Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 30 - Menghindari


__ADS_3

Pelajaran yang di ajarkan oleh ustadz Azriel telah selesai di selenggarakan dengan penutupan yang diakhiri oleh hukuman kepada Naura dan Khanza.


"Sumpah, dia ngeselin banget, Khanza. Perasaan dulu baik banget, sopan lembut, kenapa sekarang jadi killer gini? Ganteng sih, tapi galak." Naura ngoceh menyayangkan sikap Azriel yang berbeda dari tahun sebelumnya. Kedua gadis remaja itu keluar dari aula berbarengan dengan mimik wajah terlihat kesal.


"Jangankan kamu, aku saja tidak tahu kenapa sikap dia jadi gitu? Aku juga penasaran ingin tahu kenapa dia datang ke sini tanpa memberitahukan aku dulu. Ini sungguh surprise yang luar biasa, tapi sepertinya dia itu memang ingin mengamalkan setiap ilmu yang di pelajari di sana, deh. Cuman kenapa harus ngajar di bagian kita, ya? Kan masih ada tuh anak-anak yang mungkin butuh bimbingan dan ilmu. Kalau ngajar anak-anak pasti kakak bakalan bersikap baik."


"Heran juga sih, tapi tidak apa-apa, yang penting aku sudah ketemu dia dan tidak lagi harus bertemu dalam mimpi." Wajah Naura berseri-seri menunjukan jiga dia tengah bahagia bisa bertemu pria yang selama ini ia sebut dalam doanya.


"Assalamualaikum Naura, Khanza." Langkah Naura dan Khanza terhenti tepat di depan tangga menuju kamar mereka.


"Waalaikumsalam. Eh Azkia, darimana saja kamu? Hari ini tidak masuk, tahu tidak kalau tadi ada ustadz baru yang ngeselin nya minta ampun," kata Naura.


"Pasti ustadz Fauzi?" Azkia menebaknya, namun Naura dan Khanza mengerutkan keningnya.


"Kok ustadz Fauzi sih? Namanya bukan Fauzi," kata Naura yang belum tahu kepanjangan nama Azriel.


"Nama lengkapnya memang Muhammad Azriel Al-fauzi. Beliau akan mengajar di pondok ini mulai hari ini, dan kata Umi Qulsum nama panggilan selama di sini Ustadz Fauzi. Jadi kalian juga harus memanggilnya Ustadz Fauzi," tutur Azkia.


"Tunggu, kok Kak Azkia tahu nama lengkapnya sih?" tanya Khanza memicingkan mata. Entah mengapa ada hal yang ia curigai dari cara Azkia menyebut nama kakaknya. Terdengar malu dan juga wajahnya seperti dilanda bahagia.


"Kan tadi orangtua kamu dan dia ada di rumah Umi Qulsum. Oh iya, aku hampir lupa, aku kan di suruh Umi Qulsum buat memanggil kamu dan Naura ke sana. Ayo, orangtua mu menunggu." Niat Azkia bertemu kedua gadis itu memang untuk memanggil mereka ke rumah atas suruhan Neneknya.

__ADS_1


"Oh gitu. Ya sudah, ayo." Khanza manggut-manggut, tapi pikiran terus berpikir sesuatu.


Hati Khanza berkata, "ada apa ini? Jangan sampai Kak Azkia juga suka sama kakak ku sejak pertama kali bertemu. Kalau sampai seperti itu bagaimana dengan kak Naura? Apa kakak ku juga punya perasaan pada Kak Naura?" batin Khanza menatap lekat wajah teduh Naura yang sedang berada di sampingnya.


"Hmmm Khanza, aku tidak ikut ya. Kamu saja yang bertemu mereka, aku mau menghafal nadoman alviah." Naura menolak itu bertemu orangtuanya Khanza. Bahkan wajahnya pun menjadi murung.


"Loh, kenapa Kak? Bukan kan kita suka bertemu mereka barengan? Mereka juga orangtua mu, Kak? Kita kesana, yuk!" Khanza di buat heran karena secara tiba-tiba Naura menolak bertemu orangtuanya.


Naura tersenyum manis, "kamu saja. Aku harus menghapal. Jangan lupa oleh-olehnya, ya." Naura pun sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Loh, Kak Naura!"


