
Langkah tegap Genta membuat Aditya takut. Dia sudah siap mendapatkan Bogeman mentah dari ayahnya. Tangan kirinya terus merangkul pinggang Mentari tanpa mau melepaskannya.
"A-ayah!"
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu menjadi pria pecundang, Aditya? Sejak kapan kamu menjadi pria kurang ajar yang tega menghancurkan seorang wanita?" Sorot matanya Genta begitu tajam penuh kemarahan.
"A-aku ..." Mengapa sulit sekali mengakui kesalahannya di masa lalu. Padahal tadi di telpon dia bicara dengan lancar kalau dirinya telah menghamili anak orang.
Tatapan Genta beralih pada Mentari yang tengah ketakutan dan juga bingung. Namun sorot matanya yang tadi tajam berubah lembut.
"Kamu korban anak sialan ini, Nak? Kamu tenang saja, Ayah akan menghukum dia. Bilang sama Ayah apa yang telah dia lakukan pada kamu?"
Mentari bingung, bolehkah dia mengadukan kelakuan Aditya padanya lima tahun yang lalu?
"Ayah, Aditya bisa ..."
"Diam kamu! Ayah tidak bicara sama pria kurang ajar seperti kamu." Genta marah karena sipat kurang ajar Aditya turun darinya yang dulu pernah meninggalkan ibunya Naura.
Lalu beralih menatap Mentari. "Bilang, apa yang telah dia lakukan padamu?"
Tutur kata Genta yang halus membuat Mentari tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis terisak dan tanpa sungkan mengatakan semua yang terjadi padanya.
Bugh!
Tanpa di duga Genta memukul Aditya dan putranya tersungkur ke tanah.
"Apa ini yang ayah ajarkan sama kamu? Kamu itu bodoh, brengsek, bisa-bisanya menyakiti wanita dan lari begitu saja. Bisa-bisanya bertindak tanpa mencari tahu dulu. Dan sekarang apa? Kamu menyesal setelah mengetahui segalanya, hah?" Bentakan Genta mengalihkan perhatian orang-orang yang hendak ke mesjid.
__ADS_1
Aditya tidak menjawab ataupun melakukan perlawanan karena memang dia yang salah tidak mencari tahu dulu. Dia yang salah sudah bertindak salah pada Mentari sampai wanita itu mengalami berbagai macam peristiwa yang tidak pernah terduga. Mentari sendiri terkejut Aditya mendapatkan dua pukulan yang begitu keras sampai sudut bibir Aditya berdarah. Air matanya pun masih membasahi pipinya.
"Maaf." Hanya itu ucapan yang Aditya katakan untuk segala perbuatan yang dilakukan dirinya.
"Kata maaf tidak akan mengembalikan semuanya, Aditya. Segala sesuatu yang telah Mentari lewati tidak mudah dan itu semua kamu penyebabnya."
"Makanya aku mau bertanggungjawab."
"Bertanggungjawab apa? Kamu tidak perlu bertanggungjawab apapun jika nantinya semua luka yang kamu berikan akan membuat Mentari kembali terluka. Lebih baik kamu tidak usah menikahinya jika hanya untuk bertanggungjawab saja. Pernikahan bukan main-main."
Aditya berdiri. "Bukan hanya sekedar tanggung jawab saja, tapi juga karena sejujurnya Aditya masih Mencintai Mentari." Pada akhirnya Aditya jujur dengan perasaannya sendiri. Dia bilang cinta namun ternyata malah berucap benci. Akan tetapi dia sadar kalau dirinya tidak pernah membenci Menteri, hanya marah dan kecewa yang ternyata salah dirinya sendiri.
Mentari mematung, dia tidak percaya kalau Aditya masih mencintainya. Benarkah begitu? Jantungnya berdebar, dia menempelkan tangannya di dada merasakan debaran itu. Debaran yang sama yang selama ini masih dia rasakan dari dulu hingga sekarang. "Sulit sekali menghilangkan perasaan ini." batinnya.
"Cinta tapi menyakiti."
Genta menghela nafas. Lalu pandangannya beralih pada Mentari. "Semua keputusan ada di tangan kamu, jika memang kamu masih memiliki perasaan pada pria brengsek ini, Ayah tidak akan melarang. Namun jika kamu sudah tidak ingin menjalin hubungan dengannya, Ayah juga tidak akan memaksa. Ini bukan hanya sekedar menyatukan dua insan, tapi juga akan banyak hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Terserah kamu mau menerima dia lagi atau tidak."
"Ayah kok malah gitu sih? Aditya ini sedang berjuang malah di patahkan." Aditya kira ayahnya akan setuju dan ikut memaksa Mentari menikah dengannya. Namun malah pasrah.
"Pikirkan lagi baik-baik, Nak. Jangan karena pria ini ayahnya Sean kamu mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri. Jangan tertekan karenanya karena ini pilihan bukan paksaan."
Mentari bingung harus menjawab apa. Aditya menggenggam tangan Mentari membuat mata itu menatapnya.
"Tari, aku tahu kesalahanku di masa lalu begitu fatal. Aku juga tahu tidak akan mudah kamu maafkan dan tidak akan pernah mungkin bisa mengembalikan semuanya. Namun ijinkan aku membahagiakan kamu dan aku berjanji, bukan janji tapi akan membuktikan kalau aku akan membahagiakan kamu dan Sean. Beri aku kesempatan untuk membuktikan aku masih mencintaimu dan ingin memperbaiki semuanya walaupun terlambat."
Penuturan Aditya menghipnotis matanya, dia menyelami sorot mata itu untuk melihat kebohongan, namun dia malah melihat keseriusan. "A-aku ..."
__ADS_1
"Kalau kamu masih ragu, aku akan memberikan kamu waktu buat berpikir."
"Maaf menyela," ucap ustadz yang ada di sana sejak tadi menyimak. Dan mereka bertiga menoleh baru sadar berada di mana.
"Jika boleh saya menyarankan alangkah baiknya masalah ini di bicarakan di rumah. Ini area masjid dan sebentar lagi memasuki waktu adzan Maghrib."
"Maaf atas ketidaknyamanan pak Ustadz." Genta meminta maaf.
"Tapi saya ingin meminta bantuan pak Ustadz untuk menikahkan aku dan wanita yang ada di samping saya. Saya ingin menebus segala dosa yang saya perbuat kepada Allah dan juga padanya. Mungkin saya terlambat, tapi saya bersungguh-sungguh." Tidak ada keraguan dalam hatinya untuk menikahi Mentari. Dia yakin dan juga tidak akan pernah menyesal. Dia juga berjanji akan membahagiakan dua orang yang saat ini menjadi salah satu kehidupannya.
"Bagaimana Nak?" pak ustad utu meminta keputusan Mentari.
"Tapi ... Aku tidak punya wali, papaku sudah meninggal dan tidak ada sanak saudara lainnya." Mentari menunduk sedih, tapi jawab Mentari seakan memberikan lampu hijau untuk Aditya.
"Itu tidak jadi masalah, Nak. Saya yang akan menikahkan kalian dan saya yan nantinya akan menjadi wali hakim untuk kamu."
******
Dan ....
"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Almira binti almarhum Harianto dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Suara lantang Aditya menggema di dalam mesjid.
Sebelumnya Mentari sudah mengenakan pakaian tertutup milik salah satu warga yang ada di sana. Dia memberikan kesempatan untuk Aditya karena ternyata hatinya tidak bisa mengkhianati dirinya sendiri.
"Sah..."
Resmi sudah menjadi istrinya Aditya Buana.
__ADS_1