Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 40 - Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Lagi-lagi Naura harus kembali berjauhan dengan sosok yang ia kagumi dalam diamnya. Padahal dirinya sudah merasakan senang dan juga bahagia bisa menatap sosok yang memang ia rindukan dalam setiap doanya. Namun kini harus kembali di jauhkan dari pandangannya.


Tapi sebelum Naura berjauhan dengan Azriel lagi, dia hendak menunggu pria itu keluar dari rumah umi Qulsum. Naura ingin bicara serius pada pria itu.


Melihat pergerakan Azriel yang sudah jauh dari rumahnya Umi Qulsum dan juga keadaan di sana sudah terbilang aman dari kalangan santriawati, Naura segera memanggil Azriel.


"Assalamualaikum Ustadz," ucap Naura tiba-tiba berdiri di samping Azriel.


"Waalaikumsalam." Azriel sempat kaget atas keberadaan Naura secara tiba-tiba, tapi ia bisa mengatur keterkejutannya menjadi sikap yang terlihat tenang.


Menyadari Naura yang ada di sampingnya, Azriel memundurkan langkahnya ke belakang. Naura mengernyit heran.


"Kenapa kamu mundur? Padahal kita berdampingan saja." Naura pun ikut mundur lagi mensejajarkan langkahnya dengan Azriel.


"Mendingan kamu ada di depan, biar aku yang ada di belakang kamu." Sebenarnya jantung Azriel merasa tidak nyaman karena ia merasakan hal yang berbeda ketika dekat Naura. Ia merasa hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, dan itu hanya pada Naura saja. Aneh bukan? Namun Azriel memang merasakan perasaan itu.


"Ustadz, bukankah pria itu berjalan di depan wanita? Kenapa begitu? Ada yang bilang pria akan menjadi imamnya wanita, dan wanita yang akan menjadi makmumnya bakalan berjalan di belakang pria. Jadi, aku mempersilahkan Ustadz berjalan di depanku karena aku ini kan calon makmumnya Ustadz," kata Naura tersenyum senang dengan perkataan jujurnya.


Azriel menunduk malu atas ucapan Naura yang terdengar gamblang.


"Atau gini saja, aku jalan di samping kamu. Kalau berdampingan gini jadinya lebih enak karena nanti kita bakalan jalan berdampingan," sambung Naura berjalan di samping Azriel.

__ADS_1


"Emangnya kamu mau berdampingan denganku?" tanya Azriel menunduk, tapi melangkah beriringan.


"Tentu saja mau, Ustadz. Kalau Allah mengizinkan, aku memang ingin menjadi pendamping kamu sih. Bahkan aku suka menyebutkan nama kamu dalam setiap doaku dengan harapan kamu menjadi imam ku kelak." Naura berkata jujur, ia tidak menyembunyikan perasaan yang ia miliki selama ini untuk Azriel. Perasaan yang entah kenapa semakin tumbuh besar meski tidak pernah bertemu sekian lamanya.


"Saya tidak percaya."


"Aku tidak berharap kamu percaya padaku, Ustadz. Namun aku hanya ingin mengatakan soal apa yang aku rasakan selama ini. Apa yang aku katakan adalah perasaan yang ku miliki, ya, meskipun di bilang gak tahu malu, tapi aku tidak peduli. Aku hanya mengungkapkan perasaan yang ku miliki dan aku ingin bertanya tentang ucapanku beberapa tahun yang lalu."


"Ucapan mu?" Azriel menyimak setiap tutur kata yang Naura ucapakan. Dia juga menerka perasaan Naura pada dirinya.


"Benarkah Naura menyukaiku dan juga ingin menjadi makmum ku? Dia menagih perkataannya dulu."


Azriel yang tadinya melangkah terdiam, ia ingat ucapannya itu.


"Naura, nanti kita bahas lagi." Azriel tidak mungkin me berikan jawabannya sekarang. Ini begitu mendadak dan tentunya ia butuh persiapan untuk melamar Naura.


"Kenapa malah nanti? Sekarang aja, Ustadz. Kan kita akan berpisah, jadinya aku ingin jawabannya dari sekarang saja. Kalau ustadz berada di pondok lain aku jadi tenang karena sudah mendengar jawab Ustadz." Naura tidak sabar ingin tahu jawaban dari Azriel. Ingin sekali mendekat kata iya ataupun kata mau menjadikanmu makmumku. Namun ia belu. Mendapatkan jawaban itu dari Azriel.


"Insyaallah, aku akan datang meminang mu." Lalu Azriel segera pergi dari sana meninggalkan Naura yang terdiam mematung dalam segala pikirannya.


Naura merasa tidak percaya jika Azriel bakalan bicara seperti itu. Ini adalah jawaban yang Naura inginkan dari kemarin. Ini adalah hal yang sangat ia tunggu dari sejak lama dan ini adalah hal yang paling ia panjatkan dalam setiap doanya. Dan barusan ia mendengar Azriel akan meminangnya, sungguh hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


"Ini beneran? Dia mau meminang ku? Aku tidak salah dengarkan?" Naura masih tidak percaya dirinya bakalan di sambut baik oleh oleh pria itu. Hatinya berbunga-bunga, senyumannya terus mengembang dengan tangan memegang dadanya.


"Ya Allah, apa ini jawaban dari setiap doaku? Dia juga menginginkan aku, dia juga siap datang meminang ku pada ibu. Alhamdulillah, perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan."


*****


Sesampainya di aula, Naura terus saja senyam senyum sendiri membuat Khanza yang ada di sampingnya heran.


"Kak, kau kenapa? Lagi datang kegilaanmu?" Khanza berbisik.


"Aku lagi bahagia, Khanza. Aku senang kalau perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Kakak kamu mau datang meminangku, ahhh senangnya." Naura langsung memeluk Khanza yang ada di sampingnya. Ia meluapkan rasa bahagianya pada adik Azriel.


"Benarkah? Dia bilang begitu?" Raut wajah Khanza juga nambah senang. Naura mengangguk yakin kalau apa yang ia katakan adalah kebenaran.


Senyum Khanza juga mengembang, ia memeluk Naura dengan perasaan senang. "Yes, itu artinya kita bakalan jadi ipar, Kak. Aku senang banget kalau kak Naura yang jadi kakak iparku." Meskipun Khanza tahu kalau Naura berasal dari tempat hina, tapi Khanza tidak memperdulikan itu karena Naura sudah cerita semuanya pada Khanza tentang kehidupan yang ia alami.


"Tapi ..." Naura melepaskan pelukannya dari Khanza. Ada keraguan dalam dirinya muncul secara tiba-tiba.


"Tapi apa?"


"Bagaimana dengan Nenek kamu yang tidak menyukaiku? Pasti dia tidak akan setuju aku dengan Azriel."

__ADS_1


__ADS_2