Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 31 - Sebuah Peringatan


__ADS_3

"Iya, Naura dimana? Dia tidak ikut lagi dengan kamu? Sudah beberapa kali kita kesini, tapi Naura tidak pernah mau menemui kita. Apa ada masalah dengannya?" tanya Azzam yang juga heran atas sikap Naura beberapa bulan belakangan ini. Menurutnya Naura selalu menghindari pertemuan mereka meskipun Khanza terus memaksanya.


"Tadi bilang ada hapalan yang harus di hapal, Ayah. Kak Naura itu sedang berusaha memantaskan dirinya untuk seseorang." Khanza bicara namun mata melirik kakaknya. Nampak raut wajah Azriel berubah terkejut.


"Seseorang? Apa ada pria yang sudah mengkhitbahnya?" tanya Azriel penasaran.


"Setahu aku sih belum meski banyak yang terang-terangan menyukainya. Namun kata Kak Naura, dia sedang menunggu seseorang yang pernah memberikan dia gelang tasbih. Menunggu datang menjadikannya pendamping, datang untuk meminangnya, dan datang menjadi imamnya menuntun ke jalan yang Allah ridhoi dan mau menerima segala kekurangannya. Kak Naura juga meyakini hatinya kalau pria di pemberi tasbih yang akan menjadi imam masa depannya. Itulah mengapa selama beberapa tahun ini kak Naura selalu belajar dengan giat." Meskipun Khanza tidak tahu masalahnya apa, tapi ia hanya tahu kalau wanita yang dekat dengannya itu sering belajar. Naura juga lebih banyak berinteraksi dengannya meski ada Azkia dan juga teman-teman yang lain.


"Sampai segitunya dia mengharapkan sosok si pemberi tasbih?" batin Azriel mengingat kejadian dulu dimana dia pernah memberikannya. "Apa tasbih itu masih ada padanya?" lagi-lagi batinnya yang berucap.


"Masyallah tabarokallah, sungguh calon makmum yang sempurna. Dia belajar dengan sungguh-sungguh untuk memantaskan dirinya sendiri. Sungguh tidak ada manusia yang lebih baik selain hambanya yang mau belajar dan memperbaiki diri. Kalau Bunda yang jadi prianya tidak akan pernah membiarkan dia pergi jauh dari hidup Bunda. Akan Bunda pastikan kalau Bunda yang akan menjadi pria beruntung memilikinya. Ini kalau Bunda pria ya," kata Azzura mengagumi sosok Naura dari dulu. Kegigihannya dalam belajar menjadi salah satu saya tarik sendiri bagi orang lain. Keseriusan dalam memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik membuat beberapa orang yang melihatnya kagum akan sosok Naura. Terutama kesopanan dan kebaikan selama tinggal di pondok sudah di ketahui banyak orang dan menjadi nilai plus di mata semua orang. Namun tetap saja yang namanya hidup tidak akan pernah lepas dari sosok yang tidak menyukainya. Terlebih Fatimah.

__ADS_1


"Tetap saja kotor meskipun mensucikan diri. Kalian lupa siapa Naura itu? Berasal dari tempat hina dan juga sudah tidak suci," kata Fatimah mencibir Naura.


"Astaghfirullah, Nek. Kita tidak pernah tahu kehidupan yang sebenarnya itu seperti apa? Jangan pernah menilai seseorang dari apa yang kita lihat dan kita dengar, karena terkadang semua itu bisa menipu. Sesungguhnya, kalau ucapan kita salah bisa menjadi fitnah. Dan apa Nenek tahu fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," kata Azriel memberikan nasehat kecil untuk neneknya yang suka bicara asal.


"Nenek tidak bicara sembarangan, itu memang kenyataannya. Dia sendiri yang bilang slalu dia itu berasal dari tempat hina, sering mabuk, sering judi, jadi wanita penghibur, dan juga sudah kotor. Apa itu kurang jelas juga? Buka mata kamu! Masih saja tertipu oleh tampang polosnya dia." Fatimah menggebu menjelekkan Naura. Meski sudah beberapa tahun lamanya, tapi rasa tidak ikhlas Naura di tolong keluarganya membuat Fatimah terus saja membenci Naura. Padahal selama ini Naura tidak pernah mengusik kehidupannya dan tidak pernah mempermalukan keluarganya serta keluarga pesantren. Justru Naura di kenal sebagai santriawati teladan dengan segala prestasinya.


