Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 79 - Berbicara


__ADS_3

Rasa kesal Azriel masih menjalar di sekujur tubuhnya. Di saat begini pun neneknya masih saja bicara seenaknya. Dan pada akhirnya perkataan pedas pun dia lontarkan demi membungkam mulut pedas neneknya.


Naura merasakan aura berbeda dari diri suaminya, bahkan genggaman tangan Azriel begitu erat dan juga lumayan memberikan rasa sakit di tangannya. Namun dia diam saja sampai Azriel menyadarinya. Akan tetapi pria itu tidak kunjung sadar, justru genggaman tangannya semakin kasar.


"Aww, hubby sakit." Naura merintih kesakitan, barulah Azriel menyadarinya.


"Ya Allah, sayang maaf!" Dia melepaskan genggaman tangannya di tangan Naura dan melihat tangan Naura. Hatinya meringis mendapati warna kemerahan di pergelangan tangan istrinya. "Maaf," lirihnya dengan tatapan mata bersalah.


Naura menghela nafas mencoba menahan kesalnya. "Hubby, kalau marah jangan sama aku." Naura berjalan mendahului Azriel. Dia mencari tempat nyaman untuk menghirup udara segar dan pilihnya ke taman. Kemudian duduk di bangku taman di ikuti oleh Azriel yang juga ikut mengekor dari belakangnya Naura.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti kamu." Dia berjongkok di hadapan Naura menggenggam kedua tangan istrinya. Dia menyesal melampiaskan kekesalannya pada tangan Naura.


Naura tersenyum teduh, senyum yang mampu membuat Azriel terpana dan tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari perempuan cantik ini. Senyum ini juga yang sering banget membuatnya merindu.


"Tidak apa-apa, aku paham dengan perasaan kamu dan situasi hati kamu saat ini. Kamu pasti marah dan kesal karena sikap nenek pada kita terutama pada aku. Namun bukan berarti kamu harus melampiaskan kekesalan kamu pada orang lain."


"Sekali lagi aku minta maaf. Bukan maksud aku mau membuat tangan kamu sakit, aku merasa marah pada sikap nenek yang pada akhirnya harus menunjukkan privasi kita berdua di hadapan semua orang. Maafkan aku tidak bisa menjaga kamu." Dia marah karena hal sensitif harus mereka ubar di depan umum. Dia marah karena neneknya terus saja menyakiti istrinya dan sampai pada akhirnya dia tidak lagi bisa diam membuka aib yang neneknya miliki. Aib yang seharusnya tidak lagi di ungkit kini harus kembali di bahas.


"Bukan salah kamu, Hubby. Mungkin ini semua adalah ujian yang harus kita lewati berdua. Ujian dalam rumah tangga dan ujian untuk ke tahap berikutnya. Aku percaya Allah tidak akan menguji umatnya di atas batas kesabarannya. Anggap saja ini tahap naik level." Naura tidak sepenuhnya menyalahkan Azriel. Dia tahu jika situasi saat ini bukan salah siapa-siapa, namun karena keadaanlah yang membuat mereka begini.


Azriel semakin bersyukur memiliki Naura. Dia tanpa ragu merebahkan kepalanya di pangkuan Naura masih dalam keadaan berjongkok.


"Apa salah kalau aku membuka aib orang lain demi membuat dia sadar jika masih ada manusia yang jauh lebih baik dari dirinya? Di atas langit ada langit, dan di atas langitnya masih ada langit lainnya."


Naura mengusap lembut kepala suaminya. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi, ingin rasanya bertanya maksud dari ucapan tadi di dalam itu apa? Namun Naura tidak ingin terlalu jauh ikut campur ke dalam ramah privasi orang apalagi ini menyangkut aib seseorang.


Naura tengah merangkai kata demi bisa menjawab pertanyaan suaminya. Matanya terarah ke depan memperhatikan lalu lalang Pasian dan orang-orang yang sedang berada di area taman.

__ADS_1


"Terkadang kita perlu mengingatkan seseorang demi sebuah kebaikan dan juga demi membungkam mulut orang. Mungkin aib orang lain tidak seharusnya di sebar luaskan dan harus di tutupi secara rapat. Namun kita harus tahu jika Allah lah sang penggerak alam dan segala macam isinya. Tanpa kita inginkan, tanpa kita sadari, Allah telah menggerakkan bibir kita untuk berucap tentang aib seseorang. Mungkin ini terbilang salah, tapi kita ambil sisi positifnya dari kejadian ini. Mudah-mudahan dengan perkataan kamu tadi bisa membuat Nenek menyadari kesalahannya dan tidak lagi berucap sembarangan."