"Waalaikumsalam." Meski heran atas sikap Naura yang kelihatan aneh, Khanza berjalan menuju rumah Umi Qulsum yang dimana ada orangtuanya di sana.


*****


Naura duduk di dekat jendela memperhatikan Khanza yang sedang berjalan. Dari atas, ia bisa melihat rumah Umi Qulsum dan bisa melihat pergerakan orang yang ada di depan rumahnya.


"Bukan aku tidak ingin bertemu mereka, Khanza. Aku hanya tidak ingin terus mendapatkan hinaan dari nenek kamu. Setiap kali aku bertemu mereka, nenek Fatimah selalu saja bicara yang menyakiti hatiku. Kalian tidak tahu saja kalau Nenek Fatimah tidak pernah bersikap baik di belakang kalian. Dia hanya bersikap sopan ketika ada di hadapannya Umi Qulsum." Naura melamunkan beberapa kejadian yang sering ia alami ketika bertemu dengan kedua orangtuanya Khanza.


Tanpa sepengetahuan Azzam dan Azzura, Fatimah diam-diam menemui Naura dan selalu bilang untuk tidak berharap bisa menjadi bagian keluarganya. Fatimah juga selalu mengingatkan kalau Naura itu berasal dari tempat hina dan sampai kapanpun akan menjadi hina. Fatimah juga sering kali mengancam untuk tidak menemui mereka lagi ketika mereka berkunjung ke pondok. Maka dari itu, sudah beberapa bulan ini Naura selalu menghindari pertemuan orangtuanya Khanza dengan dia. Selalu saja ada alasan yang membuat Naura tidak bisa bertemu meski ia merindukan pelukan hangat seorang Azzura yang sudah ia anggap ibunya. Demi menjaga kebaikan, Naura mengalah untuk menjauh.

__ADS_1


"Sekarang aku menyadari kalau kisah cintaku tidak akan semulus yang ku bayangkan. Akan ada rintangan yang menghalangi ku, restu dari Nenek Fatimah yang akan sulit ku dapatkan," lirihnya dalam hati menatap dua orang pria dan wanita yang sedang saling memeluk.


"Azriel, apa kamu bisa mendengar isi hatiku kalau selama ini aku menjerit namamu dalam setiap doaku?" lagi-lagi Naura bicara dalam hati. Ia menunduk mengambil sesuatu dari dalam saku roknya. Menggenggam sebuah benda pemberian pria itu yang selalu menemaninya dalam setiap langkah. Mantannya kembali beralih menatap lekat pria itu. "Apa aku pantas memiliki pria sempurna seperti dirimu? Sedangkan aku tahu kalau aku bukanlah wanita yang suci."


Tes.


Air mata menetes begitu saja kala sebuah rasa menyeruak menyesakkan dada. Cinta, penyesalan, restu semuanya harus ia hadapi sendirian. Menyembunyikan rasa cintanya dari semua orang selain Khanza, penyesalan karena terlambat menyadari pentingnya sebuah iman dan menyesal pernah terjerumus dalam lembah dosa, restu yang akan sulit ia dapatkan dari wanita yang Azriel sayangi.


Sedangkan pria yang terus di tatap Naura merasa ada yang memperhatikannya. Azriel pun mencari-cari hingga matanya menemukan sosok yang sedang menatapnya. "Naura, dia menangis?" batin Azriel.


Naura gelagapan, ia segera menghapus air matanya dan menjauh dari jendela kaca. "Bodoh, apa dia melihatku memperhatikannya? Jangan sampai dia melihatku. Semoga saja tidak."


"Kak Azriel, aku tuh heran sama sikap kakak yang tadi. Kok bisa-bisanya galak gitu sama aku dan Kak Naura." Khanza melepaskan pelukannya dengan bibir manyun kesal.


"Mau gimana lagi, kakak harus tegas dalam mengajar tanpa peduli siapa dia." Azriel mengusap lembut kepala adiknya.


"Khanza, dimana Naura? Kenapa tidak ikut kesini?" tanya Azzura dari dalam rumah. Azriel juga menatap adiknya ingin tahu alasan Naura tidak mau ikut.


"Hmm Kak Naura ..."


__ADS_1


__ADS_2