
"Dimana dia? Dimana Mentari dan anak yang kamu maksud?" Setibanya di ruangan perawatan, Aditya tidak menemukan keberadaan Mentari. Ruangan itu sudah kosong tanpa adanya penghuni.
Naura juga bingung, padahal ini memang tempat Sean di rawat. "Seharusnya di sini, Kak. Ini tempat Sean di rawat, tapi kok tidak ada?"
"Apa dia tahu kalau aku akan ke sini?"
"Kita tanyakan ke petugas rumah sakit." Aditya kembali berlari ke luar ruangan mencari sosok yang ingin dia temui dan mintai penjelasannya.
"Naura, kamu kembali lagi? Mana Azriel?" Azzura baru keluar dari ruangan Fatimah dan tidak sengaja melihat Naura berlarian.
"Eh, Bunda. Assalamualaikum, Bun. Aku lagi cari seseorang, kebetulan Kak Aditya juga mencarinya." Matanya terus menatap ke arah Aditya, namun dia juga tidak bisa pergi begitu saja dari sana.
"Apa ada hal yang sangat penting sampai kalian berdua berlarian? Azriel dimana?"
"Hmm mungkin ini penting bagi kak Aditya, kalau Hubby ada di ..." Naura celingukan, tadi suaminya bareng dia, tapi entah kenapa mendadak tidak ada. "Loh, tadi bareng aku, kenapa sekarang jadi tidak ada?"
Sedangkan yang di cari Naura dan Azzura berada di dekat parkiran tengah berbincang-bincang dengan seseorang yang berada di masa lalu Naura.
"Mau om apa mengikuti kami, hah? Om pikir saya ini bodoh tidak tahu menahu tentang kendaraan yang mengikuti kita dari toko?" Sejak keluarnya dari toko Aditya, mobil yang ditumpangi merek di ikuti oleh kendaraan lain, bahkan mobilnya mengikuti sampai area rumah sakit. Di saat Naura dan Aditya tergesa, Azriel pun ikut tergesa menghampiri mobil lain.
"Oh jadi kamu menyadari keberadaan saya yang mengikuti mu. Hmm soalnya saya penasaran pada sosok perempuan berkerudung yang berada diantara kalian. Sepertinya saya mengenal dia dan sungguh semakin cantik saja." Pria itu tersenyum tanpa peduli dengan keadaan Azriel yang sudah merah menahan kesal.
"Lebih baik buang jauh niat Om. Dia istriku dan tidak sepantasnya Om mengagumi perempuan lain selain istri om."
Dia menoleh pada Azriel dengan raut wajah keterkejutan. "Dia istrimu? Sejak kapan ada pria yang mau sama wanita murahan sepertinya? Dia itu bekas saja."
"Kurang ajar! Jangan coba-coba menghina istriku lagi." Azriel menarik kerah baju pria itu. Dia tidak terima ada orang yang merendahkan istrinya.
__ADS_1
"Wow, santai dong anak muda." Dia menepis tangan Azriel yang berada di jerah bajunya. Kemudian mengusap baju yang tadi Azriel pegang.
"Sekali lagi Om menghina istriku, aku tidak akan tinggal diam."
"Pikirkan baik-baik anak muda, dia itu tidak baik, dulu saya pernah mencicipinya dan saya yakin dia sudah tidak suci lagi. Ibunya itu seorang pe la cur, jadinya anaknya pun sama."
Bugh!
Tidak terima istrinya terus di hina terus, tidak terima mertuanya di sebut terus, Azriel tidak bisa menahan emosi. Apalagi dia sudah membuktikan sendiri kalau istrinya itu masih gadis dan semakin panas telinga ketika mendengar istrinya di jelek-jelekkan.
"Sudah ku bilang jangan pernah menghina istriku lagi. Om tidak pernah tahu Naura yang sebenarnya jadi jaga mulut Om untuk tidak bicara omong kosong lagi. Atau, saya laporkan ke polisi atas pencemaran nama baik dan pelecehan terhadap istri saya. Om pikir saya akan diam saja melihat orang gila di masa lalu istri saya kembali muncul? Om pikir saya tidak tahu kalau Om itu Bara, suami brengsek ibu Farida."
