
Mendengar kabar ibunya jatuh sakit, Naura ingin cepat pulang lagi ke kota J untuk melihat keadaan sang ibu. Perasaan yang ia rasakan saat ini semakin tidak karuan, rasa khawatir yang ia rasakan sebelumnya menjadi bertambah kali lipat lagi dengan adanya kabar mengejutkan yang ia dapatkan.
"Ibu sakit? Sakit apa? Apa kamu di beritahu tentang penyakit ibuku?" Naura mendesak teman satu pondok buat memberitahu apa lagi yang terjadi pada ibunya.
"Aku kurang tahu, Nau. Namun barusan kata Umi Qulsum cepat ke sana, ada yang harus di bicarakan." Dia sendiri tidak tahu tentang penyakit ibunya Naura. Namun dirinya hanya diamanatkan untuk memberitahu Naura tentang kabar ini pada Naura.
"Ok, kalau gitu terima kasih atas kabarnya. Aku pamit dulu, assalamualaikum." Naura tergesa, ia berlari menuju rumah Umi Qulsum dengan perasaan campur aduk.
Dia kembali berlari sampai tubuhnya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.
Bruk!
"Astaghfirullah! Jalan lihat-lihat dong, buta hah?" sentak orang itu menggeram kesal karena tubuhnya terhunyung ke tanah, tapi Naura tidak.
Naura menoleh. "Maaf, maaf ustadz Annisa. aku lagi buru-buru." Naura tidak lagi menghiraukan Anissa, dia kembali berlari ingin memastikan kabar yang ia dengar barusan.
"Dasar edann, bisa-bisanya dia tidak membantuku. Dia yang nabrak malah pergi begitu saja." Anissa menggerutu kesal.
"Umi ngapain di sana? Lagi main tanah?" celetuk Fitri, anak kedua Anissa.
Anissa mendelik tidak suka. "Gak lihat kalau umi terjatuh? Emangnya mata kamu buta gak bisa membedakan mana jatuh mana main? Bukannya bantuin malah ngomong tidak jelas, anak durhaka kamu." Anissa begitu sewot, ia malah marah-marah tidak jelas.
"Oh Umi minta bantuan sama Fitri? Bilang dari tadi kalau Umi jatuh." Lalu Fitri mengulurkan tangannya membantu Anissa untuk bangun. Anissa menerima uluran tangan putrinya, namun seseorang memanggilnya.
"Fitri buruan, waktunya patrol."
"Astaghfirullah, aku lupa." Fitri kembali melepaskan tangannya hingga Anissa kembali terduduk di tanah lagi.
"Astaghfirullah Fitri..." Anissa memekik kesal.
"Eh! Maaf, Umi."
******
"Assalamualaikum, Umi." Nafas Naura ngos-ngosan, ia menerobos masuk ke dalam rumah Umi Qulsum tanpa permisi dulu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Umi dan juga Ustazah Asiah yang memang tengah berada di sana.
"Naura."
"Umi, tadi aku dapat ..."
"Iya, Nau. Umi yang nyuruh beliau mencari kamu. Ada kabar dari orangtua kamu, sebenarnya yang menghubungi katanya pemilik warung tempat kerja ibu kamu. Katanya ibu kamu masuk rumah sakit dan sekarang sedang di rawat," kata Umi Qulsum memberitahukan perihal ibunya Naura.
Naura mematung. "Ibu sakit apa?" lirihnya sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa selain kebingungan, kesedihan, perasaan campur aduk yang ia rasakan saat ini.
"Menurut ibu itu, ibu mu mengalami kecelakaan di depan tokonya."
"Astaghfirullah, Ya Allah!" Naura membekap mulutnya atas kabar mengejutkan ini. "Ke-kecelakaan." Seketika tubuhnya terasa lemas dengan segala perasaan tidak menentu.
"Yang sabar, Sayang." Ustadzah Asiah menghampiri Naura yang tengah diam mematung, namun air matanya mengalir deras.
"U-Umi, Ustazah, Naura mohon izin pulang." Saat ini pikirannya terus tertuju pada ibunya sendiri. Ia takut kehilangan satu-satunya orangtuanya, ia takut terjadi apa-apa pada ibunya. Hanya sang ibu yang saat ini Naura miliki.
"Umi izinkan, Nak."
