
Dahi Naura mengkerut, apa ia salah memanggil suaminya dengan kata Hubby?
"Kenapa? Apa ada yang salah? Atau nama panggilan itu kurang cocok sama kamu? Aku minta maaf nanti aku ganti lagi deh," kata Naura merasa suaminya keberatan dengan panggilan sayang yang ia berikan.
"Eh siapa bilang aku tidak suka? Justru aku suka dengan panggilan baru kamu. Apa itu panggilan sayang untukku?" Mereka yang masih sama-sama tak berpakaian di laik selimut tebal saling menghangatkan satu sama lainnya. Azriel tak pernah melepaskan pelukannya pada Naura dan dia juga menyukai panggilan dari istrinya.
Naura mengangguk di balik dekapan Azriel. Dia menyempatkan wajah merahnya karena merasa malu dengan sebutan sayang dia untuk sang suami. Namun reaksi Azriel di luar dugaannya. Pria itu justru menghunjami kecupan di seluruh wajah Naura dan memberikan kecupan mesra di bibir mungil yang kian menjadi candunya.
"Aku suka banget sama panggilan sayang kamu. Terus panggil aku dengan sebutan Hubby ya, Sayang?" Telapak tangan besarnya mengusap lembut pipi putih Naura, tatapan matanya begitu lekat menatap mata sang istri penuh cinta.
"Terus panggilan sayang kamu apa? Masa cuman aku doang? Tidak adil tahu." Bibir mungil yang sudah menjadi candu bagi Azriel itu mengerucut lucu. Pria yang sedang mendekap tubuh Naura mengecup kilas bibir istrinya sekilas.
"Humaira yang artinya pipi kemerah-merahan. Aku suka ketika melihat pipi kamu saat sedang kemerahan-merahan, terlihat semakin cantik dan juga membuatku selalu khilaf ingin menatapmu. Namun kini aku bisa melihat kamu bahkan memeluk kamu sepuasnya begini. Udah halal dong." Azriel menjawil dagu lancip Naura sambil mendaratkan bibirnya di bibir Naura.
Wajah Naura yang sedang kemerahan-merahan tidak bisa di sembunyikan dari pandangan mata suaminya. "Manis sekali," lirihnya membalas tatapan Azriel.
"Semanis senyum mu yang selalu membuat ku ingin mencicipinya."
"Emangnya aku ini makanan sampai kamu mau mencicipi ku?" Naura mencebik kesal.
"Lebih dari itu sayang," bisiknya kembali menyerang Naura di saat sang junior tidak bisa terus ia kendalikan dan ingin kembali melesakkan lahar putih di goa rindang sang istri.
Keduanya kembali hanyut dalam buaian mesra penuh damba dengan tubuh saling menyatu sama lainnya. Berirama senada menciptakan alunan merdu musik yang syahdu penuh harmoni cinta.
__ADS_1
******
Di lain tempat ketika jam sembilan malam.
"Ngapain lo ngajakin gue ketemuan dimari, Van? Ini sudah jam sembilan malam dan apa lo tidak ada kerjaan sampai harus ke kota J segala? Bukannya lo ini di alih tugaskan ke kota B?" Aditya sebagai sahabat heran dengan kelakuan Revan. Seharusnya pria itu masih ada di kota B sebagai salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit tempat dirinya bekerja.
Revan meminta bertemu dengan Aditya di cafe tempat tongkrongan mereka. Ada hal yang selalu mengganggu pikiran Revan dan tidak bisa tenang.
Pria pemilik mata hazel kecoklatan itu menghela nafas. "Gue mau cerita sama lo, tapi gue bingung mau cerita dari mana."
"Kalau lo mau cerita ya cerita saja, biasanya juga suka nyerocos tanpa rem." Kali ini Aditya merasa heran, dia melihat ada keresahan dalam diri Revan namun dia tidak tahu apa yang Revan resah sampai harus menemuinya ke sana.
"Itu dia, gue sedang bingung. Makanya gue datang kesini di saat jam kerja gue lagi free. Gue mau minta saran sama mau curhat sama lo sebagai teman terbaik gue selama ini." Revan mengambil gelas berisi minuman yang telah ia pesan, kemudian menyeruputnya.
