Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 34 - Segenggam Rindu Untuk Ibu


__ADS_3

Lama tidak berjumpa dengan sosok yang Naura rindu, kini terbayar sudah dengan pertemuan yang tidak terduga. Perempuan yang selama ini ia rindukan untuk wanita yang mengandung dan melahirkannya.


Segenggam rindu untuk Ibu yang selalu Naura rindu, kini terwujud atas takdir yang Allah tentukan. Tidak ada rasa bahagia lain selain bisa bertemu dan berkumpul dengan sosok luar biasa yang berjasa tanpa meminta imbalan.


Tidak dapat di pungkiri kalau raut wajah bahagia itu terlihat jelas dari dua wajah yang berbeda, di wajah Naura dan ibunya. Tangis haru menyelimuti pertemuan kala itu, pelukan hangat menyambut kedatangan sang putri yang teramat ia rindukan.


"Ibu sangat merindukan kamu, Nau. Maafkan ibu yang pernah salah sama kamu, maafkan ibu yang dulu tidak pernah percaya sama kamu. Maaf, maaf." Pelukan erat serta tangisan dari dua wanita itu menjadi saksi kalau keduanya saling merindukan.


"Naura juga minta maaf, Bu. Selama ini Naura banyak salah, suka melawan sama Ibu, dan Naura durhaka pada Ibu. Maafkan setiap kesalahan yang Naura lakukan, maaf." Tidak bisa lagi berkata-kata selain pelukan yang mereka lakukan.


Kecupan bertubi-tubi Farida layangkan untuk sang putri tercinta. Ia terharu dan bangga melihat Naura yang sekarang. Hampir lima tahun tidak bertemu membuat banyak perubahan yang terjadi pada Naura. Pun dengan dirinya yang juga bertambah usia terlihat berubah tua. Karena tuntutan pekerjaan, wajah Farida memang terlihat sangat tua dari usianya yang seharusnya berusia 44 tahun. Namun malah terlihat seperti berusia 50 tahun.


Dua orang yang kebetulan ada disana juga terharu atas pertemuan dua perempuan yang saling merindu. Siapa lagi kalau bukan Azzura dan Azzam. Meski sempat mendapatkan pertentangan dari Fatimah, namun mereka mampu me.buat Fatimah menyerah dan membiarkan Naura pergi bersama dengan Azzam dan Azzura.


"Sudah dulu pelukannya, ada tamu di sini." Farida melepaskan pelukannya. Ia tersenyum menghapus air mata putrinya.

__ADS_1


"Hehe, aku sampai melupakan Om dan Tante." Namun Naura tidak melepaskan rangkulan tangannya dari tangan sang ibu.


"Kamu ikut senang kalian berdua bisa bertemu dan kembali bersatu lagi. Allah telah merencanakan pertemuan ini," kata Azzam.


"Terima kasih sudah mau membantu saya menemukan Naura, dan maaf sudah merepotkan kalian berdua." Farida sangat berterima kasih kepada keduanya. Tanpa bertemu dengan mereka, Farida tidak akan bertemu dengan Naura.


"Sama-sama, ini bukan karena kami semata, tapi juga atas izin Allah sehingga ibu bisa bertemu dengan Naura. Semua sudah jalan dari-NYa," ujar Azzura ikut senang bisa mempertemukan Naura dan ibunya.


"Oh iya, kenapa Om dan Tante bisa bertemu dengan Ibu?" tanya Naura penasaran. Ini yang ingin ia pertanyakan, tapi lupa ia tanyakan karena sibuk melepas rindu untuk ibunya.


"Masyallah, ini adalah jalan yang Allah tunjukan buat kita. Makasih Om, Tante."


"Sama-sama, sayang."


"Nah, sekarang waktunya kamu berbakti kepada kedua orangtuamu karena sesungguhnya ridhonya orang tua adakah Ridhonya Allah, dan surga ada di telapak kaki ibu," kata Azzam.

