Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 55 - Apa hubungan kalian?


__ADS_3

Sudah satu hari lamanya dari hari kecelakaan, namun Naura tidak kunjung bangun juga. Padahal kondisi gadis itu baik-baik saja, hanya tangan yang mengalami sedikit keretakan di lengan kanan.


Setiap hari juga, Azriel tidak pernah lelah mengajak Naura bicara demi merespon keadaan Naura. Namun juga masih tidak ada reaksi yang di tunjukan Naura.


Soal pendonor darah untuk Naura juga tidak di ketahui siapa yang telah mendonorkan darahnya. Tetapi Azriel dan keluarga bersyukur ada orang yang baik hati bersedia mendonorkan tanpa pamrih.


"Gadis kecil, sampai kapan kamu mau tidur terus? Tidakkah kamu ingin memelukku? Aku saudara mu," bisik seseorang di telinga Naura. "Bukannya kamu mau bertemu dengan ayah kandungmu? Aku bisa membawamu padanya, ayo bangun. Kita akan tinggal bersama."


Jari-jari tangan Naura bergerak perlahan tanpa di sadari oleh orang itu.


Merasa tidak ada respon, orang itu pun memutuskan pergi sebelum di ketahui keberadaannya. "Karena kamu tidak bangun juga, aku pamit permisi dulu. Cepat sembuh ya, gadis kecil. Aku ingin banyak bercerita dengan mu," ucapnya lagi ketika sebelum benar-benar pergi.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut kening Naura sambil memejamkan mata. "Bangunlah, Nau. Aku ini kakak kamu, kita satu ayah kita saudara, kamu tidak sendirian, ada aku dan Ayah yang akan menemani kamu," batinnya.


Di saat itu juga, seseorang masuk ke dalam, dia terkejut karena ada pria yang mengecup Naura.


"Brengsek!" ujarnya marah ketika wanitanya di sentuh pria lain. Pria itu menoleh, ia menatap dingin mata Azriel, tatapannya pun menyiratkan kekesalan dan amarah yang sangat terlihat jelas.


"Siapa kamu! Beraninya menyentuh calon istriku!" sentak Azriel menarik tangan pria itu lalu memukulnya.


Bugh!


Pria itu tersenyum sinis, "tidak akan ku biarkan kamu menikahinya, sialan!" balasan dengan tutur kata santai namun sorot mata yang tajam.


Deg.


"Apa maksud mu? Siapa kamu beraninya mengaturku? Sampai kapanpun Naura akan menjadi milikku. Ketika dia sadar aku akan menikahinya." Azriel mengepalkan tangannya tidak terima ada orang lain yang mencoba menghalangi dia.


"Maksud ku adalah, kamu tidak akan semudah itu mendapatkan dia dariku!" orang itu berdiri keduanya saling pandang satu sama lain dengan sorot mata yang berbeda.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti?" Azriel bertanya-tanya siapa pria itu dan kenapa dia berani mengecup kening Naura. Sedangkan ia saja belum pernah melakukan hal itu. Menyentuhnya saja waktu Naura kecelakaan.


Lalu pria itu pergi dari sana. Sebenarnya dia tidak mau berkelahi atau mengatakan hal itu, namun karena marah mengetahui Naura kecelakaan karena Azriel dan Fatimah, dia marah.


"Aneh, siapa pria itu? Apa dia mengenal Naura sebelum aku?" Azriel kebingungan.


Hingga dokter masuk memeriksa keadaan Naura. "Permisi, saya mau memeriksanya."


"Hah, iya, Dok. Tapi kenapa harus kamu yang selalu memeriksa Naura? Tidak adakah dokter perempuan, Dokter Revan?"


"Maaf, ini sudah menjadi tugas kami. Namun karena semua dokter sudah memiliki tugas masing-masing, jadi Naura menjadi tanggungjawab saya." Dia Revan, dokter yang dipindah tugaskan ke kota B dan ia juga di tugaskan menangani Naura setelah operasi selesai.


"Tapi saya tidak terima ada pria lain menyentuh dia."


Revan mengerutkan keningnya. "Hanya sekedar memeriksa mata, denyut nadinya, cairan infusnya, tidak lebih dari itu. Kalau memandikan ada sister yang menanganinya. Belum jadi suami saja sudah posesif begitu, gimana kalau jadi suami? Saya yakin kamu akan di buat kesal oleh pria-pria yang mendekatinya."


