
Resepsi pernikahan Azriel dan Naura ternyata di percepat dan itu atas permintaan Azzam. Alasannya karena tidak ingin adanya halangan lain. Mengingat cara mamanya berbuat hal nekat mengakibatkan Azzam berhati-hati. Dia takut mamanya mengacaukan segalanya dan itulah sebabnya kini resepsi pernikahan itu di percepat.
Suasana perta pernikahan itu begitu mewah dan juga terlihat sakral. Semuanya bersuka cita atas pernikahannya Naura dan Azriel. Banyak yang tidak percaya kalau keduanya bisa bersama. Namun mereka ikut bahagia karena pada akhirnya cinta Naura bersambut baik.
"Selamat ya Nau, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." Teman dari pesantren datang memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
"Terima kasih, Teh. Aamiin semoga Allah mengabulkannya."
Banyak sekali tamu undangan yang datang ke acara untuk memberikan ucapan selamat termasuk teman-teman sekolah Azriel, para rekan kerja Azzam pun menghadiri acara itu.
Raut wajah bahagia dua mempelai tidak bisa di sembunyikan lagi. Keduanya sangat bahagia atas pengesahan dan resepsi pernikahan mereka. Keduanya duduk menikmati pemandangan para tamu undangan yang sedang saling beraktivitas.
Azriel menggenggam tangan Naura. "Aku bahagia bisa memiliki kamu seutuhnya. Terima kasih sudah sabar menungguku dan terima kasih sudah menyebutkan namaku dalam setiap doamu."
Naura menoleh dan tersenyum. "Aku pun bahagia bisa menjadi wanitamu. Ini memang impianku untuk menjadikanmu imam dalam hidupku. Terima kasih juga sudah bersedia mengabulkan mimpiku menjadi wanitamu. Aku memang selalu memintamu dalam doaku, bahkan tasbih pemberian kamu pun menjadi saksi jika aku selalu menyebutkan nama kamu dalam doa-doa ku. Ketika cinta bertasbih maka semua menjadi baik. Dalam untaian doa dan dzikir tiada hentinya ku meminta pada sang pemilik alam untuk menjodohkan kita. Rupanya Allah mengabulkannya dan kini kamulah pemilik jiwa ragaku serta cintaku. Aku mencintaimu karena Allah dan insyaallah akan selalu mematuhi setiap permintaanmu dan insyaallah berbagi padamu. Bimbing aku jika berada dalam kesalahan, tegur aku jika nanti berbuat salah, dan jangan pernah bosan untuk terus berjalan bersamaku di jalan yang Allah ridhoi. Aku ingin menikah satu kali seumur hidupku dan aku berharap kita sampai ke till Jannah bersama-sama." Itulah keinginan Naura yang sesungguhnya. Tiada hal lain selain bersama sosok yang dia cintai sedari dulu.
Azriel begitu terpesona dan kagum atas untaian kata indah yang keluar dari mulut istrinya. Matanya berkaca-kaca menandakan jika dia bahagia bisa mendapatkan wanita ini. "Insyaallah, insyaallah aku akan menjadi suami terbaik. Semoga Allah meridhoi pernikahan kita dan semoga Allah senantiasa melindungi kita. Aku mencintaimu karena Allah, sekarang, esok, hingga selamanya." Tiada kata lain selain kata cinta yang sering mereka ungkapkan sebagai tanda jika mereka saling mencintai dan bagaimana atas takdir yang telah Allah gariskan pada mereka.
Di tengah rasa bahagia dia orang manusia, ada hati yang terluka karena mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Di bangku paling pojok, Revan menatap lekat wajah wanita yang dia cintai. Dia mengutarakan niatnya untuk melamar Khanza, namun apa yang dia dengar? Sebuah kata yang begitu menyakitkan.
"Maaf, aku tidak bisa menerima lamaran kamu karena seminggu lagi aku akan menikah." Itulah jawaban Khanza yang tidak bisa berani menatap Revan yang terus saja menatapnya. Hatinya sakit harus mendengar kenyataan jika pria itu menyukainya. Yang membuatnya sakit adalah, kenapa baru sekarang di saat semuanya sudah terlambat?
__ADS_1
"Me-menikah? Kamu akan menikah? Dengan siapa?" Revan tidak percaya Khanza bakalan menikah. Dia meyakini kalau Khanza wanita single yang tidak pernah berpacaran.
