Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 51


__ADS_3

Hari pernikahan kedua orang yang di jodohkan itu sudah di tentukan dan pernikahannya pun akan dilaksanakan dalam kurun waktu empat hari lagi setelah segala macam urusan selesai. Mulai dari persiapan pernikahan, syarat-syarat buku nikah, dan lain sebagainya. Dan selama empat hari ini segala persiapan sudah selesai, tinggal menunggu hari esok tiba. Hari pernikahan Azkia dan Azriel.


Fatimah yang memang menginginkan perjodohan ini begitu antusiasnya mempersiapkan pernikahan dengan sangat meriah. Dia ingin membuat Naura mikir kalau pemenangnya adalah dirinya dan sebagai peringatan untuk tidak lagi mengusik cucunya.


Namun, di balik ini semua ada Khanza yang tidak banyak bicara pada neneknya, pada Azriel ataupun pada siapapun yang ia temui. Gadis itu seakan bisu dan tuli ketika banyak orang berusaha memanggilnya, termasuk Azkia.


"Khanza, Khanza tunggu! Aku ingin bicara sama kamu." Azkia menghalangi langkah Khanza. Selama ini Khanza terus menghindari Azkia dan tidak berinteraksi apapun dengan keluarganya.


"Mau bicara apa, Ning? Tidak ada lagi yang harus di bicarakan. Aku mau ke kobong, permisi." Khanza tidak mau bicara pada orang yang menurutnya tidak peka dengan keadaan. Bahkan panggilannya pun bukan kakak lagi, tapi Ning.


"Sikap kamu ini yang membuat ku bertanya-tanya, kenapa?" tanya Azkia ingin tahu alasan Khanza terus menghindarinya padahal mereka sering bercanda dan dekat.


Khanza berhenti, lalu ia menoleh. "Kenapa? Kamu bertanya kenapa? Maka jawabnya karena aku tidak menyukai pernikahan kalian. Aku tahu Ning Azkia adalah sosok perempuan idaman bagi setiap pria, tapi tidak bagiku dan bagi kakak ku. Asal Ning tahu, kakakku terpaksa menerima perjodohan ini demi nenekku, dia tidak menyukai ini semua. Kakak ku lebih menyukai Kak Naura bukan Ning Azkia anaknya ustadz dan Ustadzah. Dan kenapa sikapku begitu? Karena aku merasa kecewa pada kalian yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat ada hati yang terluka, bukan hanya satu, tapi banyak."


"Maaf, kalau memang Ning merasa pernikahan ini bisa membuatmu bahagia silahkan lanjutkan, tapi jangan harap bisa mendapatkan cinta dan hatinya kakakku. Mungkin Ning bisa mendapatkan raganya, tapi tidak dengan hati dan cintanya."


Azkia terdiam. Benarkah yang di katakan Khanza kalau Azriel terpaksa menikahinya? Benarkah pria itu menyukai Naura padahal sebelumnya ia tidak melihat gelagat Azriel menyukainya. Namun sikap Khanza yang seperti ini begitu mengusik hati dan pikirannya.


"Tapi aku yakin kalau aku mampu membuat kakak kamu bahagia. Insyaallah aku bisa menjadi perempuan pilihannya karena aku memiliki kelebihan daripada Naura. Mungkin dari segi ilmu, tata Krama, adab, hingga kesucian, aku masih unggul dari Naura. Percayalah kalau kakak kamu tidak akan menyesal mendapatkan istri seperti ku."


Khanza tersenyum miris. "Bisa-bisanya seorang cucu pemilik pondok memiliki pikiran begini? Bisa-bisanya seorang keturunan yang alim merendahkan orang lain. Dari caramu menyebutkan apa yang kamu miliki menunjukan keegoisan dan sombong, tapi terserah Ning, yang pasti setiap sesuatu yang diawali dengan keterpaksaan tidak akan berujung kebahagiaan. Semoga Allah mengampuni dosamu yang telah merendahkan orang lain dan telah berkata sombong." Khanza pun pergi.


Azkia diam mematung. Perkataan Khanza begitu nyelekit menyakiti hatinya. Sombong dan egois, dua kata yang bahkan baru ia dengar selama ini dan itu membuatnya tertegun.


"Astaghfirullah." Azkia sadar dengan ucapannya yang salah.

