Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 25


__ADS_3

Sehabis shalat subuh, para santri mulai melakukan kegiatan mereka mengaji bersama yang akan di mulai dari jam setengah enam pagi sampai jam tujuh. Setelah selesai barulah mereka melakukan patrol masak.


Berhubung itu adalah pondok biasa, tidak terlalu besar, dan juga terletak di desa, jadinya para santri memasak sendiri sesuai kelompok yang di tentukan.


Satu penghuni kamar di bagi menjadi beberapa group, kemudian setiap group akan bergilir masak, dan ada juga yang bagian beres-beres.


Hari ini, kebetulan Naura dan Khanza kebagian masak. Dan mereka semua berkeliling meminta izin mengambil beras anak-anak yang akan mere masak.


"Teh, di sini kan ada delapan orang, jadinya kalian ambil masing-masing satu cangkir beras untuk makan pagi hari dan satu cangkir beras lagi di ambil nanti saat menjelang sore hari. Jadi setiap yang patrol harus melakukannya," kata salah satu penghuni kamar yang Naura tempati.


"Satu cangkir beras di kali 8, itu artinya pagi ini aku dan Khanza harus masak nasi dua liter untuk delapan penghuni kamar kita?"


"Iya, Teh. Itu memang kegiatan yang sering di lakukan di sini."


"Kenapa tidak ada antrian makanan seperti pondok lain? Di tempat lain kan kalau mau makan tinggal ngantri," kata Khanza lagi.


"Soalnya ini pondok di desa dan juga tidak sebesar pondok di tempat lain. Kalau di tempat lain semua makanan memang di sediakan dari dalam dan juga bayaran mondoknya lumayan. Kalau di sini diajarkan mandiri, kerja keras, solidaritas, dan tentunya kesabaran dalam melakukan kegiatan."


"Tapi untuk teman nasinya bagaimana?" tanya Naura.


"Itu kalian yang mengatur ingin belanja apa. Kita hanya patungan per orang lima ribu saja untuk membeli teman nasinya. Nah, uang itu kalian belanjaan berbagai macam sayuran yang akan kalian masak. Itu salah satu tugas dari kalian. Pokonya, sebisa mungkin uang empat puluh ribu harus bisa kebeli lauk dan pauk."


"Meskipun makan sama orek tempe dan tumis kangkung pun tidak apa-apa?" tanya Khanza.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Teh. Yang penting bagi kita bisa makan saja sudah Alhamdulillah. Itulah sebabnya setiap murid yang ada di sini suka membawa bekal beras dan di kasih jatah uang bulanan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari di pondok."


"Ribet juga, ya? Aku kira hanya tinggal belajar saja tanpa ada ini dan itu. Kalau begini caranya aku dapat uang dari mana?" kata Naura yang tidak tahu harus membiayai kehidupannya sendiri selama mondok.


"Ayah sama Bunda sudah ngasih kita bekal, Kak. Kayaknya cukup buat kita berdua. Beras pun di kasih satu karung yang beratnya 25kg, uang juga cukup buat beberapa bulan. Kayaknya di sini kita akan hemat," kata Khanza.


"Tapi aku tidak enak harus terus merepotkan kamu dan keluargamu terus."


"Kata Ayah ini memang untuk kita berdua. Bunda juga tidak keberatan soal itu. Mendingan kita patrol saja daripada nanti kena marah teteh santri yang lain." Khanza mengambil bakul yang akan di gunakan untuk mengumpulkan setiap satu cangkir beras. Nanti berasnya akan di bersihkan di dalam bakul, baru di masak ketika sudah bersih.


"Sebelum itu belanja aneka sayur dulu atuh, Teh. Warungnya ada depan pondok. Izin dulu sama pemilik pondok buat kedepannya. Supaya tidak kena hukuman," kata teman mereka.


"Oh gitu, baiklah kalau gitu mah. Ayo Kak." Khanza menyimpan lagi bakulnya kemudian menarik tangan Naura.


"Assalamualaikum umi," sapa Naura dan Khanza.


"Waalaikumsalam. Kalian mau kemana?"


"Umi, kami mau ijin ke warung depan buat belanja," kata Naura sopan.


"Silahkan atuh, tapi langsung kembali ya, jangan terlalu lama."


"Baik Umi. Kalau gitu kita permisi dulu, Umi. Mari, assalamualaikum," kata Naura.

__ADS_1


"Assalamualaikum ustadzah."


"Waalaikumsalam."


*****


"Kita mau beli apa, Khanza? Apa cukup uang empat puluh ribu membeli aneka macam sayuran?"


"Insyaallah cukup, Kak. Kita belinya yang murah saja." Keduanya berjalan bersama mendekati gerbang pondok untuk menyebrang jalan menuju warung.


"Hei kalian berdua mau kemana?" tanya Fitri kelihatan sedang berjalan dengan temannya. Fitri tiba-tiba menghalangi jalan Naura dan Khanza.


"Kita mau ke warung, Teh." Khanza yang menjawab.


"Kamu tidak ngucapin salam? Bukannya setiap murid di di haruskan ngucapin salam saat menyapa murid lain? Kau kan anak ustadz, kok tidak memiliki sopan santun?"


"Anak baru sudah blagu. Terserah aku dong mau ngucapin salam ataupun tidak, bukan urusan kamu."


"Eh! Kok gitu? Namanya aja Fitri yang artinya suci bersih, tapi tidak kelihatan kalau kakak bersih?" kata Khanza.


"Ssttt! Jangan banyak berisik. Aku hanya ingin titip membeli sesuatu. Belikan aku Jamsostek! Aku malas ke warung depan."


"Hah!"

__ADS_1


__ADS_2