
Pertama kali dalam hidup Khanza memasak, ia cukup kerepotan karena belum tahu pasti nama-nama yang ada di dapur bagian para santri memasak. Bukan hanya Kobong Naura, tapi juga ada dari Kobong lain yang juga sedang masak juga.
"Kamu iris kangkung, sama bawang merahnya, nanti aku yang goreng telurnya." Naura memberikan lima ikat kangkung pada Khanza yang sedang duduk memperhatikan Naura.
"Irisnya gimana? Aku mana tahu cara mengiris." Khanza cukup kebingungan karena pada dasarnya ia tidak pernah belajar masak pada Bundanya. Setiap mau makan selalu sudah tersedia di atas meja, jadinya belum pernah mencoba menggunakan alat dapur.
"Masa kamu tidak tahu sih?"
"Kalau aku tahu mah sudah dari tadi semua bahan-bahan ini aku iris."
"Hadeuh, perempuan kok tidak bisa apa-apa. Aku dong," kata Naura sambil mengambil pisau dan satu ikat kangkung.
"Aku apa?"
"Kagak bisa ngaji," jawab Naura terkekeh. "Aku contohin, ya. Gini caranya." Naura pun memberikan contoh simpel dan juga mudah.
"Oh, oke-oke. Aku paham. Sini biar aku saja." Khanza beralih mengambil pisau yang di pegang Naura dan mencoba memotong kangkungnya. "Gini kan?"
"Cakep, itu sudah benar. Lanjutkan!" Dan giliran Naura yang memasak satu persatu telur ceplok untuk sarapan mereka bersama.
"Assalamualaikum Naura, Khanza, rajin bener dah." Azkia datang lalu ikut duduk di bangku yang ada di sana.
"Bukan rajin ini mah, tapi terpaksa. Kalau tidak terpaksa mah mana mau kita masak begini, iya kan Khanza?"
"Iya, kak. Aku aja baru pertama kali melakukan cara ini."
"Hehehe, beginilah kegiatan sehari-hari di beberapa pondok pesantren sekitar kita. Setiap pagi ada yang patrol masak, patrol bersih-bersih, ada juga yang sibuk mencuci pakaian masing-masing. Namun berbeda dengan pondok mewah di luaran sana yang mau makan pun mengantri seperti mau prasmanan dinikahan. Di sini mah gini, diajarkan mandiri."
"Terus habis makan kita ngapain? Soalnya sejak kita ke sini aku belum mendapat kan pelajaran apapun selain tata cara wudhu dan juga shalat. Itupun hanya sebatas gerakan saja tanpa bacaan seperti yang kalian bacakan," tanya Naura sambil satu persatu telur ceplok buat anggota yang ada di kamar 3 dan jumlahnya ada delapan orang.
__ADS_1
"Semuanya bertahap, Nau. Tidak akan langsung bisa. Kalau kamu mau belajar serius, kamu bisa belajar dulu huruf hijaiyah, doa wudhu, sama doa-doa shalat. Sisanya mengikuti."
"Hmm gitu. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh, apapun yang ingin kamu tanyakan bisa langsung tanyakan. Dengan senang hati aku akan menjawab selama itu bisa aku jawab. Kamu juga bisa bertanya pada teteh santri yang lain, atau pada ustadz dan ustadzah yang ada di sini."
"Aku kan pernah dengar kata Allah, takdir, dan syetan. Yang ingin aku tanyakan adalah, apakah Allah itu ada? Jika ada maka tunjukkan kepadaku wujudnya seperti apa? pertanyaan kedua, jika memang takdir itu ada tunjukkan takdir itu kepadaku? Dan pertanyaan ketiga, syetan itu kan diciptakan dari api dan neraka juga diciptakan dari api. Lalu kenapa setan dimasukkan ke dalam neraka? Bukankah keduanya memiliki unsur yang sama? Aku tahu dari mereka yang selalu bilang Allah itu ada, takdir Allah, dan syetan serta neraka terbuat dari api, makanya aku ingin tahu jawaban yang sebenarnya," tanya Naura sambil membalikkan telur ceploknya. Ini adalah pertanyaan yang ingin ia tanyakan dari dulu. Sering dengar namun tidak pernah tahu artinya seperti apa.
