
Masih dengan pasangan Aditya dan juga Mentari. Keduanya sudah berada di rumah sederhana milik Mentari. Rumah kecil yang di belinya ketika pindah lagi ke ibu kota.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Aditya menggenggam tangan Mentari. Ada ketakutan dalam dirinya ketika mendapatkan penolakan dari Sean.
"Tar, apa Sean akan menerima ku?"
"Aku tidak tahu. Namun aku percaya kalau Sean sebenarnya merindukan papanya. Hanya saja dia masih kecil dan belum mengerti semua yang terjadi."
Aditya menghela nafas. "Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Maksud aku kenapa kamu mau menerima ku lagi? Ya, meskipun aku senang kamu memberikan kesempatan."
"Karena aku melakukannya demi Sean. Aku tidak ingin melihat Sean terluka lagi."
"Demi Sean atau memang kamu juga masih mencintai ku?" Aditya berharap Mentari masih menyukainya.
"Hanya demi Sean dan untuk masalah aku masih mencintaimu atau tidak, jawabannya tidak. Rasa itu sudah musnah ketika kamu memutuskan hubungan dengan ku dan melemparkan uang padaku." Lalu Mentari melepaskan genggaman tangannya Aditya, kemudian melangkah masuk ke dalam.
"Nak Tari ..." Bu Sukma baru saja keluar dari kamar Sean. Namun dahinya mengkerut kala melihat Aditya mengikutinya. Dia juga masih berdiri di dekat pintu kamar Sean.
"Kamu tidak mungkin bisa melupakan perasaan itu padaku, Tari. Aku yakin kamu masih mencintaiku. Buktinya kamu mau memberikan aku kesempatan dan amu menikah denganku." Aditya mengikuti mentari tanpa memperdulikan yang lain.
Bu Sukma terbelalak, "menikah? Apa mereka berdua sudah menikah?"
"Mentari tunggu dulu, Ibu mau bicara sama kalian." Mentari menoleh ke samping.
"Bu, apa Sean sudah tidur?"
__ADS_1
"Sudah, dari tadi Sean menangis sampai ketiduran."
"Nak, kalau boleh Ibu minta kalian bersatu lagi ya. Sean membutuhkan kalian berdua, tadi Sean ingin sekali mempunyai papa. Sean juga bilang tidak membenci papanya namun marah karena baru datang."
"Aku janji tidak akan meninggalkan Sean dan kamu lagi. Meskipun aku tahu kalau aku tidak akan bisa mengulang waktu masa lalu lagi karena ulahku, tapi setidaknya aku ingin berusaha menjadi ayah yang terbaik untuk Sean dan suami yang bertanggungjawab untuk Mentari di masa sekarang," jawab Aditya serius.
Aditya menyesali perbuatannya kala masa itu. Dia terlalu gegabah sampai tidak bisa menjadi lisannya, tidak bisa menjaga diri sendiri untuk tidak melakukan apapun pada Mentari. Sekarang, setelah mengetahui segalanya dan tahu kenyataan di masa lalu, Aditya berusaha untuk memperbaikinya semuanya meski tidak bisa mengembalikan masa lalu.
Jika di tanya bagaimana dia bisa tahu, maka jawabnya adalah bantuan rekannya yang bekerja sebagai salah satu detektif sampai bisa menemukan informasi yang akurat.
"Alhamdulillah, Ibu senang kalian bisa berdamai dengan masa lalu. Demi Sean kalian harus bisa, kasihan Sean yang harus mengalami kejadian ini. Dan oh iya, Sean tadi sempat bicara mengutarakan keinginannya untuk berkumpul dengan kalian berdua. Selepas kepergian kalian, Sean bicara sama ibu bahwa sebenarnya dia ingin memeluk nak Aditya sebagai ayah. Namun karena takut kecewa dan takut kamu pergi lagi, makanya Sean bersikap seperti tadi."
Baik Mentari dan Aditya terenyuh mendengarnya. Mentari merasa dia belum sepenuhnya mengerti keadaan dan keinginan putranya.
"Insyaallah aku akan membuat Sean bahagia dan kamu juga," kata Aditya.