Azriel makin meradang kesal. "Secepatnya aku akan menikahinya," ucapnya tidak ingin siapapun memiliki Naura.


"Naura punya ayah? Jadi ayahnya masih hidup?" Azriel baru tahu tentang kenyataan ini. "Lalu ibunya kemana? Kenapa ibunya tidak datang menjenguk? Bahkan tidak bisa di cari lagi."


Revan menoleh, ia menatap Azriel. "Bukannya kamu mencintai Naura? Tapi kenapa kamu tidak tahu apapun tentang Naura? Dia sudah tidak memiliki ibu dan ibunya sudah meninggal dunia sembilan hari yang lalu. Kedatangannya ke pondok malah mendapatkan kejutan dari kamu, ck, sungguh malang nasib saudara ku," ujarnya.


"I-ibunya Naura telah meninggal? Tidak mungkin." Azriel baru tahu tentang kabar ini. Dia kembali syok mengetahui semuanya. Kemana saja dia ketika Naura membutuhkan sesuatu?


Revan menepuk pundak Azriel. "Jika kamu memang mencintainya, maka bersiaplah kamu akan menghadapi Ayah dan saudara kandungnya." Lalu Revan pergi dari sana.


Deg.


Lagi-lagi Azriel di buat mematung oleh ucapan Revan yang terdengar kurang masuk akal baginya. Karena setahunya Naura anak hasil hubungan gelap, tapi Revan bilang ayah kandungnya. Pikiran Azriel semakin kacau.

__ADS_1


*****


Ketika Revan sudah keluar ruangan, tiba-tiba bahunya di rangkul seseorang. Revan menoleh. "Kau ..."


"Ikut gue sebentar!" Pria itu menarik Revan untuk mengikutinya.


Tanpa disadari mereka ada yang menatapnya dengan seksama penuh rasa penasaran. "Itu kan dokter Revan? Dia bersama siapa? Kenapa kelihatannya tergesa sekali? Aku harus ikuti mereka." Khanza datang ingin menjenguk Naura, tapi ia malah melihat gelagat mencurigakan dari Dokter Revan dan pria itu. Pada akhirnya Khanza mengikuti keduanya.


Pria itu membawa Revan menjauh dari ruangan inap Naura. Keduanya berada di lorong rumah sakit bagian luar.


"Lo mau ngomong apa sih, Dit? Gue masih banyak urusan. Masih banyak pasien yang harus gue periksa." Revan menggerutu kesal sambil melepaskan rangkulannya pria itu.


"Gue cuman mau bertanya mengenai perkembangan Naura. Bagaimana keadaan adik gue? Dia bisa cepat sadar kan?" tanya pria itu yang bernama ADITYA BUANA.


Khanza yang bersembunyi di balik pilar menutup mulutnya. Ia terkejut saat pria itu bilang adik gue. "Adik? Apa kak Naura adiknya pria itu? Tapi ini tidak mungkin, Kak Naura bilang dia tidak punya siapa-siapa dan tidak tahu ayahnya siapa."


"Untuk saat ini keadaan adik lo sudah jauh lebih baik. Hanya tinggal menunggu sadar saja, mungkin secepat Naura akan sadar."


"Syukurlah, gue senang mendengarnya. Untung pada saat itu lo bilang pada gue tentang Naura, jadinya gue bisa lebih leluasa mencari tahu siapa dia. Tapi hasil tes DNA kapan keluarnya?"


"Iya dong, Revan gitu loh. Nanti sore sudah bisa di ketahui hasilnya dan lo bisa lihat kalau tebakan gue tidak salah, dia pasti anak kandung bokap lo. Dari wajahnya saja sudah sangat mirip sekali namun ini versi cewek."


"Semoga saja, soalnya gue sudah tertarik sama dia."


"Eh, masa lo suka sama adik lo sendiri sih, Dit?" Revan terkejut.


"Enggak gitu juga sotoy. Gue tertarik karena melihat wajah dia jadi merasa ingin melindungi dia." Aditya menoyor kepalanya Revan.


"Apa hubungan kalian dengan Kak Naura?" ucap Khanza sangat penasaran ingin tahu siapa kedua pria itu.

__ADS_1


Revan dan Aditya menoleh. "Kau?"


__ADS_2