
"Hahaha lo bilang gue? Ngaca dong! Bukan cuman gue, tapi ada orang lain yang sudah ngerusak lo sebelum gue dan lo malah nyalahin gue? Menjijikan!" Aditya mendelik tajam tidak terima dengan tuduhan Mentari. Padahal dia lupa kalau semua yang ada di dalam diri mentari memang dirinya yang pertama.
"Percuma menjelaskan pada orang yang tidak pernah mau mendengarkan. Percuma bilang sama lo yang keras kepala ini karena sampai kapanpun lo tidak akan pernah percaya. Sekalipun gue bilang apa yang terjadi di saat lo mabuk pada saat pesta ultahnya Liviana, lo tidak akan ingat itu." Balas Mentari dengan sengit menatap tajam dan juga terlihat sorot penuh luka dimana Mentari. Bahkan air matanya menetes membasahi pipinya.
Luka itu masih membekas dalam diri Mentari hingga saat ini. Bahkan dia harus berjuang sendirian melawan kerasnya kehidupan yang selalu saja tidak berpihak padanya. Bukan hanya duka, luka, namun juga kecewa dia rasakan pada sosok pria yang sebenarnya masih dia cintai hingga saat ini.
"Ma-mabuk?!" Aditya tergugu mendengar kata mabuk. Dia mengingat-ingat lagi kejadian beberapa tahun silam. Dia memang pernah bangun dalam keadaan yang tidak berpakaian, pada saat itu pula dirinya di kejutkan oleh setetes noda di atas sprei.
Mentari menatap sinis. "Lo ingin tahu apa yang terjadi sebelumnya? Lo ingin tahu apa yang lo lakukan di malam itu? Lo mabuk, lo di jebak Liviana, lo hampir main gila dengan Liviana. Untungnya gue datang menyelamatkan lo, tapi apa yang lo lakukan? Di kontrakan itu, tempat dimana gue menyerahkan segalanya pada lo. Dan untuk kedua kalinya gue juga menyerahkan diri gue pada pria brengsek seperti lo karena gue percaya kalau lo tidak akan pernah meninggalkan gue. Namun apa yang gue dapat?" Mentari menghapus air matanya secara kasar, dia tersenyum sinis dengan sorot mata terluka.
"Lo menuduh gue tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun. Lo melemparkan uang pada wajah gue seakan gue ini ja lang yang telah memuaskan birahi lo." Mentari mendorong tubuh Aditya yang sedang diam mematung. Dia mulai mengingat kejadian-kejadian dulu pada saat pesta di rumahnya Liviana.
"Bodoh! Gue wanita terbodoh yang mudah termakan rayuan busuk lo. Gue wanita bodoh yang percaya sama janji-janji manis yang lo ucapkan. Seharusnya gue tidak semudah itu percaya dan menyerahkan segalanya. Dari SMA, dari SMA hanya lo saja cowok yang membuat gue murahan. Lo, hanya lo saja Aditya!"
"Tapi apa yang gue dapat? Lo seenaknya bilang gue murahan padahal hanya kepada lo saja gue seperti itu. Lo brengsek! Pria yang paling brengsek gue kenal, Aditya. Gue membenci lo, karena lo gue harus kehilangan arang tua, karena lo gue harus mengahadapi segala macam hinaan dari banyak orang, karena lo juga gue harus membesarkan Sean sendirian!" pekik Mentari mengeluarkan segala macam beban pikiran yang selama ini dia pendam sendiri. Dia terus saja mendorong tubuh Aditya sampai pria itu terduduk di kursi dengan segala macam pikirnya.
Deg.
Baik Naura dan Aditya tertegun atas pengakuan Mentari. Keduanya sama-sama terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Sean?!" ucap Aditya menerka-nerka siapa Sean.
Mendengar nama Sean, Mentari tersadar. "Tidak, Sean milikku. Dia tidak akan pernah menjadi milik siapapun." Mentari kelimpungan, dia berlari dari sana dalam keadaan kacau. Tujuan utamanya kembali ke rumah sakit menemui anaknya.
"Mbak tunggu, Mbak!" Naura mencegahnya, akan tetapi Menteri menepis tangan Naura dan terus berlari dari sana tanpa peduli teriakan Naura.
"Mbak Mentari tunggu!"
