
Lontaran hinaan pada Naura membuat Aditya menggeram marah. Ingin sekali dia menyumpal mulut wanita tua itu dengan lumpur kotor yang bau sebau mulutnya yang suka menghina orang.
"Terserah Anda mau mengatakan apapun tentang aku. Mau Anda bilang murahan, busuk ataupun itu terserah. Namun, siapa yang berucap maka dialah sosok bau bangkai yang sesungguhnya. Menghalalkan segala cara demi memisahkan aku dan cucunya, sampai berbohong segala demi mencapai tujuannya," kata Naura mencoba tegar di situasi yang membuatnya masih berduka, marah, dan juga sedih dengan kisah hidupnya yang rumit.
"Apa maksudmu, hah? Jelas-jelas kamu yang sudah menghalalkan segala cara untuk mendekati cucuku. Dan sekarang kelihatan kalau kamu itu busuk tidak pantas berdampingan dengan cucuku. Azriel, ini yang tidak membuat menyetujui kamu dengan dia karena nenek tahu kalau dia itu murahan dan tidak pantas untuk kamu. Dia yang dari keluarga hina, pasti akan tetap menjadi sosok perempuan hina sampai kapanpun itu. Apa ini yang disebut perempuan solehah menurut pandanganmu? apa ini perempuan baik-baik menurut penglihatan mu? Bahkan dengan pria yang bukan mahramnya saja dia sampai menerima pelukan dari pria lain. Ck, menjijikkan."
"Sudah cukup Anda menghina ku! Sudah cukup mulut busuk anda terus melontarkan perkataan yang seharusnya Anda terima! Di sini yang sebenarnya perempuan hina itu bukan aku tapi anda sendiri, Nyonya. Apa Anda tidak malu dengan hijab longgar mu yang menutupi bagian dada serta pakaian syar'i menurut syariat Islam? tapi mulut terus saja mengucapkan hinaan hinaan yang seharusnya tidak pantas Anda ucapkan. Anda mengatai aku hina, tapi Anda sendiri jauh lebih hina. Sungguh menyayangkan sikap Anda yang semakin tua semakin menjadi, bukan tua mengingat dosa tapi malah menambah dosa. Sungguh aku takut setiap lontaran kata yang Anda tujukan apa ku suatu saat nanti berbalik pada keluarga Anda sendiri. Sungguh ku takut apa yang Anda sebut menjadi nyata dan menjadi penyakit untuk Anda sendiri. Aku sudah tidak peduli dengan setiap kata Anda, karena aku sudah kebal dengan itu semua. Bahkan dari dulu hingga saat ini, aku tidak lepas dari cemoohan orang-orang." Sikap Naura terbilang berani karena dia mampu melawan orang tua. Dia tidak akan tinggal diam selama orang lain terus saja menginjak harga dirinya dan dia juga akan terus membalikkan setiap perkataan orang itu jika menurutnya sudah keterlaluan.
Takjub, itu yang Aditya pikirkan pada Naura. Tadi perempuan itu menangis tersedu terlihat rapuh, namun kini sikapnya jauh berbeda dan terlihat berani serta tak ada sedikitpun rasa takut melawan orang yang lebih dewasa darinya.
Azzam dan Azzura diam mencerna setiap perkataan Naura. Mereka cukup malu akan sikap Fatimah yang makin kesini semakin bertambah jauh baik dari dulu. Mereka juga menyayangkan sikap Fatimah yang keras kepala, egois, dan juga suka menilai sesuai yang ia lihat. Ini bukan kali pertama, tapi sering dari jaman dulu hingga saat ini. Mungkin ini sudah menjadi sikap dan sifat Fatimah yang sudah mendarah daging.
"Azriel, kamu lihatkan? Kamu juga Azzam, Azzura bisa melihat bagaimana sikap dia pada Mama." Fatimah semakin mengompori Azriel untuk membuka matanya supaya sang cucu tahu kalau sikap Naura kurang ajar.
__ADS_1
"Anda sopan aku segan, Anda menghina aku lawan, Anda menginjak aku melunjak, Anda jual aku beli," jawab Naura dingin dengan sorot mata tidak terbaca. Sungguh ucapan yang sangat pedas, tajam, dan juga mampu membuat orang lain tercengang. Ini seperti bukan Naura yang mereka lihat kesehariannya di pondok. Sikap Naura kali ini jauh berbeda.