"Tumben lo kelihatan serius? Ada apa?"
"Hah! Hahaha lo suka cewek? Gue kira lo kagak doyan cewek?" Aditya tertawa, ia terkejut sekaligus senang mendengar sahabatnya menyukai cewek setelah sekian lama tidak lagi membuka hatinya dikarenakan duka kehilangan calon istri tiga tahun yang lalu di saat usia Revan dan Aditya sekitaran 24 tahun.
"Sialan lo. Dari dulu gue udah suka sama cewek, kaliannya saja yang kagak percaya sama gue. Gue emang pernah suka sama satu cewek dan tidak gue publikasikan sampai akhir dia pergi duluan." Wajah Revan yang tadinya kesal dengan ledekan Aditya kini berubah menjadi raut sedih.
"Iya, sih. Gue tahu itu, tapi kali ini siapa cewek yang berhasil menaklukkan hati beku seorang dokter Revan? Gue harus syukuran atas kabar bahagia ini." Seingatnya Revan tidak pernah dekat dengan perempuan lagi. Pria itu cenderung menutup diri dari yang namanya wanita.
Revan menghela nafas. "Gue suka sama adiknya Azriel, Khanza."
__ADS_1
"Apa?! Khanza?! Mimpi apa gue semalam sampai mendengar kabar ini? Lo suka sama Khanza temannya Naina itu? Santri yang mondok di pondok Miftahul'ulum ulum?" Aditya kembali memastikan keterkejutannya.
"Iya, dan entah dari kapan gue lebih sering memikirkan dia, menunggu kabar darinya, rindu suaranya, bahkan ingin dengannya dalam waktu cukup lama. Selama kita berinteraksi gue lebih sering semangat karena menurut gue dia mood baik."
"Kalau lo suka ya tinggal bilang saja suka, gampang kan?"
"Masalahnya tidak semudah itu, begooo. Khanza bukan wanita yang mudah diajar pacaran."
"Ngapain harus pacaran kalau umur lo udah siap berumah tangga? Mendingan lo langsung lamar saja dia, lo nikahi biar, mudah kan?"
Revan terdiam.
"Kenapa gue tidak kepikiran ke situ ya? Dan kenapa malah mikir mau ngajak Khanza pacaran sedangkan gue tahu aturan dalam Islam itu tidak boleh pacaran." Revan baru menyadari hal itu, kemarin-kemarin dia uring-uringan sendiri sebab dirinya di buat galau ingin menjadikan Khanza pacarnya namun taku. Khanza menolak.
"Yaelah, lo itu bodoh atau telmi sih? Masa gak bisa lihat keadaan bener? Gadis seperti Khanza mana mau di ajak pacaran, pasti Maunya langsung ta'aruf dan mungkin menikah adalah ladang pahala baginya. Kalau lo seriusan mendingan lo halali."
"Saran lo bener juga. Di umur gue yang saat ini mau berkepala toga tidak mungkin main-main lagi dalam hal beginian. Gue butuh istri, bukan pacar." Senyum Revan mengembang, ia sudah memikirkan masa depannya dengan Khanza, gadis yang berhasil membuatnya berdebar ketika pertama kali melihatnya di rumah sakit saat Naura di tangani olehnya.
"Ya itu lo udah ingin nikah." Aditya senang jika Revan sudah menemukan tambatan hatinya.
"Terus kapan lo akan mencari pengganti mantan pacar lo yang berkhianat itu? Belum bisa move on lo?"
"Ck, jangan ingatkan gue tentangnya. Rasanya gue ingin membunuhh dia karena sudah berkhianat di saat gue sayang-sayangnya. Kan goblokk banget."
__ADS_1
"Jangan terlalu benci. Katanya cinta dan benci itu beda tipis. Siapa tahu suatu saat nanti kalian di pertemukan lagi dan siapa tahu kalian berjodoh."
"Gue sama dia? Amit-amit, tidak akan sudi!"