
Pengakuan Naura tentang kehidupannya, mengenai semua yang terjadi padanya membuat beberapa orang terenyuh penuh iba. Ada yang bersyukur pintu hidayah terbuka pada hamba yang terpilih. Namun ada juga yang merasa kalau sikap Naura ini takut membuat beberapa orang mengikutinya.
"Manusia itu tempatnya salah, manusia itu tempatnya dosa, tidak ada manusia yang sempurna kecuali kesempurnaan milih Allah semata. Kamu mengakui semua kesalahan mu adalah suatu anugerah dari Allah bahwa kamu salah satu hamba yang terpilih untuk berjalan di jalan-NYA. Hidayah sudah menyertaimu, sayang. Maka manfaatkanlah hidayah ini dengan sebaik-baiknya. Sekalipun nanti aib mu di bongkar oleh seseorang, Umi tetap akan berada di belakang mu berdiri tegak membantumu berjalan di jalan-NYA. Jangan pernah takut untuk bertaubat, jangan pernah takut untuk mencari ridho-NYA, dan jangan pernah menyerah menjemput hidayah yang Allah kehendaki padamu. Dengan segenap hati yang ikhlas dan tangan terbuka, Umi akan menerimamu di sini tanpa melihat siapa kamu yang dulu. Mulai hari ini, sejak kamu menginjakkan kaki kamu di sini, Naura yang dulu sudah mati dan melahirkan Naura yang baru. Insyaallah Umi akan membimbing mu," tutur umi Qulsum begitu lembut tanpa mencela siapa Naura. Ia ingin merangkul gadis yang salah arah untuk membawanya ke jalan kebenaran.
Di sisa tangisnya, Naura mendongak menatap lembut wanita berumur yang sedang menatapnya penuh lembut. "Apa Umi seriusan akan menerima Nau mondok disini? Apa Umi tidak akan malu?" Naura memastikan lagi keputusan pemilik pondok. Ia tidak ingin karena kelakuannya yang jelek memalukan keluarga besar pondok.
"Kenapa harus malu jika ada orang yang ingin bertaubat? Justru yang malu itu, orang yang mencaci maki seseorang yang ingin bertaubat. Insyaallah Umi tidak akan malu memiliki santri seperti kamu, insyaallah juga kamu akan menjadi salah satu santri kebanggaan di pondok ini. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, Kun fayakun." Ada keyakinan tersendiri dalam hati Umi Qulsum bahwa Naura akan menjadi seseorang yang luar biasa. Ntah itu apa, tapi Umi meyakini itu.
"Tapi Qulsum, dia itu seseorang berasal dari tempat hiburan, apa kita bisa menjamin kalau pengaruh buruknya tidak akan membuat orang-orang terpengaruh?" tanya Fatimah takut kalau kehadiran Naura mempengaruhi cucunya.
"Insyaallah tidak akan. Saya sendiri yang akan menjamin itu. Kalau begitu, Asiah, tolong kamu panggilkan Azkia ke sini!" pinta umi kepada mantu pertamanya.
"Baik, Umi." Wanita bergamis syar'i dengan hijab panjang menutupi dadanya berdiri pamit undur diri memanggil Azkia.
"Orang penghuni malam begini masih mau Umi masukan ke pondok kita, bagaimana jika suatu hari nanti dia berbuat ulah? Kita yang akan malu, Umi." Kali ini suara Annisa yang keluar dengan tatapan kurang suka pada Naura.
"Annisa, meskipun dia berasal dari tempat yang hina kita tidak pernah tahu kedepannya seperti apa. Siapa tahu dia akan masuk surga dibandingkan kamu yang suka bicara tanpa berpikir," balas Umi menyentil sikap menantu keduanya yang selalu bicara omong kosong.
"Nisa, mendingan kamu diam daripada bikin rusuh! Selalu saja bicara tanpa di pikir, aku malu tahu." Ahmad menegur istrinya yang kerapkali berkata semaunya. Mulutnya itu begitu pedas padahal sudah sering di nasehati, tapi tetap saja bentuknya begitu.
"ck, iya iya, aku diam." Namun dalam hati menggerutu kesal.
"Lebih baik kamu pertimbangan lagi, Qulsum," kata Fatimah.
"Mah, kalau orang ingin memperbaiki diri seharusnya di dukung. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua termasuk Naura," ucap Azzam.