__ADS_1


Naura menoleh pada ibunya. Ia tersenyum dan memeluk lagi sang ibu. Tidak ada habisnya ia berucap syukur atas kesempatan yang telah Allah berikan untuknya.


Naura berdiri, ia bergegas mengambil air ke dapur dan menampungnya ke dalam wadah. Tak lama kemudian ia berjongkok di kaki ibunya. "Bu, izinkan Naura membasuh kaki ibu sebagai salah satu wujud bakti Naura sama ibu. Izinkan Naura menyentuh surga yang ada di bawah telapak kaki ibu."


"Ya Allah." Farida tidak bisa berkata-kata lagi. Ia terharu atas perlakuan Naura.


"Kata ustadz dan ustadzah, membasuh Kaki Ibu merupakan bentuk bakti seorang anak kepada ibunya. Syurga berada di telapak kaki ibu. Derajat ibu sangat tinggi sehingga sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada ibu. Tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, rasa sayang dan cinta ibu memang tiada duanya. Apalagi jika mengingat perjuangannya untuk seorang anak, terkadang bikin kita jadi terharu. Ibu, maafkan Naura atas segala dosa dan khilaf yang pernah Naura lakukan. Naura mohon ampun atas segala kesalahan yang di sengaja ataupun tidak. Maaf, maaf, Bu." Naura terus membasuh kedua kaki ibunya yang ada di dalam wadah sambil terus meminta maaf pada orang yang sudah melahirkannya.


Menjadi seorang ibu memang tidaklah mudah. Namun menjadi ibu adalah pekerjaan mulia yang diimpikan semua wanita. Pahlawan tanpa jasa, salah satunya adalah ibu. Dari sosoknyalah kits belajar arti cinta, menyayangi dan memberi dengan tulus. Tanpa ibu kita tidak akan pernah dilahirkan dan tidak akan pernah menjadi apa-apa. Sembilan bulan membawa kita dalam tubuhnya, hingga menjerit kesakitan agar kita bisa terlahir ke dunia. Merawat dengan penuh kasih sayang sejak kita tidak bisa berdiri hingga kita bisa berlari.


Setetes air mata seorang Farida meluncur membasahi pipinya. Gejolak hati yang seakan akan ingin menjerit bersyukur memiliki putri yang kini menjelma menjadi sosok wanita Sholehah menurut pandangnya.


Air mata terus mengalir Membasahi kedua pipinya yang sangat lembut di tengah tangan lembut Naura membasuh kakinya. Hatinya pun berkata, "Ya Allah ya Tuhanku, bimbinglah anakku menuju jalan yang engkau Ridhoi. Jika suatu hari nanti aku tiada, tetap dan teguhkanlah imannya untuk selalu teringat padamu."


Seorang ibu sudah bertarung dengan nyawanya ketika berjuang untuk melahirkan anak anaknya. Untuk itu, Allah SWT sudah menjanjikan surga bagi ibu yang meninggal ketika berjuang saat melahirkan dan ibu yang akan selalu menimang, merawat sampai membesarkan dan anak bisa mandiri. Kesuksesan seorang anak tidak lepas dari doa seorang ibu serta doa ibu yang akan menjadi kenyataan serta kutukan yang juga akan menjadi kenyataan. Untuk itu, mintalah doa dari ibu sambil membasuh kakinya ketika menghadapi masalah besar, dan sangat disarankan serta dianjurkan untuk tidak membuat seorang ibu marah sampai mengeluarkan kata, mencaci yang tidak pantas, sebab kutukan tersebut bisa menjadi nyata.

__ADS_1


Seperti yang kita ketahui jika surga ada di telapak kaki ibu membuat ritual mencuci kaki ibu juga menjadi bentuk untuk menghormati ibu dan mendapatkan ridha Allah dan memberi pengertian lebih mendalam terhadap pentingnya manfaat agama dalam kehidupan manusia. Dari Abdullah bin ’Umar berkata, “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”


__ADS_2