
Keterkejutan itu ada, rasa itu masih ada, namun dia tidak mungkin lagi bisa seperti dulu di saat pria itu begitu menyakitinya dan menghina harga dirinya.
"Ngapain lo di sini?" ketus, begitu suara Aditya menyapa sosok perempuan yang ada di hadapannya. Wajahnya masih sama namun penampilannya berbeda. Wajahnya jauh lebih terawat dan juga penampilannya berbeda dari dulu. Jika dulu tidak mengenakan hijab, tapi kini mengenakan hijab.
"Maaf, saya ingin bertemu pemilik toko ini. Apa boleh?" Perempuan itu tidak tahu jika pemilik tokonya adalah Aditya sendiri.
"Ngapain lo bertemu dia? Mau jadi wanita simpanannya? Mau menyerahkan tubuh lo demi uang? Ck, belum berubah juga ternyata." Aditya menatap benci perempuan itu. Rupanya kisah masa lalunya belum bisa ia lupakan. Padahal kejadian itu sudah sangat lama dan sudah lima tahun lamanya, namun Aditya tidak bisa melupakan kejadian di masa lalunya.
Perempuan itu menghela nafas berat. Dia berusaha sabar meski hatinya berdenyut sakit terus di hina oleh pria yang pernah dia cintai sampai rela menyerahkan seluruh jiwanya.
"Terserah apa kata Anda, aku mau ketemu pemilik toko ini. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan." Dia hendak masuk, tapi Aditya menghalanginya.
"Perempuan seperti lo tidak berhak masuk ke sini, mengotori tempat ini tahu. Pergi sana! Bos tidak akan suka melihat lo!"
Namun dia tetap kekeh ingin masuk tanpa memperdulikan Aditya. "Minggir! Aku mau ketemu pemilik toko ini!"
"Gue tidak akan membiarkan lo masuk kesini!"
"Apaan sih, gak jelas banget. Aku ada urusan, minggir!" Perempuan itu kekeh masuk, dia menggeser tubuh Aditya. Namun tangannya malah di tarik paksa oleh Aditya.
Pria itu membawanya keluar dari toko dan menghempaskan tangannya sampai perempuan itu hampir saja terjatuh.
"Gue peringatkan lo sekali lagi untuk tidak hadir dalam hidup gue! Jangan datang ke toko ini karena gue benci lo, sialan!"
Perempuan itu lagi-lagi membuang nafas Karas. "Aku datang kesini melihat kertas lowongan kerja, aku mau melamar kerja. Mau ketemu pemilik toko. Minggir!"
__ADS_1
"Ck, tidak akan gue biarkan lo masuk ke dalam toko ini. Tidak ada lowongan untuk orang seperti lo. Pergi sana! Dasar murahan."
Dia memejamkan matanya kala kata menyakitkan itu terus menerus dia dengar.
Dia tersenyum miris, "murahan. Rupanya anda masih tidak bisa melupakan kejadian lima tahun yang lalu wahai Aditya Buana. Ck, mulut dan pikiranmu masih saja berkata kasar. Percuma menjelaskan pun kamu tidak akan pernah percaya." Namun air matanya menetes begitu saja. Perasaannya masih sakit jika mengingat masa lalu mereka. Dulu yang pernah saling mencintai kini malah saling membenci. Terutama Aditya yang selalu saja menyakiti perasaannya dengan perkataan yang begitu menyakitinya.
"Ah, percuma aku menangis. Toh tidak akan membuat kehidupanku kembali ke semula. Semua sudah berubah." Perempuan itu tersenyum miris menertawakan dirinya yang masih saja memiliki perasaan pada pria yang jelas-jelas telah menyakitinya.
Aditya diam, dia memilih masuk kedalam dengan pikiran kacau, hati gelisah, amarah memuncak. Dia terus saja terbayang kejadian masa lalu mereka.
Pun dengan perempuan yang masih menatap punggung Aditya dengan tatapan sendu. "Kenapa rasa ini masih ada, Bang? Meskipun kamu sudah menyakiti aku, tapi aku masih mencintaimu. Kenapa begitu sulit melupakan mu dan kenangan pahit dan manis tentang kita," lirihnya menunduk kacau.
