Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 36 - Mengintip


__ADS_3

"Khanza!" Naura memekik kala netra matanya menemukan sosok yang selalu menjadi sahabatnya.


Gadis yang di panggil itu pun menoleh, ia melototkan matanya. "Kak Naura, ahh aku kangen." Khanza pun tak kalah senang sampai dia yang tadinya hendak naik ke kobong berlari memeluk Naura.


"Baru saja aku dari depan gerbang berharap Kaka Naura datang, sekarang ada di sini. Kangen banget tahu, empat hari tidak bertemu rasanya seperti satu tahun, terasa lama."


"Kangen sih kangen, Za. Tapi jangan kekencangan gini meluknya, aku sesak napas tahu." Naura protes, tapi ia juga sama-sama memeluk Khanza.


"Eh, maaf, Kak. Terlalu kencang ya?" Khanza cengengesan menggaruk tengkuk di balik kerudungnya.


"Lumayan sih, tapi tidak apa-apa. Ini ada oleh-oleh buat kamu dari ibuku. Tidak bagus dan tidak mahal sih." Naura memberikan paper bag ke Khanza. "Dan ini untuk teman-teman Kobong kita. Kamu bawa ke kobong, aku mau menemui umi Qulsum dulu."


Khanza menatap paper bag nya. "Apa ini?" Namun ia mengambilnya.


"Nanti juga kamu akan tahu. Aku ke rumah Umi Qulsum dulu, ya. Dah, nanti kita ngobrol bareng." Naura kembali berpamitan pada Khanza ingin menemui pemilik pondok yang ia tempati saat ini.


*****


Sepanjang jalan menuju rumah Umi Qulsum, Naura terus tersenyum ramah pada orang-orang di sekitarnya. Hatinya Teramat bahagia bisa bertemu dengan ibunya dan bisa bertemu dengan sosok pria yang selalu ada dalam mimpinya.


"Assalamualaikum, Umi." Kebetulan sekali orang yang dicarinya berada di teras depan tengah berbincang dengan Ustadz Ahmad, putra kedua Umi.


"Waalaikumsalam. Masyallah Naura, kamu udah kembali. Kapan kamu datang? Dengan siapa kamu ke sini?" Umi Qulsum berdiri, Naura menyalami tangan Umi Qulsum dan melakukan cipika-cipiki.


"Baru saja, Umi. Naura datang sendiri, soalnya ibu sedang bekerja dan beliau tidak bisa bepergian jauh karena suka mabuk kendaraan. Tapi insyaallah lain kali ibu akan datang ke sini." Mereka saling menjauhkan diri.


"Kamu bawa apa, tuh? Oleh-oleh ya?" tanya Ustadz Ahmad.


"Eh, kamu ini malah kurang sopan sama murid sendiri." Umi menegur.


"Tidak apa-apa, Umi. Ini memang buat kalian dari ibu, tidak banyak sih."


"Alhamdulillah, terima kasih, Naura." Ahmad segera mengambil paper bag yang ada di atas meja.


"Sama-sama Ustadz."


Selepas bercengkrama dengan Umi Qulsum, Naura kembali pamit undur diri untuk kembali ke kobong atau kamar dia dan beberapa penghuni lainnya.


Namun saat di pertengahan jalan, dia malah berhenti ketika melihat pergerakan sosok pria yang juga ia rindu tengah mengajari anak-anak kecil yang sedang sekolah agama. Naura melipir dulu untuk melihat cara Ustadz Fauzi atau Azriel mengajar anak-anak.


"MasyaAllah." Satu kata yang menggambarkan rasa takjub ketika melihat ketampanan Azriel.


"Coba sekarang adik-adik nadhomkan dua puluh sifat wajib Allah," ucapnya pada anak-anak sekolah Diniyah.


"Na'am, Ustadz." Mereka semua serentak menjawab. Dalam bahasa arab, Na'am artinya iya.