******
Di dalam kamar, Mentari bingung harus bersikap seperti apa. Meski mereka sudah menikah, tapi Tari masih merasakan canggung.
Aditya yang menjadi adanya kecanggungan itu mencoba mencairkan suasana di dalam kamar. Dia tiba-tiba berjongkok di depan Mentari yang masih diam saja.
"Aku minta maaf." Kata itu meluncur dari bibir Aditya seraya menggenggam tangan Mentari.
"Tidak semudah itu aku memaafkan semua kesalahan yang kamu lakukan." Meskipun rasa itu masih ada, tapi nyatanya dia belum sepenuhnya bisa menerima mengingat kembali kisah masa lalunya.
"Aku tahu kesalahanku sangatlah fatal, tapi berikan aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Jujur, aku masih mencintaimu." Aditya menatap lekat wajah Tari yang sedang memalingkan muka.
__ADS_1
Ucapan Aditya sontak membuat Tari menoleh dengan tatapan tidak percaya.
"Aku masih mencintaimu." Aditya mengulang lagi kata cinta yang memang masih ada untuk perempuan itu.
Mentari diam mematung, namun matanya berkaca-kaca antara bahagia, sedih, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu.
"Cinta? Cinta seperti apa yang kamu miliki? Kamu bahkan selalu bilang membenciku. Kau tidak percaya dan tolong jangan membuatku semakin kecewa." Air matanya tumpah tidak bisa menyembunyikan sisi rapuhnya.
Aditya mengusap lembut pipi Mentari menghapus air matanya. Dia bangkit lalu duduk di samping Mentari.
"Maaf, maafkan sudah banyak melukai hatimu. Dulu aku memang benci kamu dengan alasan yang tidak jelas karena aku kira kamu mengkhianati ku, tapi aku merasa bersalah sudah menuduhmu. Maafkan aku." Aditya menggenggam tangan Mentari. Perlahan dia membawa Menteri dalam dekapannya, anehnya Tari tidak menolak malah menenggelamkan kepalanya di dada Aditya.
"Tolong jangan buat harapan palsu, Aditya. Tidak mungkin selama ini kamu tidak memiliki kekasih, aku tidak mau menjadi pihak ketiga dalam rumahtangga mu." Ucapan Mentari kacau, tapi rasa takutnya lebih jauh lebih besar.
"Tidak akan ada yang marah dan tidak ada harapan palsu. Aku juga tidak memiliki kekasih ataupun istri lain selain kamu." Aditya menyadari rasa gundah dalam diri Mentari.
"Bohong!" Tari melepaskan pelukannya. Dia tidak percaya Aditya masih singgel.
"Aku seriusan, jika memang punya keluarga tidak mungkin menikahimu karena bagiku pernikahan bukanlah sebuah permainan. Aku masih mencintaimu, perasaanmu masih sama." Aditya menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Mentari seraya menatap dalam bola mata perempuan itu.
Keduanya saling pandang, Tari mencari sebuah kebohongan di mata Aditya. Namun dia tidak menemukannya. Merasa Mentari diam, Aditya memberanikan diri memberikan kecupan lembut di bibir.
Awalnya Tari kaget, namun tubuhnya tidak bisa menolak. Merasa tidak ada perlawanan, Aditya semakin berani menggerakkan bibirnya. Bohong jika dia tidak merindukan sentuhan ini. Bohong jika dia membencinya, nyatanya perasaan ini masih sama. Debaran ini masih ada.
Munafik jika Tari tidak merindukannya dan munafik jika Tari tidak menikmati sentuhan itu. Dia memang terluka hatinya, tapi rasa cintanya membawanya untuk tetap diam menerima setiap sentuhan dari Aditya, pria yang masih bertahta di dalam hatinya hingga saat ini.
Tiada hal yang membuat keduanya untuk melepaskan satu sama lainnya. Cinta itu menyatukan mereka kembali dalam mahligai rumah tangga. Terhanyut dalam buaian mesra dengan irama musik mengalun merdu dari keduanya. Tubuh itu menyatu, tubuh itu merespon, dan tubuh itu saling bersentuhan tanpa adanya penghalang. Semua terjadi begitu saja karena cinta.
__ADS_1