Meskipun Naura tahu kalau sikapnya ini keterlaluan, tidak sopan, dan bisa membuat Azriel ataupun kedua orangtuanya Azriel marah dan ilfil, tapi Naura sudah merasa tidak peduli lagi. Kepalang kecewa dan juga sakit hati serta marah, ia melampiaskan marahnya pada perkataan yang bisa membuat orang tidak percaya.
Namun lain halnya dengan Azriel yang malah fokus pada tangan pria itu yang sedari tadi terus merangkul pundak Naura. Dia tidak memikirkan dan tidak mendengar lontaran apapun dari neneknya karena pikirannya sibuk dengan pikiran dia sendiri. Namun matanya terus menatap Naura dengan tatapan sedih, kecewa, dan juga cemburu karena ada pria lain yang mudah sekali menyentuhnya.
"Naura," lirih Azriel begitu lirih dengan perasaan bercampur aduk.
"Astaghfirullah, Mah." Azzam dan Azzura menegurnya. Tidak sepantasnya Fatimah bicara begitu, bisa saja itu adalah hal yang tidak benar. Mereka berdua masih bisa berpikir jernih karena mereka merasa kalau Naura tahu adab, etika dan mana yang baik dan benar ketika bersama pria yang bukan mahramnya. Tidak mungkin mondok begitu lama tidak tahu sesuatu tentang mahram.
"Tidak mungkin Naura seperti itu, Nek. Aku tidak percaya." Meskipun neneknya terus meyakinkan, tapi hati kecilnya menolak keras. Matanya pun terus menatap Naura.
"Nenek kamu benar, Ustadz Fauzi. Aku ini hanya perempuan ja lang yang tidak pantas mendapatkan pasangan seperti kamu. Lebih baik kamu fokus pada kehidupan kamu saja dan fokus dengan perempuan terbaik pilihan nenek kamu, jangan pedulikan aku. Kita berbeda, kita jauh berbeda. Kamu seorang Ustadz, pria Soleh, kaya, dari keluarga baik-baik. Sedangkan aku hanya perempuan akhir zaman yang tengah mencari kedamaian, mencari amalaan di dunia penuh sandiwara ini. Jadi aku mohon untuk tidak berurusan dengan perempuan ja lang ini."
__ADS_1
"Tidak Nau, aku tidak peduli siapa kamu. Aku tidak peduli darimana kamu berasal, aku tidak peduli dengan masa lalu mu. Aku hanya tahu kalau aku mencintaimu, hati ini memilihmu, perasaan ini hanya untukmu. Aku hanya ingin menjadikanmu sebagai pendamping terakhir ku. Sampai kapanpun aku tidak akan mundur meski kamu pe la cur pun, aku tidak akan meninggalkan kamu. Ayo kita menikah, ayo kita membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Aku tahu hati kamu hanya untukku, aku tahu kamu tidak sungguh-sungguh menolak kehadiran ku, Nau. Aku yakin kalau kamulah takdirku, Anna uhibbuka Fillah, Nau."
Keseriusan Azriel dalam berucap membuat seorang Aditya diam menatap lekat pria itu. Mencari secerca kebohongan namun ia tidak menemukannya. Dia hanya bisa melihat kesungguhan, kejujuran, serta sorot mata cinta bercampur sedih.
"Tapi aku yang tidak mau sama kamu!" Jawab Naura menggelegar. "Aku sudah capek harus menghadapi semua ini, aku lelah terus di terpa masalah, aku ingin tenang, aku ingin bahagia, aku ingin damai, aku ingin hidup normal tanpa hinaan dari siapapun, tanpa cemoohan orang-orang, tanpa harus bersitegang dengan nenek kamu yang paling maha benar ini. Aku nyerah, aku pasrah, aku iklhas melepaskan mu, dan aku rela kamu menikah dengan orang yang jauh lebih baik dariku." Naura mengeluarkan segala keluh kesah yang ia rasakan saat ini. Dirinya sangatlah lelah.
"Kisah kita cukup sampai di sini, kita tidak di takdirkan bersama. Pergilah! Pergi dari sini! Aku tidak mau bertemu dengan kamu ataupun dengan nenek kamu itu!"
Deg.
Azriel tertegun. "Naura!"
"Pergi!" sentaknya begitu keras.
__ADS_1