__ADS_1


Wujud, ada Allah


Qidam, dahulu Allah


Baqa, kekal Allah tiada lainnya


Mukhlafatuhu Lil Hawadisi, berlainan dengan yang lain


Qiyamuhu Binafsihi, Allah berdiri sendiri


Wahdaniyyah, Esa ( satu )


Qudrat, berkuasa Allah


Iradat, Berkehendak


Ilmu, Mengetahui


Hayat, Allah maha hidup


Sama', Allah maha mendengar


Basar, Allah maha melihat


Kalam, berkata sendiri ( Berfirman)


Muridan, maha berkehendak


Aliman, mengetahui


Hayyan, Allah maha hidup


Sami'an, Allah maha mendengar


Basiran, Allah maha melihat


Mutakalliman, maha berkata ( berfirman )


Begitulah pujian dua puluh sifat wajib yang anak-anak Diniyah nadomkan. Begitu terdengar indah di telinga dan juga semangat yang luar biasa terlihat dari cara anak-anak yang antusias.


"Masya Allah, kalian luar biasa hebat. Ternyata sudah pada hafal ya semuanya, beserta artinya pula."


"Kan Ustadz yang ngajarin kita," kata salah satu anak didik Azriel.


"Ustadz boleh Caca bertanya," tanya anak perempuan bernama Caca.

__ADS_1


"Tentu boleh, ayo! Jangan malu bertanya kalau tidak ada yang di mengerti."


"Salah satu sifat wajib Allah itu kan WUJUD, maksud dari wujud itu apa dan apakah ada contohnya?"


Azriel tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik. WUJUD, wujud adalah sifat Nafsiyah yang artinya berhubungan dengan Zat dan ada hanya satu, yaitu wujud dalam kata lain ADA. Jadi maksud dari kata wujud adalah Ada. Mengimani bahwa Allah bersifat wujud merupakan salah satu ciri iman kepada Allah SWT. Jika Allah tidak ada, maka dunia beserta isinya dan alam semesta tidak akan ada juga."


"Salah satu contoh dari sifat wujud adalah lautan, daratan, gunung-gunung yang menunjukkan bahwa ada yang menciptakan dan memeliharanya, yaitu Allah SWT. Hal ini pun di jelaskan dalam salah satu firman Allah pada surat Ibrahim ayat 32 yang Artinya: "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai," kata Azriel menjelaskan dengan pelan supaya anak-anak memahami penjelasannya.


"Maka dari itu, kita harus percaya kalau Allah itu ada, dan kita harus beriman kepada Allah," sambung Azriel.


Melihat anak-anak mengangguk, Azriel senang ternyata mereka memahaminya. Anak-anak pula yang akan nantinya menjadi penerus bangsa. Maka ajarkanlah agama sejak dini sebagai pondasi keimanan untuk masa mendatang.


Di balik penjelasan yang Azriel jelaskan ada sosok perempuan menatap kagum pada pria itu. "Ya Allah, sudah tampan, pintar, Soleh pula. Mau dong di jodohkan dengannya, aamiin ya Allah." Matanya berbinar menatap kagum sosok pria itu.


Hingga suara seseorang membuat Azriel teralihkan.


"Ternyata aku cari-cari kak Naura ada di sini. Hei, kamu ngapain di sini, Kak? Ngintip ya?" celetuk Khanza melihat Naura sedang mengintip di jendela kaca.


Naura menoleh sambil menutup kedua kupingnya.


"Aduh, berisik, bisa diam tidak sih? Nanti aku ketahuan, Khanza!" Naura menepuk jidatnya mendengar suara bising Khanza yang bisa mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalam madrasah Diniyah.


"Habisnya kamu ngintip macam ma ..."


"Kalian ngapain di sini?" ujar Azriel.


"Tuh kan, dia dengar." Naura melototkan matanya pada Khanza. Ia berbalik sambil cengengesan. "Hehehe, tidak ada Ustadz."


"Bohong Ustadz, Kak Naura sedang ngintip Ustadz," celetuk Khanza cekikikan.


Plak


Naura menginjak kaki Khanza.


"Aduh!"


"Jangan di dengar, Ustadz. Khanza ..."


"Kamu mengintip saya? Sekarang kamu saya hukum!"


"Apa? Ustadz tidak salah? Masa lihat doang di hukum sih? Aku kan tidak melakukan kesalahan fatal." Naura memberenggut manyun. Baru saja datang sudah di hukum segala.


"Tidak ada toleransi! Sekarang kamu gantian mengajar anak-anak ini."


"Apa? Mengajar?"

__ADS_1


******


Mohon koreksinya jika ada salah, ya.


__ADS_2