"Fatimah, itu hanya masa lalunya saja. Tidak baik terus melihat masa lalu seseorang jika orang tersebut ingin memperbaiki dirinya. Allah saja maha pengampun dan maha pemaaf, tentu kita sebagai hambanya hanya bisa mendukung dan juga harus memaafkan segala kesalahannya. Setahuku Naura tidak pernah berbuat salah pada kalian," kata Umi Qulsum.


"Kalian selalu saja membela wanita murahan itu. Percuma bicara sama kalian semuanya." Lalu Fatimah beranjak keluar dari sana saking kesal karena tidak ada yang mendukungnya.


"Itulah hidup. Semakin umur kita beranjak dewasa, maka pemikiranmu akan berubah menjadi anak-anak lagi. Bahkan ada yang seperti bayi, mandi di mandikan, buang air besar di cebokin, itu sudah menjadi salah satu takdir manusia. Namun kalian harus sabar menghadapi sikap orangtua yang memiliki pikiran ke kanak-kanakan," tutur umi Qulsum.

__ADS_1


Memang benar, terkadang semakin usia bertambah tua banyak yang berpikir tidak dewasa. Namun juga tergantung cara pola pikir dari masing-masing orang. Namun kebanyakannya, makin bertambah usia makin sulit menemukan pikiran yang dewasa pula. Tapi ada juga yang usia muda memiliki pola pikir yang dewasa, jadi semua orang tidaklah sama.


*****


"Daripada memikirkan dia terus, mendingan aku ke belakang pondok saja untuk menenangkan diri." Setiap kali ingin menenangkan diri, Naura selalu diam di belakang pondok yang langsung tertuju pada hamparan sawah. Meskipun bisa melihatnya, tapi Naura tidak bisa kabur karena sekitar pondok di pagar menjulang tinggi dengan bagian atas memakai paku-paku yang di susun rapi.


Baru saja hendak keluar, tiba-tiba Fatimah datang menghampirinya. "Kamu ingat baik-baik, jangan pernah sekalipun mencoba untuk mendekati keluarga saya lagi atau kamu akan tahu akibatnya. Dan jangan pernah berharap untuk bisa menjadi bagian dalam keluargaku. Saya tahu pikiran picik kamu itu. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah membiarkan kamu masuk dalam kehidupan kami terutama cucuku!"


"Maaf, tidak ada niatan dalam hati dan pikiran ku untuk mendekati keluarga Anda. Namun jika memang takdir kami harus dekat, apa ini salahku? Aku tidak pernah ingin masuk kedalam kehidupan keluarga kalian, tapi entah kenapa Allah selalu saja mendekatkan aku dengan keluarga Anda." Dia tidak pernah berpikiran untuk menjadi keluarga mereka ataupun dekat dengan mereka. Namun satu hal yang sering Naura pertanyakan, kenapa rasa ini tumbuh begitu saja untuk seseorang si pemberi tasbih? Hanya itu yang ingin Naura tahu jawabannya. Terkadang Rasa ini membunuhnya jika mengingat setiap hari kata Rindu terus menumpuk di relung hati.


"Jangan bawa-bawa Allah karena wanita hina seperti mu tidak pantas di sebut hamba Allah!"

__ADS_1


"Lalu sebutan yang pantas untuk aku apa? Apa Anda juga merasa manusia paling pantas di muka bumi ini sampai Anda mengatur setiap kehidupan seseorang? Aku memang hina, tapi bukan berarti aku suka menghina orang lain apalagi berbicara tanpa tahu yang sesungguhnya. Maaf, itu bukan saya. Permisi." Lalu Naura pun pergi dari sana meninggalkan Fatimah.


"Dasar sombong!"


__ADS_2