"Kak, ada apa ini? Apa yang kamu lakukan padanya, Kak? Benarkah ucapannya itu? Apa benar anak kalian?" Naura hanya menebak saja. Sebenarnya Naura mencerna setiap perkataan Mentari tadi, dia menyimaknya dan dia menyimpulkan sendiri jika Mentari dan Aditya pernah menjalin kasih hingga berhubungan badan sampai menghasilkan Sean. Itu yang Naura tebak dari pertengkaran barusan.
Aditya mendongak menatap Naura. "Kamu tahu Sean?" Entah kenapa Aditya mulai tertarik dengan nama itu.
"Dia anaknya Mbak Mentari. Saat ini sedang di rawat di rumah sakit karena sakit tipes."
"Sean, anaknya Mentari? Apa mungkin?" Aditya memikirkan semuanya. Bayang-bayang masa lalu mulai melintas di pikirannya. "Gue harus tanya Revan."
Aditya mencari ponselnya. Setelah menemukannya cepat-cepat menghubungi Revan.
__ADS_1
"Revan, gue mau tanya sesuatu."
( "Tanya apaan sih? Gue lagi membereskan pekerjaan terakhir gue. Ada masalah apa sampai lo kedengaran panik?" )
"Lo ingat kejadian lima tahun yang lalu di saat gue mabuk?"
( "Mabuk?" )
"Dari pesta ultahnya Liviana." Aditya menunggu cemas jawaban Revan. Hanya dia yang Aditya percaya.
( "Ingat, kenapa? Lo ingin tahu siapa yang sudah menyelamatkan lo dari Liviana? Kalau mau tahu, Mentari yang bawa lo balik dari jerat Liviana. Selebihnya gue tidak tahu apapun tentang lo, Liviana, dan Mentari. Lo kan tidak menceritakan hubungan kalian." )
"Oh **!*!! Gue ... Ah sialan."
( "Lo ngatain gue sialan?" )
"Iya, lo memang sialan tidak memberitahu gue kalau yang bawa gue pulang adalah mentari."
( "Dih, lo nya tidak nya dan gue kira lo tahu." )
"Akkkhh! Brengsek!" Aditya mematikan sambungan teleponnya.
"Kakak belum tahu. Kakak harus meyakinkan sesuatu." Aditya berlari dari sana mengejar Mentari.
"Kak tunggu, Kak. Aku ikut." Naura juga ikut mengejar Aditya.
"Kamu tunggu saja."
"Tapi aku tahu ruangan Sean berada."
Langkah Aditya terhenti dan dia langsung menoleh pada Naura. "Kalau begitu kita berangkat bareng ke sananya."
*****
"Azriel cepat kembali ke rumah sakit sekarang juga!" Aditya masuk ke dalam mobil yang Azriel tumpangi.
"Loh kok?" Pria itu kebingungan.
__ADS_1
"Buruan jalan, adik ipar!" Aditya berucap tegas.
"Ada apa sih, sayang?" tanya Azriel pada Naura yang ada di belakangnya.
"Ada hal penting yang harus di pastikan dulu."
"Azriel buruan jalankan mobilnya!" Aditya kembali bersuara.
Dan Azriel pun mengangguk meskipun dia bingung apa yang sedang terjadi saat ini.
*******
"Pak bisa lebih cepat lagi menjalankan mobilnya! Anak saya sedang menunggu." Mentari terus dilanda panik, dia takut Sean di ambil Aditya.
"Jalannya macet, Mbak. Sabar dulu."
Mentari melihat ke depan dan ke belakang. Memang jalanan yang ada di sana cukup macet.
"Bagaimana bisa sabar jika saya harus segera ketemu anak."
"Tapi mau bagaimana lagi, Mbak? Depan belakang macet parah."
Mentari menghela nafas berat. Terpaksa dirinya harus menunggu jalannya lancar jika ingin sampai ke rumah sakit.
Lain halnya dengan Aditya dan pasangan yang baru halal, mereka lebih dulu sampai karena menggunakan jalur pintas ketika di landa kemacetan.
"Dimana ruangan dia berada, Nau? Cepat tunjukan!" Aditya sudah tidak sabar ingin melihat wajah anak itu dan ingin bertanya banyak hal pada Mentari.
"Di sebelah sana!" tunjuk Naura.
"Ada apa, sayang?" Azriel dari tadi di buat penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, Hubby. Sepertinya ada cinta lama belum kelar." Naura yang kebetulan ada di belakang Aditya bisa menjawab pertanyaan suaminya. Azriel mengangguk saja.
"Ini ruangannya, Kak." Naura menunjukan ruangan Sean di rawat.
Aditya segera memegang gagang pintu dan langsung menerobos masuk.
__ADS_1
"Mentari!"