"Iya, Nek. Allah saja maha pengampun, maha penyayang, dan maha pemberi kesempatan. Bagi siapa saja yang ingin bertaubat, Allah mempersilahkannya. Jadi kita harus memberikan kesempatan pada Naura untuk menunjukkan pertaubatannya dan kita tidak boleh menghakimi orang." Azriel pun ikut membela Naura. Baginya Naura sosok wanita yang luar biasa mau mengakui kesalahannya dan mau memperbaiki semuanya kesalahannya. Ia takjub akan kejujuran Naura tentang siapa dia, berasal dari mana dan tinggal dimana.
"Kalian sama saja, sama-sama di butakan oleh tampang sok polosnya wanita benalu ini." Fatimah malas membahasnya lagi seakan tidak ada yang mau membelanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab semua orang. Fatimah yang melihat gadis remaja itu tersenyum senang.
"Cantik sekali, ini dia calon bidadari surga." Fatimah memuji Azkia.
"Kia, tolong kamu antarkan Naura dan Khanza ke kobong tiga, ya." Umi Qulsum meminta cucu pertamanya mengajak Naura dan Khanza ke area penginapan pesantren..
"Iya, Umi. Mari." tanpa menguras rasa sopan santunnya, Naura dan Khanza berpamitan kepada orang-orang yang ada di sana. Namu ketika hendak menyalami Fatimah, Fatimah menepis kasar tangan Naura.
"Nenek!" Khanza menegur sikap neneknya yang tidak mencerminkan seorang orangtua.
"Tidak apa-apa, aku pamit dulu." Naura tidak ingin ada keributan karenanya, jadi ia lebih dulu ke luar rumah. Pun dengan Khanza yang juga mengikuti Naura.
"Itu cucu pertama mu sudah ada yang khitbah belum?" tanya Fatimah pada Qulsum.
"Belum ada, masih sekolah kelas dua Aliah."
"Ukhuk.. ukhuk.." Azriel yang tengah minum tersedak minumannya. Mereka yang ada di sana tentu kaget atas perkataan Fatimah.
"Nek, aku tidak mau di jodohkan, ya! Baik dengan anak siapa pun itu, aku tidak mau! Permisi" Azriel menolak keras keinginan neneknya itu, lalu beranjak keluar.
"Maaf, Umi. Mama saya suka bercanda, jadi jangan di anggap serius ya," kata Azzam tidak enak hati.
"Kalau jodoh tidak akan kemana. Kita lihat saja kedepannya seperti apa." Hanya itu jawaban yang di berikan oleh Umi Qulsum tanpa menolak ataupun mengiakan.
*****
"Bisa-bisanya nenek bicara begitu. Sampai kapanpun aku tidak mau di jodohkan." Azriel menggerutu kesal, ia terus melangkahkan kakinya ke luar gerbang pondok.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Azriel tunggu!" Azriel pun menoleh.
"Naura, bukannya kamu mau berkeliling pondok?"
"Melihat kamu keluar aku mampir ke mari dulu. Ada hal yang ingin aku sampaikan."
"Soal apa?"
Naura menunduk sembari mencekal kuat tasbih pemberian Azriel. Hatinya terus berzikir supaya mendapatkan ketenangan di saat rasa gugup menyerang. "Terima kasih sudah membawaku ke jalan ini. Jika aku tidak bertemu denganmu, pasti aku masih diam di tempat."
"Oh itu. Aku hanya sebagai perantara saja, itu semua berasal dari dalam diri kamu sendiri."
Naura mendongak. "Boleh aku mengatakan sesuatu lagi?"
"Tentu boleh, itu hak kamu." Namun mata Azriel tidak menatap Naura. Pandangannya tertuju pada hamparan sawah di sekeliling area pesantren.
"Seandainya kita ditakdirkan bertemu lagi, apa kamu mau menjadi imamku dan membimbing aku menuju surga-NYa?"
Deg.
Tiba-tiba jantung Azriel berdetak dan terkejut atas apa yang ia dengar. Ia bingung akan menjawab apa. Namun ia menunduk. tersenyum tipis.
"Aku tidak bisa menjawabnya, tapi alangkah baiknya kita memantaskan diri terlebih dahulu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Jika kita berjodoh maka Allah akan persatukan kita dengan cara-NYA, jika tidak berjodoh itu adalah jalan terbaik menurut-NYA."
Naura tersenyum. "Aku anggap itu adalah sebuah jawaban dari kamu. Maka aku akan berusaha memantaskan diriku untukmu. Terima kasih atas jawabannya dan akan ku simpan tasbih pemberian kamu sebagai lambang bahwa aku akan menunggu mu."
Lagi-lagi Azriel dibuat termangu dengan pikiran bertanya-tanya.
__ADS_1