Di dalam ruangan kerja Aditya, pria itu menjambak rambutnya sendiri. "Brengsek! Kenapa dia datang lagi sih? Gue sudah nyaman hidup tanpa kehadiran dia, sekarang dia hadir lagi membuka luka lama. Dasar pengkhianat." Aditya menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja, dia melipatkan kedua tangan ke atas meja dan wajahnya di telusupkan ke tangan. Pikirannya kembali terbayang kisah masa lalu keduanya.
FLASHBACK
Pada malam itu, pacar Aditya yang bernama Mentari memberikan sebuah kejutan kecil di kontrakan tempat Aditya ngekos. Karena jauh dari rumah, jadinya ngekos. Mentari datang ke kossan Aditya tengah malam seorang diri sembari membawa kue tart berhiaskan lilin.
"Selamat ulang tahun, Abang." Senyum cantik Mentari mampu membuat Aditya terpana.
"Terima, sayang. Malam-malam gini datang kesini untuk merayakan ulang tahun ku, romantis sekali kamu."
"Sebisa ku, Tari akan memberikan kejutan kecil buat Abang. Ya, meski harus tengah malam datang ke sini. Ayo dong potong kuenya!"
Aditya tersenyum, dia mengangguk lalu memotong kue tart nya. Hanya ada mereka berdua di dalam kos. Keduanya menikmati makan malam berduaan sampai nonton bareng film romantis.
__ADS_1
Melihat adegan kiss, membuat Aditya melakukan hal itu pada kekasihnya. Dia yang bebas selalu saja melakukan hal di luar kendali bersama kekasihnya.
"Sayang," lirih Aditya ketika suasa semakin panas. Hawa panas yang ia rasakan dalam tubuhnya sudah tidak bisa terkendali lagi. Dia semakin merapatkan tubuhnya pada Mentari.
"Iya, Bang. Tari di sini." Pun dengan Mentari yang juga sudah sama merasa hawa panas.
Aditya kembali menyatukan bibir mereka sambil membawa kekasihnya ke dalam kamar. Lama saling bergulat, keduanya sudah saling polos tanpa sehelai benangpun.
"Tari, bolehkan? Aku janji akan bertanggungjawab." Mereka yang sering melakukan making out tidak pernah kebablasan, namun kali ini Aditya tidak bisa menahan diri dan gayung pun bersambut. Mentari juga mempersilahkan sang kekasih melaluinya. Dia begitu percaya kalau kekasihnya tidak akan pernah meninggalkan dia setelah penyerahan ini.
"Iya, Bang. Semua yang ada di Tari milik Abang. Abang orang pertama yang sudah nyentuh Tari. Jangan tinggalkan. Tari, Bang. Tari mencintai Abang."
"Tidak akan, sayang. Aku janji." Aditya semakin menggebu. Dia sudah tidak sabar mengarahkan miliknya pada bagian inti sang ke kasih. Dia pikir akan susah, namun pikirannya salah. Begitu mudah meski rasanya masih sempit. Banyak pertanyaan di benak Aditya, benarkah dirinya yang pertama? Jika iya kenapa miliknya cukup mudah masih dan tidak merasa ada penghalang.
Namun karena nafsu menguasai, amarahnya memuncak karena merasa di bohongi. Aditya bermain kasar. Mentari merasa heran, kekasihnya tidak pernah seperti ini.
Aditya segera bangkit setelah mengeluarkan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Dia berdiri dan cepat-cepat mengambil handuk dengan raut wajah yang terlihat marah.
Mentari menarik selimutnya, dia meringis masih merasakan perih. "Abang kenapa?"
"Siapa dia?" tanya Aditya berdiri menatap tajam wajah kekasihnya.
"Siapa dia? Maksud Abang apa?" Tari tidak mengerti.
"Siapa orang sudah menyentuhmu selain aku?"
__ADS_1
Deg.
"Bang!!"