"Di jodohkan, aku sudah di jodohkan dan maaf aku tidak bisa menerima lamaran kamu." Lalu Khanza berdiri dari duduknya, "lupakan aku dan cari kebahagiaan kak Revan sendiri bersama wanita lain. Aku permisi dulu."
Tubuh Revan mematung tidak percaya kalau wanita yang ingin dia halalkan sudah menjadi calon istri orang. Dia patah hati kala cintanya kandas sebelum berjuang. Namun Revan berdiri dan mengejar Khanza.
"Tunggu!" Dia menghalangi jalan Khanza dan berdiri di hadapan gadis itu, katanya menatap lekat wajah cantik Khanza yang terlihat seperti tidak bahagia.
"Apa kamu bahagia dengan pilihan kamu ini?"
"Kak Revan tidak perlu tahu, tapi yang pasti aku ikhlas menerima garisan takdir ini."
"Ayo menikah denganku dan batalkan perjodohan ini. Aku serius ingin menikahimu." Revan masih berusaha untuk membuat Khanza mau menerimanya. Dia yakin jika Khanza tidaklah bahagia, dia bisa melihat dari raut wajah dan sorot mata Khanza.
Revan tersenyum berusaha tenang, lalu dia tertawa membuat Khanza mengerutkan keningnya menandakan kebingungan.
"Jangan terlalu serius, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin latihan karena nanti aku akan melamar kekasihku."
Deg.
Khanza mematung tak percaya kalau dokter itu hanya main-main saja. Lalu kenapa dia begitu serius? Ada apa dengan dirinya?
"Jangan kamu pikirkan ya, ini hanya latihan saja. Aku pikir jawaban kekasihku akan serius, eh kamu malah salah paham. Oh iya, selamat atas perjodohannya, semoga kamu bahagia dan aku senang kalau kamu bisa mendapatkan jodoh terbaik. Kalau gitu aku pergi dulu, aku harus menemui kekasihku yang mungkin saja sedang menunggu ku." Revan tersenyum tanpa beban seakan menunjukan dirinya baik-baik saja, padahal hatinya tengah patah hati. Dia pun pergi meninggalkan Khanza dalam keadaan bingung.
__ADS_1
"Jadi hanya latihan? Aku pikir ini serius? Kenapa hatiku sakit?" Khanza menempelkan telapak telapak tangannya di dada. "Ada apa dengan diriku?"
*****
Kembali pada kedua pengantin.
Keduanya sudah selesai dalam acaranya, kini mereka sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur king size dengan tangan saling berpegangan.
"Tidak pernah terbayangkan kalau kita akan berada di titik ini." Lalu Naura menyamping menatap wajah tampan suaminya yang masih terlentang.
"Semua terjadi karena jalan takdir yang telah Allah gariskan untuk kita." Azriel pun ikut menyamping dan kini keduanya saling bertatapan. Tangannya terulur mengusap wajah istrinya yang sudah bersih dari makeup dan juga tidak mengenakan hijabnya. Ya, mereka membersihkan diri bersama-sama tanpa adanya sentuhan fisik karena mereka tahu jika kamar mandi bukanlah tempat baik untuk saling menyatu.
"Aku berharap kita tetap bersama-sama melewati setiap cobaan dalam rumahtangga kita. Aku tahu kalau setelah ini akan ada cobaan lain datang dalam rumahtangga kita, tapi aku yakin kalau kita bisa melewatinya. Tetaplah berjuang bersamaku dalam membina rumahtangga sakinah, mawadah, dan warahmah."
"Insyaallah aku akan berjuang bersama kamu."
Rumahtangga terjamin karena adanya dua orang yang saling bekerja sama satu sama lainnya demi membangun rumahtangga yang di ridhoi Allah. Mereka tahu kalau hidup tidak akan pernah di situ saja dan mereka harus siap menghadapi segala macam rintangan yang ada dalam rumahtangga.
Selagi kita memiliki keyakinan kuat pada Allah, berpegang teguh pada pendirian, dan melibatkan Allah dalam segala hal maka segala sesuatu akan mudah di lewati dan akan ada solusinya. Tergantung kita mau membawa rumahtangga itu kemana, jalan yang baik atau jalan yang buruk.
Sesungguhnya jodoh adalah cerminan diri, jodoh sudah di tentukan. Sebagaimana kamu berusaha mendapatkan jika bukan jodoh tidak akan pernah bersatu. Dan seberusaha keras kamu menjauhinya, jarak memisahkan, tapi jika dia jodohmu maka akan tetap kembali pada kamu bagaimanapun caranya.
Semua tentang TAKDIR.
__ADS_1
Tamat ....