
"Hai Sean." Naura menyapa dengan ramah. Dia tersenyum tulus menghampiri anak kecil itu.
"Tari, ini Naura yang Sean ceritakan tadi."
"Wah, rupanya sedang ada yang membicarakan Tante, ya?" Naura tersenyum.
"Habisnya Sean seneng punya teman seperti Tante," kata Sean.
"Sayang, aku tunggu di parkiran, ya." Azriel tidak ingin berada di sana terlalu lama. Tadinya mau pulang bareng ayah mertuanya, tapi Azzam mencegah dan meminta pulang ke rumah Azzam. Jadinya tidak jadi ikut mertuanya dan menunggu ayahnya. Namun Naura ingin bertemu Sean dulu, tentang Azriel tidak akan melarangnya.
"Iya, Hubby." Setelahnya Azriel keluar dari sana.
"Jadi ini yang Sean ceritakan tadi? Cantik sekali." Mentari memuji Naura. Dia saja yang notabenenya seorang perempuan mengakui kecantikan Naura.
"Mbak juga cantik, Kok."
"Oh iya, sebelum pulang mau jenguk Sean dulu. Eh kebetulan ada mamanya. Salam kenal Mbak."
"Salam kenal kembali, aku mentari mamanya Sean. Senang bertemu dengan kamu." Tangan Mentari dan tangan Naura saling berjabat tangan. Keduanya sama-sama ramah dan juga saling melempar senyum.
"Salam kenal kembali, Mbak. Aku Naura, kebetulan nenek suami aku di rawat di sini. Jadinya kita bertemu." Tangan mereka pun terlepas.
"Mah, Tante Naura cantik 'kan? Sean suka punya Tante seperti Tante Naura."
"Wah makasih, Tante jadi geer banget di sebut cantik sama anak tampan seperti kamu." Naura mencubit gemas pipi chubby Sean. Tidak terlalu keras jadinya tidak membuat Sean kesakitan.
"Nak Naura, hendak apa datang ke sini?" tanya Bu Sukma.
"Oh iya, aku hampir lupa. Aku mau membicarakan masalah pekerjaan yang aku tawarkan tadi pada Ibu. Kata Kakak aku bisa datang hari ini juga ke toko. Kalau Mbak mau kita bareng saja, aku juga mau ketemu Kakak aku." Ajak Naura pada Mentari.
"Hmm gimana ya?" Mentari melirik dulu pada Bu Sukma.
"Sean biar sama ibu dulu. Siapa tahu ini adalah pintu rezeki buat kamu dan Sean." Bu Sukma tentu tidak keberatan, dia mengerti situasi Mentari yang sangat membutuhkan pekerjaan dan juga kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja. Dia juga tidak keberatan kalau Sean bersama dirinya.
"Bagaimana, Mbak?" Tanya Naura pada Mentari.
"Baiklah, aku akan melamar pekerjaan hari ini juga. Tapi aku tidak bisa ikut kamu, aku naik kendaraan umum saja. Ada hal yang harus aku cari dulu."
"Oh, ya sudah. Tidak apa-apa."
*****
Sesuai dengan perjanjian, Mentari datang sendiri ke alamat yang di berikan oleh Naura. Dia tidak mau bareng karena merasa tidak nyaman dengan adanya suami Naura. Jadinya lebih baik pergi sendiri saja.
__ADS_1
Pun dengan Naura yang tidak bisa memaksa Mentari.
"Azriel, mobil ingin kamu yang bawa saja. Ayah dan Bunda bisa pulang menggunakan mobil yang di bawa Khanza," kata Azzam.
"Loh, tadi Ayah bilang ada yang ingin Ayah bicarakan pada aku." Azriel heran.
"Iya ini, Ayah hanya ingin memberikan mobil ini saja biar kemanapun kamu pergi, kemana pun kamu mengantar istrimu tidak harus menggunakan angkutan umum. Ini mobil masih baru dan memang punya kamu, atas nama kamu. Jadinya kamu bawa saja."
"Tapi Ayah ..."
"Nak, semua barang milik ayah akan menjadi milik kamu dan Khanza. Semuanya sudah memiliki bagiannya masing-masing. Jangan menolak apalagi membantah, Ayah hanya ingin memberikan hak kamu saja. Jangan dengarkan nenek kamu karena semua warisan kakek sudah di wariskan pada ayah dan ayah wariskan pada kamu dan Khanza. Jadi tidak ada kata di coret dalam daftar waris karena ayah yang berhak melakukan itu. Ayah mohon terimalah." Azzam menyerahkan kunci mobil yang dia pakai ke putranya.
