus segera ke aula, Kak. Ayo buruan!" Khanza menarik tangan Naura untuk membangunkan gadis itu.


"Ahh rasanya lemas dan malas berkumpul di aula. Aku udah nungguin jawaban kakak kamu tahu." Naura terpaksa bangun meski tubuhnya terasa lemas. Tidak ada yang ia sembunyikan mengenai perasaannya terhadap Azriel. Hampir setiap saat Naura selalu bilang pada Khanza kalau dia menyukai kakak nya. Namun jika bermimpi tak pernah Naura bilang, tapi hanya bilang kalau pangerannya hadir dalam mimpi.


"Nanti saja kalau kak Azriel sudah pulang ke rumah. Sekarang kita harus segera ke aula. Kakak cuci muka dulu dan ganti tuh kerudungnya."


"Iya, iya." Meskipun malas, Naura tetap harus mengikuti kegiatan pagi hari ini. Terlebih dulu dirinya mengganti kerudung yang di kenakannya menggunakan kerudung panjang yang menutupi dadanya. Barulah kedua gadis remaja tersebut ke aula.


*****


"Katanya hari ini ada ustadz baru yang akan mengajar. Aku jadi penasaran siapa orangnya? Kira-kira udah tua atau masih muda ya?" bisik-bisik tetangga sudah mulai menyebar di area sekitar. Banyak yang penasaran pada sosok pengajar baru yang akan mengajar di sana.


"Paling juga udah tua-tua, kan kebanyakan yang ngajar di sini sudah tua."


"Siapa tahu masih muda."


"Kita lihat saja nanti."


Naura yang sudah duduk di samping Khanza menggelengkan kepalanya. "Bisa-bisanya mereka penasaran sama sosok orang baru. Kalau tua pasti di bicarakan lagi. Dasar mata genit."


"Namanya juga para wanita, kalau ada yang baru pasti mendadak kepo, Kak."

__ADS_1


"Tidak ada yang jauh lebih menarik selain pangeran ku, Khanza. Ah rasanya ingin mimpiin dia lagi." Naura memejamkan matanya membayangkan kalau orang yang ia rindukan ada di sana.


"Astaghfirullah, Kak Nau. Tidak boleh membayangkan yang tidak-tidak, nyebut Kak! Nyebut!" Khanza mengusap wajah Naura.


"Apaan sih? Aku ini lagi berpikir tentang dia yang aaaat ini ada di sini. Kalau ada ingin ku bilang rindu ini terlalu berat." Namun matanya terus saja terpejam sambil tangannya menopang dagu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ya Allah, apa Kak Naura sudah mulai tidak waras. Terus saja kepikiran kak Azriel. Pasti yang ada di pikiran Kak Naura adalah kakak aku kan?" bisik Khanza.


"Tentu saja, habisnya semaki hari aku malah semakin teringat padanya. Heran tapi nyata, apa ini yang di sebut dengan cinta?"


"Ternyata cinta bisa membuat orang waras jadi tidak waras, ya. Buktinya Kak Naura." Khanza menggelengkan kepalanya tidak habis pikir oleh kelakuan wanita yang ada di sampingnya.


Sampai suasana terdengar riuh ketika dua orang masuk kedalam aula.


"Eh siapa itu? Tampan sekali."


"Assalamualaikum semuanya."


"Waalaikumsalam ustadz," jawab mereka begitu kompak.


Khanza sampai terbelalak melihat siapa yang ada di sana. "Ya Allah! Kak Naura itu kak Azriel." Khanza menggerakkan tangan Naura.


"Apa sih? Jangan bohong ah!" Naura tidak percaya. Mana mungkin Azriel ada di sana, begitu pikir Naura.


"Aku tidak bohong, buka dulu matanya!" Khanza menggerakkan lagi tangan Naura.


Naura pun membuka mata, dan seketika dia mematung menatap tidak percaya.

__ADS_1


"Dia ... Dia ada di sini?"


__ADS_2