
Sangatlah tidak pantas bagi seorang wanita yang terbilang di hormati, di segani, dan juga di bilang baik menghina orang lain. Setiap kepala pasti beda cara berpikirnya, namun apa pantas bagi seseorang menghakimi orang lain? Kita tidak pernah tahu Tuhan merencanakan apa pada kita? Tapi satu hal yang pasti, Tuhan akan menjanjikan surga untuk hambanya yang mau benar-benar bertaubat nasuha.
"Sesulit inilah jalan hidupku? Baru saja nyaman tinggal disini, nyaman dengan kehidupan ku, nyaman dengan lingkungan yang menurutku membawa pengaruh baik, tapi selalu saja ada cibiran orang yang menjurus kepada masa laluku. Lalu apa salah kalau aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi meski aku tidaklah sempurna? Aku ini hanya manusia biasa, aku ingin mendapatkan ridho-NYA, aku ingin sekali menjadi salah satu penghuni surga-NYa, tapi kenapa banyak yang bilang kalau aku ini tidak pantas? Sehina inikah diriku ini, ya Allah?" gumam Naura berbicara sendirian di dekat pos satpam.
"Kenapa neng? Ngelamunin apa atuh? Nanti kesambet setan," kata mang Muklis penjaga satpam.
"Eh, Mang Muklis. Ah aku tidak kenapa-kenapa, Mang. Hanya saja sedang galau."
"Neng Naura bisa galau juga ternyata. Galau karena apa? Sini curhat sama mamang." Mang Muklis yang ada di dalam pos satpam menghampiri Naura sambil membawa kopi hitam miliknya. Dia duduk di kursi bangku yang terbuat dari kayu sedangkan Naura duduk di bata yang ada di pos.
"Mang, Naura sebenarnya kangen Ibu. Udah lama tidak ketemu dengan Ibu, Naura ingin sekali berbakti pada Ibu." Dia tidak mungkin mengeluhkan kegalauannya karena Fatimah, Naura tidak sedikitpun ada niatan buat membicarakan orang.
"Aduh, kalau udah menyangkut ibu mah Mamang tidak bisa bantu atuh. Mamang juga sedih kalau di ceritakan mah." Mang Muklis menyeruput kopinya, lalu kembali menyimpan cangkirnya di samping.
Naura mengernyit heran. "Sedih kenapa, Mang? Ibunya tidak ada juga?"
__ADS_1
"Iya, udah lama meninggal. Mamang menyesal belum bisa membahagiakan Ibu, mamang. Sampai saya ini berasa ada yang meninggal gitu, di hati." Wajah Mang Muklis juga terlihat murung.
"Mang, kok Naura juga sama ya? Sama menyesal belum bisa menemukan Ibu? Naura jadi kangen ibu. Sekarang bagaimana kabar ibu?" Sekian lama tidak bertemu dengan ibunya membuat Naura merasa sedih. Apalagi setiap mendengar ceramah ustadz ataupun ustadzah tentang Ibu membuat Naura merindukan sosok ibu kandungnya.
"Atuh Neng jangan sedih, mamang jadi kurang sedih nih."
"Naura ingin sekali bertemu dengan ibu, Mang. Sudah mau lima tahun Naura tidak ketemu ibu. Terakhir kali bertemu ketika keluar dari rumah ibu, sekarang Naura tidak tahu kabarnya bagaimana? Naura menyesal telah meninggalkan ibu sendirian. Naura menyesal tidak berbakti sama ibu, padahal surga seorang anak ada di telapak kaki ibu, tapi Naura malah menyakiti jalan surga Naura sendiri." Naura menunduk menyembunyikan air matanya yang ingin jatuh dari pelupuk mata. Ia menyesali kelakuan dia yang meninggalkan ibunya sendirian. Sekarang dirinya tidak bisa menemukan keberadaan sang ibu meski sudah mendapatkan bantuan dari orangtuanya Azriel.
"Hiks hiks, Neng. Mamang jadi ikutan sedih euy. Jangan nangis gini, atuh." Mamang Muklis jadi terisak mendengar tangisan Naura.
"Naura kangen Ibu, Mang. Naura jadi ingin pulang bertemu ibu." Tidak di pungkiri kalau dia merindukan ibunya yang tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini. "Bagaimana kalau ibu sakit sendiri? Bagaimana kalau ibu juga mencari aku? Bagaimana kalau ibu kembali ke jalan yang salah selama aku tidak ada, Mang? Naura jadi ngerasa bersalah banget meninggalkan Ibu hiks hiks hiks."
"Mang, Naura mamang apain sampai nangis gitu? Mamang jahatin dia, ya?" ujar salah satu murid di sana.
"Eh, bukan! Naura kangen ibunya. Ini bukan salah mamang, atuh." Mang Muklis panik.
__ADS_1
"Neng udah, jangan nangis lagi."
"Huaaaa, ibu ...." Jerit Naura teriak memanggil ibunya sambil menangis.
"Aduh... Gimana cara nenanginnya?" Mang Muklis kebingungan, ia mencari cara buat menenangkan Naura. "Neng, jangan nangis ya. Anak baik, cakep, pinter, Solehah, jangan nangis lagi, nanti mamang belikan permen kaki, mau ya."
"Hiks hiks mamang pikir aku anak kecil. Aku tidak mau permen," jawab Naura masih terisak.
"Terus aku apa atuh?"
"Aku maunya jajan bakso urat, ketoprak, mie ayam, rujak, sama es blender. Tapi aku kagak punya duit, Mang. Mamang belikan ya?"
"Hah! Itu keinginan atau rakus?"
"Huaaaa ..."
__ADS_1
"Eh iya, iya. Nanti mamang belikan, deh."
"Maunya sekarang, Mang." Naura makin ngelunjak, ia menyipitkan sebelah matanya melihat Mang Muklis, ia terkikik pelan dan dalam hatinya berkata, "lumayan dapat makanan gratis."