Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 44 - Kabar Mengejutkan part 2


__ADS_3

Sebelumnya


Naura dan Khanza tergesa keluar Kobong untuk menemui Azriel yang berada di luar pesantren. Butuh waktu pula sekitar setengah jam ke tempat Azriel di tempatkan.


"Eh tapi ini kita seriusan mau keluar pondok?" tanya Khanza.


"Aku serius karena aku mau nekat bertanya pada kakak kamu. Mau di izinin atau tidak aku tidak peduli. Rasa penasaran yang ku miliki jauh lebih besar meski ku tahu resikonya melanggar aturan. Namun ini demi masa depan kisahku. Kalau kamu mau ikut hayu, tapi kamu harus menanggung akibatnya. Tidak mau juga tidak apa-apa biar aku saja yang kena hukuman." Naura tidak ingin memaksakan kehendaknya membawa Khanza keluar pondok.


"Aku ikut karena aku juga penasaran, tapi kita kasih alasan yang logis saja sama pihak pengurus pondok."


"Bisa di atur." Naura pun memikirkan cara buat izin pada pengurus pondok untuk ke luar sebentar dari pondok.


Keduanya terus melangkah mencari sosok yang di segani disana. Namun keduanya malah tertarik pada suara yang menurut mereka kenal. Pembicaraan yang terjadi di area parkiran khusus untuk kendaraan tamu.


"Bentar, itu bukannya nenek kamu dan Kakak kamu? Mereka sedang bicara sesuatu." Naura menunjuk keduanya.


"Iya, itu mereka lagi ngapain di sana?" Untungnya tidak banyak orang yang berada di area parkiran, jadinya tidak menjadi bahan tontonan orang-orang.


"Kita kesana, aku mau tahu apa yang sedang mereka bicarakan." Jiwa kepo Naura mulai datang, ia ingin tahu lebih jelas atas setiap ucapan yang Azril katakan.

__ADS_1


Khanza mengangguk, lalu mereka mendekatinya. Dan alangkah terkejutnya saat mereka mendengar penolakan Azriel tentang perjodohan itu.


Tiada lagi kata-kata yang diucapkan Naura selain mendengarkan perdebatan kedua orang yang ia kenal. Tidak pernah terbayangkan pula kalai ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan kini ia mendengar jelas bahwa sosok yang ia idamkan ternyata memiliki perasaan juga.


Pun dengan Khanza yang juga sama-sama terkejut namun merasa senang juga.


"Jadi kamu mencintaiku?" tanya Naura secara tiba-tiba membuat mereka berdua seketika menoleh padanya.


"Naura!" ucap Azriel dan Fatimah bersamaan.


"Ngapain kamu di sini, hah? Kamu senang melihat saya dan cucu saya berantem begini? Ini semua gara-gara kamu! Sudah saya peringatkan untuk tidak mengusik cucu saya, tapi kamu malah diam tidak mendengarkan!" Fatimah tersulut emosi, ia tidak terima cucunya memilih Naura yang tidak pernah ia harapkan.


"Nek, Naura tidak pernah mengusik aku. Dia tidak pernah melakukan apapun padaku. Dan masalah perasaan adalah hak aku, Nek. Jadi aku mohon jangan salahkan Naura tentang perasaan ini." Azriel tentu tidak menyalahkan siapapun mengenai perasaan yang tumbuh pada dirinya. Ini murni hadir sendiri meski demikian ia tahu perasaan ini perlahan sulit di kendalikan ketika bertemu dengan Naura.


"Diam kamu! Sejak kamu mengenal perempuan kotor ini, kamu jadi berani melawan nenek, Azriel. Sampai segitunya kamu membela dia dan tidak mau menuruti perintah nenek. Apa ini yang di ajarkan oleh guru kamu selama kamu kuliah di sana?" Fatimah merasa kecewa terhadap sikap sang cucu yang menurutnya berani menentang dirinya demi wanita seperti Naura. Untuk pertama kalinya juga Azriel bersikap seperti ini dan hal ini pun membuat Fatimah semakin tidak menyukai Naura.


Fatimah tidak menyangka jika cucunya terpikat pada perempuan itu dan bisa melawannya hanya demi perempuan hina. Tentu dia tidak terima dan akan melakukan apapun untuk memudahkan keduanya.


"Nek, aku tidak ..."

__ADS_1


"Apa ada yang salah dengan perasaan kami, Nek? Cinta itu fitrah dari Allah untuk setiap hambanya dan apakah salah jika cinta ini bersatu atas izin Allah? Apa salah kau aku menginginkan dia?" ujar Naura terdengar pilu. Menurutnya perasaan mereka tidaklah salah. Tapi Fatimah begitu terang-terangan menghalangi keduanya dan tidak setuju atas hubungan mereka.


"Salah, sangat salah besar karena kamu bukan wanita idaman saya! Kamu tidak pantas menjadi istri cucu saya!" sentak Fatimah menunjuk wajah Naura dengan sorot mata penuh kebencian.


"Di sini Azriel yang menentukan dia idaman atau bukan, Nek. Aku yang akan menjalin rumahtangga jadi aku yang harus memilih," jawab Azriel menyela. Ini kali pertama dirinya melawan sang nenek. Ini kali pertama dirinya mengutarakan keinginan dia selama hidupnya. Ia tidak pernah meminta apapun karena Azriel adalah seorang anak yang penurut. Namun kali ini dirinya begitu ingin memilih sebuah pilihan yang ia inginkan. Ia ingin memilih pasangannya sendiri tanpa campur tangan orangtua ataupun neneknya. Hatinya telah terpaut pada sosok perempuan seperti Naura, dan perasaan yang ia miliki murni dari hati terdalamnya.


"Jadi kamu berani melawan nenek demi wanita itu? Apa kamu tidak tahu kalau dia itu bukan perempuan baik-baik, buka mata dan hati kamu, Azriel!" ujar Fatimah penuh penegasan.


"Setiap manusia bisa berubah, Nek. Tidak selamanya orang itu buruk dan tidak selamanya orang itu terlihat baik. Kita tidak boleh menghakimi orang lain," sahut Khanza merasa kecewa atas perkataan neneknya yang seakan merendahkan orang lain hanya karena kesalahannya.


Memang terkadang satu kesalahan akan selalu di kenang meski banyak perbuatan baik yang di lakukan. Itulah manusia yang selalu merasa paling sempurna dan selalu menghakimi orang tanpa melihat apakah dirinya sempurna ataupun tidak?


"Lalu kalian merasa dia itu berubah?" Tunjuk Fatimah tepat di depan wajah Naura. "Dia tidak akan berubah, wanita sudah kecanduan minum keras, sering ke club, sudah sering bermain tidak akan pernah bisa berubah. Dan saya yakin kalau kamu sudah tidak perawan lagi!"


"Astaghfirullah!" ucap Azriel dan Khanza bersamaan. Namun berbeda dengan Naura yang menunjukan raut wajah dingin dengan segala pemikirannya.


"Sehina itu kah aku dimana Anda?" lirih Naura.


"Iya, kamu itu hina, kamu itu kotor, kamu murahan, kamu itu benalu dalam keluarga saya, dan kamu itu seorang ahli maksiat, itu yang membuat saya tidak menyukai kamu! Kamu dan ibumu pasti sama saja, sama-sama menjual diri untuk dunia, sama-sama kotor. Dan saya yakin ibu juga sudah mendidik mu menjadi seorang pelacuur, kalian itu sampah yang tidak akan pernah menjadi berlian. Kamu dan ibu mu adalah ahli maksiat!" sentak Fatimah menggebu.

__ADS_1


Plak!


__ADS_2