Azriel menoleh pada Naura. Dia ingin menolak tapi tidak enak pada ayahnya.
"Kalau kamu mau terima saja, aku akan mendukung apapun yang kamu lakukan." Naura tersenyum sembari memegang lengan suaminya.
"Tuh, istri kamu saja tidak keberatan."
"Jika ini memang sudah menjadi hakku, aku akan menerimanya. Tapi nenek?"
"Anggap saja angin berlalu, toh semua sudah di bagi sesuatu porsinya masing-masing sebelum kamu pergi kuliah."
Dan pada akhirnya Azriel menerima mobil pemberian ayahnya setelah mendapatkan bujukan dari ayahnya. Tidak ada lagi sosok yang akan meneruskan usaha mereka selain Azriel dan juga Khanza.
*****
"Loh, ini kan toko yang tadi aku datangi? Kenapa Naura menyuruhku datang kesini?" Dia keheranan dan juga tidak tahu menahu tentang hubungan Naura dan Aditya. Untuk memastikannya lagi, Mentari memperhatikan alamatnya baik-baik.
"Iya benar, ini toko yang tadi." Dia terus diam mematung dengan segala pikirannya.
"Loh, Mbak, kok masih ada di sini? Ayo masuk! Aku kenalin sama kakak aku." Naura sudah berada di belakang Mentari.
"Eh, ini aku ..."
"Udah ayo, Kakak aku baik kok." Naura merangkul lengan Mentari sambil membawanya masuk ke dalam. Sedangkan Azriel menunggu di dalam mobil saja sambil mempelajari pekerjaan yang nantinya akan dia kerjakan di kantor.
"Tapi aku ..."
"Udah, tidak usah sungkan dan takut. Pasti kakak akan menerima Mbak kerja di sini." Naura tidak tahu saja kalau mentari sedang dilanda kegugupan dan juga terus berpikir kalau Naura ada hubungannya dengan Aditya.
"Assalamualaikum, Kak." Naura mencari keberadaan kakaknya.
"Waalaikumsalam." Bukan Aditya yang menjawab, tapi karyawan toko.
__ADS_1
"Mbak, kakak aku ada?"
"Ada di ruangannya, Nau."
"Makasih ya Mbak."
"Sama-sama."
Naura terus melangkah sambil membawa Mentari ke ruangan kerja kakaknya. Dia membuka pintu yang ada di lantai atas diantara beberapa rak sepatu.
"Assalamualaikum, Kak Adit."
"Kak Adit?" lirih Mentari mematung. Dia menatap Naura.
"Kenapa berhenti? Ayo masuk!" Naura heran langkah Mentari tiba-tiba berhenti.
"Waalaikumsalam sayang." Jawab dari dalam mendekati arah pintu. Namun dia juga mematung dan Mentari juga mematung.
"Lo!" pekik Aditya menunjuk wajah Mentari. "Ngapain lo kemari lagi, hah? Sudah gue bilang tidak ada lowongan buat wanita seperti lo."
Naura menatap silih berganti pada Mentari dan juga Aditya. "Kalian saling kenal?"
Aditya beralih menatap Naura. "Tidak! Kamu juga ngapain membawa dia ke sini?"
"Ini orang yang aku ceritakan ke Kak Aditya."
"Apa?! Jadi dia orangnya? Kalau tahu dia kakak tidak akan menerima dia kerja di sini."
"Emangnya gue mau kerja sama pria brengsek seperti lo? Tidak akan! Maaf Nau, lebih baik aku pergi saja. Percuma berada di sini yang ada aku darah tinggi oleh pria brengsek ini." Mentari tak kalah sinis membalas ucapan Aditya.
"Lo yang brengsek!" Sentak Aditya masih marah.
"Stop! Kalian ini punya masalah apa sih sampai berantem begini? Apa kalian punya masa lalu yang tak kunjung selesai?" Naura menatap silih berganti dua orang yang ada di sana. Naura merasa mereka masalah pribadi tapi belum selesai.
"Jangan dekat-dekat dia, Naura! Dia itu perempuan tidak benar, murahan!"
Mentari mengepalkan tangannya. Dia kesal dan marah terus saja di bilang murahan.
Plak!
"Gue tidak seperti yang lo bilang! Hanya lo satu-satunya pria yang sudah merusak harga diri gue dan seluruh hidup gue, sialan!"
Deg..
__ADS_1