__ADS_1


*****


Lain tempat


Hampir setiap hari Naura mencari sosok yang ada di foto dan sorenya mengadakan tahlilan sederhana di kontrakannya. Namun, selama itu pula ia tidak menemukan pria yang yang ada di foto.


"Sedang tujuh hari ibu pergi, tapi aku tidak bisa menemukan pria ini. Ya Allah, kemana lagi aku harus pergi mencarinya? Tunjukan jalan terbaikmu Ya Allah." Ia pasrah kalau memang belum menemukan ayahnya.


Karena tidak kunjung menemukannya, naura pun memutuskan kembali ke kontrakan dan ingin kembali lagi ke pondok. Setidaknya jika di sana ia merasa tenang dan banyak orang yang bisa menemaninya. Meskipun hatinya akan berperang dengan orang yang membencinya, tapi hanya tempat itu tempat ternyaman yang Naura miliki.


Keesokan harinya, Naura telah bersiap pergi dari kontrakan. Dia membawa setiap kenangan yang ia miliki bersama ibunya termasuk foto. Dalam keadaan masih berdua, dengan berat hati dirinya pergi.


"Bukan aku tidak ingin berada di sini, tapi aku menginginkan ketenangan dan juga kenyamanan. Jika aku berada di sini terus, nanti akan terus kepikiran dan hanya bisa menangis. Maafkan aku, Bu." Lirihnya sambil pergi menjauhi makan ibunya. Ya Naura ke makam sang ibu dulu untuk berpamitan padanya.


Setibanya di jalan yang sering di lewati bus, Naura menunggu kendaraan itu lewat. Namun ia tak kunjung mendapatkan angkutan umum. Sambil menunggu, dia selalu berzikir, tapi kali ini sambil menatap foto yang ia pegang.


Tiiidd ... Tiiid ...


Naura mendongak, ia mengerutkan keningnya ketika mobil itu berhenti di depannya. "Kenapa mobil ini berhenti di depanku?"


Lalu turunlah seorang pria dari dalam mobil menghampiri Naura. "Hai, apa kamu mengingatku?" tanya pria itu.


Naura diam menatap wajahnya, lalu ia mengangguk. "Aku ingat, kamu dokter yang sudah menangani ibuku. Maaf, ada apa ya?"


"Hmm sebenarnya aku mau menanyakan alamat ini." Pria itu menunjukan alamat yang ada di ponselnya, dan Naura menatapnya.

__ADS_1


"Alamat ini tidak jauh dari pondok yang akan ku kunjungi. Kamu tinggal ..."


"Kebetulan sekali, kalau begitu kita berangkat bareng saja. Kamu tunjukan jalannya biar aku yang menyetir."


"Maaf, aku naik bus saja." Naura menolaknya, ia tidak mungkin ikut dengan orang asing yang tidak ia kenal.


Pria itu celingukan mencari keberadaan bus, lalu ia melihat jam tangannya. "Sekarang sudah jam enam pagi, biasa bus akan lewat lagi sekitar dua jam lagi. Daripada nungguin mending kamu ikut denganku saja. Ah jangan khawatir, aku sedang ada tugas di rumah sakit yang ada di sana, jadi kamu tidak usah takut, aku pria baik-baik Kok. Percayalah, dan kamu perhatikan tampangku ini, apa ada tampang penjahatnya?"


Naura pun menatap lekat wajah itu, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Kalau begitu ayo, kita bareng saja."


Naura diam memikirkan ajakan pria itu. Namun karena ia tidak mungkin lama lagi menunggu dan memang ingin segera bertemu Khanza untuk meluapkan kesedihannya, Naura pun mengikuti ajakan pria itu. "Ya Allah lindungi aku," batinnya.


"Baiklah, tapi kamu jangan macam-macam!"


"Insyaallah tidak akan." Pria itu tersenyum mempersilahkan Naura jalan.


Naura pun berdiri, namun foto yang ada di pangkuannya terjatuh ke tanah. Dia ingin berjongkok, tapi pria itu lebih dulu mengambilnya.


"Ini siapa?" tanyanya dengan tatapan yang berbeda menatap lekat wajah-wajah yang ada di foto.


Naura mengambilnya. "Kedua orangtuaku, mereka sudah tidak ada. Lebih tepatnya ibu meninggal dan ayahku pergi meninggalkan kita karena memilih keluarganya."


"Kamu pernah bertemu ayahmu?" tanyanya penasaran sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Belum pernah."


Diam, pria itu terdiam.


__ADS_2