Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 39 - Hukuman


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Naura sudah berada di rumahnya Umi Qulsum. Di sana juga sudah ada Ustadz Fauzi yang telah membuatnya sakit jantung alias berdebar. Hanya Naura saja yang ke rumah Umi Qulsum, tidak dengan Khanza yang harus ke Aula karena ada kajian dari Ustadz Ali.


Bukan hanya Naura dan Azriel saja yang ada di sana, tapi juga ada Ustadz Ahmad, Ustazah Asiah, Ustazah Annisa, dan beberapa pengurus pondok. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Naura, Namun tatapannya terlihat mengintimidasi. Lebih tepatnya tatapan Anissa yang sangat terlihat tidak menyukainya, namun tidak dengan tatapan Umi dan Azriel yang terlihat teduh.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Masuklah, Nau! Silahkan duduk!" kata Umi Qulsum masih terdengar ramah. Naura mengangguk patuh, kemudian duduk di samping Azriel dengan jarak yang cukup jauh.


"Langsung saja. Begini, Umi mendapatkan kabar kalau kalian berdua ketahuan tengah berbuat hal tidak senonoh di Madrasah Diniyah, di hadapan anak-anak pula," kata Umi Qulsum.


"Astaghfirullah! Itu fitnah, Umi." Naura dan Azriel menjawab bersamaan karena mereka berdua tidak merasa melakukan hal semacam itu.


"Ini bukan fitnah, tapi saya punya buktinya kalau kalian sedang berciumman. Nih kalian lihat!" Anissa menunjukan foto yang tadi ia potret ketika lewat madrasah.


Naura dan Azriel memperhatikan foto itu, mata keduanya terbelalak melihatnya.


"Umi, Ustadz, Ustazah, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Kejadiannya tidak seperti yang kalian tuduhkan," kata Naura mencoba membela diri.


"Halah, mana ada maling ngaku. Kalau maling ngaku penjara penuh. Jelas-jelas di situ menunjukan kalau Naura berusaha menggoda Ustadz Fauzi, apa bukti ini kurang jelas?" kata Anissa menggebu. Dari dulu dia memang suka bertindak sesuka hatinya. Bahkan pernah berbuat ulah pada Azzura dan Azzam.

__ADS_1


"Umi Qulsum, biar saya jelaskan kejadian yang sebenarnya," kata Azriel.


"Iya, silahkan karena Umi juga tidak mudah percaya pada foto itu."


"Umi ..." Anissa ingin protes, tapi Umi Qulsum menoleh menatap tajam. Anissa pun diam.


"Awalnya aku memperhatikan cara mengajar Ustadz Fauzi, lalu aku ketahuan dan di hukum oleh Beliau. Di hukumannya di depan anak-anak dengan cara kaki di angkat satu dan tangan menjewer telinga. Namun karena keseimbangan ku mulai tidak terkendali akibat rasa pegal yang aku rasakan, jadinya aku terjatuh dan tidak sengaja memegang pundak Ustadz. Sumpah demi Allah kita tidak melakukan apapun, Umi. Itu cerita yang sebenarnya." Bukan Azriel yang menjelaskan, tapi Naura yang cepat berbicara.


"Iya, Umi. Memang begitu cerita yang sebenarnya."


"Bohong! Saya tidak percaya sama mulut wanita murahan seperti kamu, Naura. Bisa-bisanya mengelak. Ini sudah terbukti kesalahan." Anissa tetap kekeh dengan penilaiannya.


"Kamu itu berasal dari tempat hina, sudah pasti kelakuan kamu juga belum berubah dan bisa saja kamu berniat merayu Ustadz Fauzi," sambung Anissa.


Diam, itulah yang di alami Anissa saat ini. Dia sedang diam karena ucapan Naura membuatnya bungkam. Dia kembali memikirkan anak-anak yang ada di madrasah akan menjadi saksi nyatanya. Namun yang namanya hati sudah terpaut akan kebencian dan ketidaksukaan membuatnya sulit di untuk mengalah.


"Saya tidak percaya kalau kau ..." Namun terpotong oleh ucapan Ali.


"Anissa diam! Apa yang di katakan Naura itu benar, kamu salah satu Ustazah di sini seharusnya tidak berbicara yang tidak-tidak dulu sebelum semuanya jelas. Dan untuk Kamu, Naura dan Ustadz Fauzi, meskipun kalian tidak bersalah namun karena ini salah satu pelanggan pondok ini yang dimana dua orang lawan jenis tengah berduaan apalagi ketahuan saling bersentuhan akan mendapatkan hukuman."

__ADS_1


Naura dan Azriel menghela nafas, mereka diam namun juga tidak bisa melawan.


Ustadz Ali menatap Uminya, lalu Umi Qulsum mengangguk mempersilahkan sang putra tertuanya mengambil keputusan.


"Dan hukumannya, kamu harus mengajar anak-anak Diniyah sampai waktu yang di tentukan. Dan kamu Ustadz Fauzi, kamu di pindah tugaskan mengajarnya di pondok yang ada di desa sebelah karena kebetulan pondok itu hanya pria penghuninya," kata Ali.


Naura terbelalak, ia kaget karena dirinya akan berjauhan dengan Azriel. Seketika tubuhnya lemas harus menghadapi kenyataan kalau dia bakalan sulit lagi bertemu Azriel.


"Kenapa hukumannya begini? Ini bukan hukuman Kang Ustadz, seharusnya Naura di keluarkan dari pondok ini, tapi ini keenakan di Naura. Yang ada dia makin berbuat ulah dan akan mengajarkan hal yang tidak-tidak pada anak-anak Diniyah." Anissa protes, ia tidak menyukai Naura yang menurutnya terlihat akan membawa pengaruh buruk.


"Kamu jangan ikut campur dulu, Anissa! Ini adalah keputusan Umi Qulsum sendiri, kau kamu keberatan bisa tinggalkan tempat ini dan fokus pada cara mengajar kamu!" ujar Ali.


"Tapi ..."


"Anissa!" Umi Qulsum bersuara penuh penekanan.


"Ck, baiklah." Dan akhirnya Anissa kalah namun tetap tidak suka pada Naura.


Fitnah termasuk perbuatan lisan yang sangat berbahaya, sehingga dinyatakan dalam firman Allah Swt bahwa fitnah lebih besar dampaknya daripada pembunuhan. Sehingga muncul pepatah mengatakan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Mengingat bahwa luka karena benda tajam bisa hilang seiringnya waktu berlalu, namun luka karena tajamnya lisan seseorang sulit untuk dihapus, akan senantiasa membekas dalam hati orang yang difitnah. Orang yang suka memfitnah biasanya orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senang atau bahagia, ia berupaya agar orang lain jatuh kedalam kebinasaan.

__ADS_1


Banyak orang di sekitar kita termakan fitnah orang yang pada akhirnya membenci orang lain, iri pada orang lain, gibahin orang lain, dan terkadang memusuhi orang lain. Hendaklah kamu berpikir dewasa dalam menanggapi satu hal dan janganlah kamu mudah percaya pada omongan orang meskipun itu saudara mu sendiri. Terkadang, kita tidak pernah tahu sifat asli seseorang itu seperti apa, dan terkadang banyak orang terdekat yang berusaha menjatuhkan kita.


Jadi, berhati-hati lah.


__ADS_2