******
"Semoga nenek baik-baik saja, Kakak sangat khawatir sama dia." Azriel terus mondar-mandir di depan pintu pemeriksaan.
Namun berbeda dengan Khanza yang justru pikirannya tertuju pada Naura. Meskipun ia gelisah akan keadaan sang Nenek, tapi hatinya tidak tenang mengingat Naura. Dia yang selalu ada di dekat Naura sudah merasa sangat dekat dan tahu bagaimana Naura.
"Kak Naura, semoga kamu baik-baik saja. Maafkan sikap kakak aku, tapi aku yakin kalau dia tidak bermaksud membentak mu," batin Khanza gelisah.
"Khanza kamu yang tenang, Nenek pasti baik-baik saja." Dia merasa Khanza sedang memikirkan keadaan Neneknya, padahal pikiran gadis itu bercabang.
"Hati kecilku merasa nenek baik-baik saja, Kak. Tapi aku tidak yakin dengan kak Naura. Hati ku gelisah, pikiranku terus tertuju padanya. Dia itu sebenarnya rapuh, Kak. Dia tidak sekuat yang di lihat."
Deg.
Azriel tertegun. Ia kembali teringat pada ucapannya yang terkesan menyalahkan Naura atas keadaan Neneknya. Dia juga mengusap wajahnya secara kasar saking kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi sampai harus membentak Naura.
__ADS_1
"Dan sikap kakak tadi sudah membuatku kecewa terutama Kak Naura. Kalau aku menjadi dia, aku pasti sangat marah ketika diriku di perlakukan seperti tadi. Seharusnya kakak melihat dari dua sudut yang berbeda, sekarang Kak Naura hatinya terluka. Bukannya kakak mencintainya? Jika iya, seharusnya kakak bisa bersikap lebih tenang."
Azriel terduduk lemas, pikiran semakin kacau saja. Satu urusan belum selesai, kini bertambah dengan rasa bersalahnya pada Naura. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan, kini pikirannya tertuju pada Naura yang sedang seorang diri.
Tak lama kemudian Dokter keluar.
"Doktor." Khanza mendekati dokternya. Azriel pun berdiri mendekati.
"Bagaimana keadaan nenek saya, Dok?" tanya Azriel tidak sabar ingin tahu keadaan neneknya.
Dokter itu nampak menghela nafas panjang. "Saya harus mengatakan hal ini. Setelah saya memeriksa keadaannya, nenek Anda mengalami serangan jantung ringan. Itulah sebabnya di bagian dada terasa sakit."
"Apa?! Sakit jantung!" pekik Azriel dan Khanza syok mendengar kabar ini.
"Kak," ucap Khanza langsung memeluk kakaknya.
"Saya harap kalian menjaga emosinya dan juga jangan terlalu membebani beliau."
"Nenek kena serangan jantung?! Ya Allah, cobaan apa ini?" lirih Azriel terasa sesak mengetahui kenyataan ini.
******
Berbeda dengan Naura. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang di beritahu oleh pemilik warung makan tempat ibunya bekerja, Naura tidak hentinya menangis takut. Perasaannya tidak menentu dengan segala macam pikiran yang kacau.
Dalam hatinya terus berdoa, tangannya tiada henti menggerakkan tiap butir tasbih yang seringkali ia pegang dengan harapan apa yang ia doakan untuk kebaikan ibunya.
Perjalanan dari kota B menuju kota J cukup memakan waktu sampai dua jam lamanya. Waktu terus berjalan hingga tak terasa Naura tiba di rumah sakit yang di tuju.
Langkah tergesa dengan jantung berdebar kencang menuntun tubuhnya untuk mencari ruangan sang ibu. Hingga mata tertuju pada sosok yang ia kenal.
"Assalamualaikum, Bu Nur." Naura langsung menyapa pemilik warungnya dengan tangis tak bisa di bendung lagi. Pertahanan runtuh ketika ia sampai di rumah sakit.
"Waalaikumsalam, Naura." Ibu Nur langsung memeluk tubuh Naura. "Yang sabar, Sayang. Allah tengah menguji kesabaran kamu."
Deg.
__ADS_1
Lagi-lagi perasaannya tidak karuan. Namun ia tetap berusaha tenang menyerahkan segala urusannya pada sang pemilik alam.
"Bu, apa yang terjadi pada Ibuku? Kenapa Ibu bisa mengalami kecelakaan?"