Azriel mendongak, ini yang selalu ia suka dari Naura, selalu berpikir positif dan juga dewasa. Naura menundukkan kepalanya dan menatap mata Azriel yang juga menatapnya.


"Tapi boleh aku minta sama kamu untuk tidak terlalu keras sama nenek kamu? Aku juga sadar kalau sikap aku padanya terlalu kasar. Sekarang kita perbaiki hubungan kita dan nenek ya? Aku tidak mau ada pertengkaran lagi diantara kita. Akan tetapi jangan halangi aku ketika aku marah suka menyebutnya Anda." Egois memang, namun Naura bukanlah orang yang suka bermulut manis. Kalau dia suka maka akan menunjukan rasa sukanya, kalau dia tidak suka maka akan menunjukan tidak sukanya.


"Akan aku usahakan, tapi jika tetap bersikap seperti tadi aku tidak menjamin bakal bersikap ramah." Sama halnya dengan Naura, kalau dia tidak suka maka akan menunjukan tentangannya.


"Yang penting kita mencoba memperbaiki semuanya, ya." Azriel mengangguk tersenyum.


*****


Di ruang tunggu, Genta dan Azzam saling berbincang-bincang satu sama lainnya sebagai ayah. Genta meminta waktu Azzam untuk bicara dengannya dan Azzam pun menerimanya.


Genta juga menceritakan kisah masa lalunya tanpa di tutup-tutupi, memberitahukan jika Naura bukanlah anak yang hadir di luar pernikahan, dan jika mengingat hal itu mungkin saja Genta dan ibunya masih menjadi suami istri karena tidak ada kata talak terucap dari bibirnya.


Azzam mengerti, tentu dia tidak bisa menyalahkan siapapun di sini. "Saya tidak keberatan, sejak Naura hadir dalam hidup kami, kami sudah menganggapnya sebagai putri kami. Naura dan Khanza tumbuh dewasa dalam asuhan kami dan juga dalam asuhan pondok. Kami juga berencana menjodohkan mereka, tapi ternyata Azriel lebih unggul satu langkah dari kami. Akan tetapi kisah mereka terhalang restu dari neneknya. Namun kami tidak usah khawatir, apapun keputusan Azriel dan Naura, saya tetap mendukung mereka dan merestui pernikahan mereka."


Genta tersenyum lega, yang lebih penting baginya adalah restu dari kedua orangtuanya Azriel. "Kalau kalian sudah merestui, Azriel secepatnya bakalan mengurus pengesahan pernikahan mereka. Dan insyaallah akan ada resepsi pernikahan satu bulan lagi."


"Resepsi pernikahan?" Genta mengangguk.


"Saya ingin menunjukan pada semua orang kalau Naura adalah putri kandung saya supaya tidak ada lagi yang menghina dia dan menyebutnya anak haram."


"Kalau begitu biar saya yang mengurus segalanya. Terpenting kamu pastikan Naura dan Azriel siap. Saya lakukan ini sebagai hadiah pernikahan mereka yang memang seharusnya harus di tanggung oleh pihak laki-laki."


Kedua ayah itu merencanakan resepsi pernikahan buat putra putrinya. Sedangkan Fatimah dia dalam tengah diam melamun memikirkan perkataan Azriel.

__ADS_1


"Daripada dia tahu jika aku ...?"


******


Taman.


"Kita balik ke dalam yuk," ajak Naura. Azriel mengangguk saja. Lalu mereka berdiri, namun mata Naura tertarik pada anak kecil yang sedang duduk sendirian di bangku taman.


"Hubby, tunggu sebentar!" Naura melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendekati bocah laki-laki. Azriel memperhatikannya.


"Halo anak manis." Naura berjongkok di hadapan pasien anak kecil.


Anak itu menatap Naura. "Iya," jawabnya terdengar lucu.


Naura memperhatikan sekitarnya. "Kok sendirian? Orangtua kamu mana?"


Anak itu menggelengkan kepalanya membuat Naura mengerutkan keningnya.


"Tidak ada?"


"Mama sedang cari kerja."


"Terus papa, nenek, auntynya dimana?"


"Sean tidak tahu, Sean hanya punya mama saja. Tadi Sean di temani suster, katanya suruh tunggu di sini mau ngambil makanan dulu buat Sean."


"Ya Allah." Naura tertegun, dia menatap suaminya. "Hubby." Azriel mengangguk seakan mengerti isi kepala istrinya.

__ADS_1


"Kalau begitu tante temani kamu di sini, mau?"


__ADS_2