Ya, dia adalah Bara, pria tua yang dulu menginginkan Naura. Dia tidak sengaja melihat Naura masuk ke dalam toko sandal bersama seorang wanita. Matanya kembali tertarik menginginkan Naura yang dari dulu tidak bisa dia taklukkan. Usia tua tidak membuatnya insyaf jika dia pantasnya menjadi ayahnya Naura. Namun karena mungkin memiliki rasa suka, jadinya terus mengincar Naura sampai mengikutinya ke rumah sakit.
"Berhenti kalian berdua!" Seorang satpam melerai keduanya. "Kalian berdua mengganggu ketenteraman pasien dan orang-orang yang ada di sini. Sekarang kalian berdua bubar!"
"Ck, saya hanya ...."
"Hubby, kamu se ...." Naura melototkan matanya kala menyadari adanya Bara di sana. "Om Bara!"
Melihat keterkejutan di mata sang istri, Azriel langsung mendekati istrinya dan menggenggam tangan Naura. "Jangan pernah mengusik Naura lagi, atau Anda akan tahu akibatnya." Azriel tidak akan main-main. Dia akan melakukan apapun demi melindungi istrinya tercinta.
"Shiit. Sekarang dia memiliki keluarga, sial." Dalam hatinya Bara mengumpat kesal.
"Usir dia, Pak! Dia itu orang jahat, dia pernah amu melecehkan saya. Kalau perlu laporkan dia ke polisi." Naura bersuara meminta pak satpam mengusir Bara. Naura merasa kehadiran pria itu bisa mengusik ketenangan rumahtangganya.
"Oh jadi kau itu penjahat."
__ADS_1
"Minggir! Saya bisa pergi sendiri." Bara meninggalkan tempat itu dengan raut wajah tidak terbaca. Setidaknya dia tahu jika Naura masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Itu lebih dari cukup baginya.
"Syukurlah dia mendapatkan pria yang mau menerima segala kekurangannya. Setidaknya aku bisa tenang sebelum pergi untuk selamanya. Farida, aku minta maaf. Putrimu sepertinya baik-baik saja. Kali ini aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Dalam hatinya terus berkata. Entah apa yang terjadi pada pria itu namun hanya dia yang tahu.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya pak Satpam.
"Tidak apa-apa, Pak. Kami baik-baik saja." Azriel yang menjawab. Merasa Azriel dan Naura tidak kenapa-kenapa, pak satpamnya kembali ke tempatnya lagi.
"Hubby, kalian berantem? Mau apa dia ada di sini? Apa dia mau berbuat jahat?" Naura khawatir sama Azriel dan tentunya takut jika pria tua itu mengusik mereka.
"Terpaksa, sayang. Dia terus saja menghina mau dan aku tidak terima. Jadinya aku pukul dia."
"Lain kali tidak usah meladeni pria gila itu."
"Habisnya dia ngeselin banget."
Hingga suara Aditya mengalihkan mereka berdua. "Naura, kakak tidak bisa menemukan Mentari. Menurut suster, pasien yang di rawat di kamar 96 itu sudah pulang. Sekarang kemana lagi ku harus mencarinya?" Aditya bingung, wajahnya pun terlihat kacau memikirkan dimana Mentari dan Sean. Dia mulai mengingat masa lalu yang Mentari ceritakan. Dia juga menyadari kalau memang ada setetes noda di kasurnya. Namun dia tidak mengingat apapun, tapi setelah mencari tahu kesana kemari, dia mulai menerka-nerka dan mulai menyadari bayangan dia dan Mentari.
"Aku juga tidak tahu alamat rumahnya, Kak."
Sedangkan orang yang di cari Aditya sedang menunggu kedatangan Bu Sukma dan putranya.
"Nak Tari." Dan orang yang dia tunggu sampai di jalanan macet. Ya, Mentari masih terjebak macet jadinya dia menghubungi Bu Sukma untuk membawa Sean pulang.
"Kenapa kita harus buru-buru pergi dari sana? Apa yang terjadi?"
"A-anu ... Ada orang jahat."
__ADS_1
"Jahat! Siapa yang jahat, Mama?"