Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 37 - Salah Paham


__ADS_3

Sesuai perintah dari Azriel yang memintanya menjadi pengajar dadakan sebagai hukuman karena sudah mengintip pria itu mengajar.


Namun, bukan seperti yang di katakan oleh Azriel bahwa Naura akan mengajari anak-anak, tapi ternyata malah di hukum di suruh berdiri di hadapan anak-anak yang kini tengah menatapnya.


"Ustadz gak adil, masa tadi bilangnya akan di hukum suruh ngajar, tapi malah di suruh berdiri dengan kaki terangkat satu dan tangan kiri memegang kuping kanan. Jatuhlah sudah martabat ku di depan anak-anak ini," Kata Naura memberenggut manyun namun tangan kanannya terus menggerakkan butir demi butir tasbih yang ia pegang demi bisa menjaga jantungnya yang berdetak kencang di saat dengan Azriel meski ada anak-anak di sana.


"Saya tidak jadi menyuruhmu mengajar karena saya tidak ingin anak-anak malah bermain. Saya tidak yakin dengan kamu ini. Jadinya saya hukum kamu berdiri di sana sampai tugas saya selesai," jawab Azriel tanpa sedikitpun merasa kasihan pada Naura yang sudah terlihat menahan pegal di kaki.


"Ck, Ustadz nyebelin. Baru saja datang ke sini sudah di hukum oleh sedemikian rupa." Naura menggerutu kesal sembari matanya mendelik jengah. Sungguh hatinya dongkol dan rasa kagum pada pria itu kini berubah kesal.


"Nyesel aku muji kamu tampan," gumamnya namun masih bisa di dengar oleh Azriel.


"Saya memang tampan, semua orang mengakui itu."


"Dih, pede banget semua orang bilang Ustadz tampan. Kalau di lihat-lihat Ustadz ini tidak tampan, tapi jelek."


"Jelek-jelek bisa membuat seseorang memintanya dalam doa. Hampir tiap malam pula," katanya seakan menyindir Naura.


Naura mengerutkan keningnya merasa heran, tetapi juga bertanya-tanya dalam bersamaan. Kenapa dia bisa tahu, begitu kata yang ada di dalam hatinya.


"Adik-adik, kalau kalian sudah selesai nulis tolong kumpulan ya tugasnya," ucap Azriel pada anak Diniyah.


"Baik, Ustadz."


Kaki Naura bertambah pegal, ia tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya yang ingin terjatuh. Dan karena tidak bisa berdiri dengan satu lagi berangkat, jadinya Naura hendak terjatuh.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" pekik Naura kaget, namun ia bertambah kaget lagi karena dirinya limbung ke samping Azriel.


Alhasil tangannya memegang pundak dan mata mereka sejenak saling beradu pandang. Dan kala itu juga tangan Naura bergetar dengan jantung semakin berdebar kencang hingga tidak sadar menjatuhkan tasbih yang ia pegang.


Di saat bersamaan, salah satu orang melintasi madrasah Diniyah. Dia terbelalak ketika pandangan matanya langsung melihat adegan mesum yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Posisi Naura yang membelakangi pintu masuk seakan terlihat seperti sedang saling berkecupan. Cepat-cepat orang itu memotret adegan tidak pantas itu untuk di beritahukan pada pemilik yayasan.


"Ustadz, Kak Naura, ini aula," kata salah satu anak-anak yang ada di sana.


"Eh! Astaghfirullah!" Naura kembali tersadar atas apa yang mereka lakukan barusan. "Maaf Ustadz," ucapnya bernada bersalah.


Pun dengan Azriel yang juga gelagapan, baru sadar dari keterpukauan yang ia alami. "Ya Allah, maafkan hamba. Astaghfirullah." Namun hanya dalam hatinya dengan tangan mengusap kasar wajahnya.


Matanya menunduk malu memperhatikan ubin yang ada di bawahnya. Hingga ia menemukan satu benda yang membuatnya mengenali kalau itu miliknya yang pernah ia berikan kepada Naura.


"Loh, kok Kak Naura sudah tidak di hukum?" Khanza yang baru saja kembali dari toilet mengerutkan keningnya kala Naura tergesa keluar madrasah Diniyah dengan wajah bersemu merah.


Khanza sempat melirik pada Azriel, kakak laki-lakinya dan ia juga heran melihat wajah pria itu yang juga sama-sama berubah merah namun terlihat sekali raut kacau yang entah apa di pikirkan oleh pria itu.


******


Sedangkan perempuan tadi, dia tergesa menemui anggota keluarga pemilik pondok.


"Bisa-bisanya dia merayu Ustadz Azriel begitu. Memang tabiatnya buruk pasti saja akan tetap berprilaku buruk. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus mengadu pada Umi, Kak Ali dan juga Kang Ahmad."


"Anissa kamu kenapa tergesa seperti itu? Mau kemana dan hendak kemana?" tanya Ahmad sang suami.

__ADS_1


"Kebetulan Akang ada di sini, aku harus bicara sama Akang, Kak Ali dan juga Umi, ini penting, Kang." Annisa menarik tangan Ahmad menuju rumah Umi Qulsum. Ya, perempuan tadi itu Anissa yang memang berniat hendak menemui mertuanya.


"Hal apa sih? Kelihatannya serius banget."


"Ini penting, sangat-sangat penting demi kebaikan pondok kita."


Ahmad diam saja, dia mengikuti istrinya ke rumah Umi dan juga kepo apa yang ingin Anissa sampaikan.


"Assalamualaikum, Ustadzah, Ustadz."


"Waalaikumsalam." Anissa dan Ahmad menjawab ucapan salam dari beberapa anak santri.


"Oh iya, kamu harus hati-hati sama naura dan jangan berteman dengannya. Dia itu bukan gadis baik-baik, dia si pembuat dosa," kata Annisa.


"Astaghfirullah, Annisa! Kalau bicara jangan sembarang."


"Aku tidak sembarangan Kang, aku punya buktinya. Nih lihat!" Anissa menunjukan foto yang ia ambil tadi.


Baik Ahmad dan beberapa santri yang menyapa tadi terkejut dan sama-sama mengucapkan kalimat istighfar.


"Itu seperti Naura dan Ustadz Fauzi?"


"Ini memang mereka, Kang. Naura sedang mencoba merayu Ustadz Azriel. Kan akang tahu kalau Naura pernah mengaku kalau dia itu wanita tidak benar."


"Astaghfirullah!"

__ADS_1


__ADS_2