"Jawabnya sangat mudah." Azkia berdiri. "Coba kamu madep sini!" pinta Azkia pada Naura yang sedang menyimpan telor ke piring.
"Mau ngapain?" Naura menoleh dan tiba-tiba Azkia menampar pipi Naura.
Plak!
"Aw! Lo gila ya? Masa gue di tampar gitu? Wah gak bener ini mah." Naura meringis kesakitan, ia mengusap pipinya. Para santriwati yang ada di sana juga terkejut atas tindakan Azkia. Namun mereka juga ada yang tidak tahu jawaban pertanyaan Naura.
"Pasti sakit banget, itu. Kak Azkia jahat sampai menampar kak Naura segala," ucap Khanza prihatin sama Naura.
"Sakitlah, masa kagak. Panasnya pun masih terasa." Naura mendengus kesal.
"Jadi kamu percaya kalau rasa sakitnya ada?"
"Percaya karena aku yang merasakannya."
"Coba sekarang kamu tunjukkan rasa sakitnya padaku?"
"Bagaimana caranya? Kan hanya bisa dirasakan oleh ku, tidak bisa di tunjukan pada kamu."
"Maka itu adalah jawaban pertanyaanmu yang pertama. Bahwa sesungguhnya kita semua bisa merasakan adanya Allah tanpa bisa melihat wujudnya." Dan dari sini mereka yang ada di sana baru paham kalau tindakan Azkia suatu contoh yang nyata.
__ADS_1
Naura manggut-manggut.
"lalu apakah sebelumnya kamu pernah bermimpi akan ditampar olehku?" tanya Azkia lagi.
"Boro-boro mimpi, yang ada gak ingat apapun," jawab Naura.
"Dan apakah terbesit di pikiran kamu bahwa aku akan menamparmu hari ini juga?"
"Tentu tidak. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku."
"Maka inilah yang namanya takdir. Datang secara tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan terlebih dulu. Karena sesungguhnya takdir itu sulit ditebak dan sulit ditentukan. Lalu terbuat dari apa tangan yang aku gunakan untuk menampar pipi kamu?"
Naura memperhatikan tangannya. "Ini sih kulit. Jadi kemungkinan terbuat dari kulit."
"Lalu pipi kamu juga sama kulit kan?"
"Tentu, hampir seluruh tubuhku dibaluti kulit."
"Lalu bagaimana rasanya tamparanku ini? Apa terasa panas ketika kulit ketemu kulit?"
"Panaslah, masih terasa nih panasnya. Kamu menamparnya kencang, tahu."
"Dan itulah jawaban pertanyaanmu yang ketiga. Meskipun syetan diciptakan dari api, neraka diciptakan dari api juga, namun jika Allah sudah berkehendak maka tempat itu akan menjadi tempat yang paling menyakitkan untuk syetan." Penjelasan Azkia tentang semua pertanyaan yang dilontarkan dari Naura sangatlah mudah di pahami.
"Ah gitu, aku baru paham. Maklum, tempatku dibesarkan bukanlah tempat yang di penuhi orang-orang Sholeh, tapi bisa terbilang tempat maksiat. Jadinya aku tidak begitu paham tentang ajaran agama kalian. Aku pun menyadari kalau ketidaktahuan ku dalam agama sangatlah minim sekali. Jadinya aku tertarik untuk mempelajari lebih dalam agamaku dan Tuhanku. Namun, doaku adalah Semoga kita TIDAK termasuk orang-orang yang akan di tempatkan dengan Syetan." Itulah harapan Naura sebagai salah satu umat manusia. Sebejad-bejadnya dia, ingin sekali dirinya masuk surga meskipun ia tidak tahu surga itu seperti apa.
"Aamiin yarobbal'alamiin. Yang penting kita terus belajar dan menjalankan perintahnya dengan baik," kata Azkia.
"Dari tadi kita terus ngobrol, kapan kalian beres masaknya?" sambung Azkia memperhatikan semua orang yang sedang masak di sana.
__ADS_1
"Eh iya, kapan selesainya?"