Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 77 - Halusinasi


__ADS_3

Azriel sudah kembali ke kamar Naura. Dia berjongkok mencoba membangunkan istrinya untuk sarapan pagi.


"Sayang, bangun. Makan dulu, ya." Dia mengusap lembut pipi Naura. Setelah berbincang-bincang dengan Papa Genta, Azriel pun memutuskan untuk melamar menjadi guru di salah satu MTS swasta. Apapun akan dia lakukan demi Naura.


Naura menggeliat, ucapan halus di pipinya mampu membangunkan Naura. Dia mengerjakan matanya tersenyum melihat sosok yang selama ini selalu dia pinta dalam doa.


"Tampan sekali sih kamu, berada nyata saja bisa melihat kamu di sini. Ya Allah, aku tidak mau larut dalam harapan palsu." Naura lupa kalau dia dan Azriel sudah menikah, dia masih belum terbiasa dengan adanya Azriel di sana. Jadinya Naura merasa ini hanyalah halusinasi dia.


Azriel mengerutkan keningnya. Namun ia diam saja ingin mendengar lebih jauh apa yang Naura katakan dan ingin melihat tindakan dia seperti apa.


Tangan Naura terulur mengusap pipi Azriel. "Kok bisa di sentuh sih? Bolehkan kalau aku berharap kamu ada di sini? Jujur, aku kangen kamu tahu. Setiap hari tiada satupun yang tidak aku lewatkan untuk tidak memikirkan kamu. Dan kenapa rasa ini begitu luar biasa padamu?" Naura menghela nafas, ia melepaskan tangannya dari wajah Azriel. Matanya terpejam kembali.


"Aku capek tahu terus berhalusinasi kamu ada di sini. Ku mohon pergilah bayangan kamu itu," lirihnya menahan tangis.


Sekarang Azriel mengerti kalau Naura merasa ini masih mimpi. "Kalau aku tidak mau pergi bagaimana?"


"Kok kamu bisa menjawab?" Naura kembali membuka matanya dan tidur menyamping menatap wajah yang ia sangka halusinasinya.


"Jawab dulu, kalau seandainya aku ibu bukan halusinasi mu kamu mau apa?"


"Masa sih bukan halusinasi? Coba kamu buktikan?" Naura mendadak bodoh, dia benar-benar tidak ingat kejadian semalam dan juga kejadian tadi pagi sebelum subuh.


Azriel tersenyum, dia mendekatkan wajahnya sambil memegang tengkuk sang istri. Kemudian memberikan sentuhan lembut di bibir istrinya.


Naura terdiam, dia merasakan sensasi kehangatan dan kenikmatan yang memang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia memejamkan mata seakan meyakinkan dirinya untuk tidak terus berhalusinasi. Namun dahinya mengkerut kala bibir dingin itu menjauh darinya.


"Bangun sayang, udah siang. Kamu harus makan dulu. Aku tidak mungkin kebablasan di saat kamu masih kelelahan." Azriel menjawil dagu Naura dengan gemas. Dia tersenyum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Naura. Lalu Azriel berjalan menuju nakas mengambil ponselnya dan mengaktifkan ponselnya yang dari kemarin sore dia matikan saking kesal pada neneknya.

__ADS_1


"Eh tunggu! Ini seriusan?" Naura terperanjat, dia sampai reflek duduk. Namun sesuatu terasa tidak enak ketika dia menggerakkan bokongnya. "Aw, kenapa rasanya ngilu, perih, dan terasa seperti ada yang mengganjal?"


Azriel sontak menoleh pada Naura. Dia menghampiri Naura dan duduk di tepi ranjang. "Sayang kamu tidak apa-apa?" Azriel tahu kalau dibawah sana masih terasa nyeri. Tadi pas bangun saja Naura sudah mengeluhkan hal itu.


"Hah! Kamu beneran ada di sini? Kamu bukan halusinasi aku kan? Ke-kenapa bisa kamu ada di dalam kamarku? Dan ke-kenapa tubuhku?" Naura terbelalak, dia membekap mulutnya. "Jangan-jangan kamu ..."


"Apaan sih sayang, kita sudah menikah loh. Kamu lupa? Dan Kenapa bisa aku berada di sini karena memang semalam aku menginap di sini, bahkan kita berbagi kehangatan." Dengan gamblang dan entengnya Azriel bicara seperti itu.


"Ki-kita?" Naura muslim berpikir, dan ia sudah bisa ingat sesuatu yang telah terjadi pada mereka berdua. Dia menunduk merutuk kebodohannya sendiri yang bisa-bisanya lupa pada kejadian kemarin.


"Kamu ingat?" Naura mengangguk. "Kalau ingat apa boleh kita ..."


"Ishh, masih perih, Hubby." Naura merengek manja sambil memukul pelan dada Azriel. Pria itu tertawa, ia senang menikah wajah kemerahan istrinya.


"Ya Humaira, sekarang kamu makan dulu ya." Azriel mengambil makanan yang berada di samping tempat tidur, lalu dia ingin menyuapi Naura.


"Tapi aku belum mandi dan belum gosok gigi."


"Hubby." Naura memelas, ia paling tidak enak jika makan sebelum gosok gigi ataupun mandi. Azriel tersenyum.


"Ya sudah, kamu mandi dulu lagi dan gosok gigi lagi. Baru kamu makan."


Naura pun tersenyum, lalu ia mengangguk.


sambil menunggu Naura selesai mandi, Azriel kembali mengambil ponselnya. Dia terbelalak kala melihat banyak panggilan tak terjawab di wa nya.


"Ya Allah, Ayah, Bunda, Khanza, mereka terus menelpon ku sebanyak ini? Ada apa ya?" Azriel segera kembali menghubungi Bundanya.

__ADS_1


Dia berdiri di dekat balkon kamar sambil mencoba menelpon no bundanya. "Ayo dong, Bun? Angkat! Ada apa kalian kompak menghubungi aku?"


Naura baru saja selesai mandi, dia sudah lengkap memakai gamisnya. Namun dia heran melihat suaminya kelihatan panik. Dia pun berinisiatif mendekati suaminya.


"Hubby, ada apa?" Naura memegang pundak Azriel.


Pria itu menoleh, "aku lagi mencoba menghubungi bunda, tapi tidak di angkat juga. Banyak panggilan dari bunda, ayah, dan juga Khanza. Aku khawatir."


"Kamu coba hubungi yang lainnya, Khanza atau Ayah mungkin."


Azriel pun mencoba menghubungi Ayahnya, namun tidak di angkat juga. Hingga beberapa kali mencoba barulah di angkat.


"Assalamualaikum, Ayah."


( "Waalaikumsalam, Azriel. Alhamdulillah ponsel kamu aktif juga. Azriel, dari semalam kita mencoba hubungi kamu tapi ponsel kamu tidak aktif juga. Nenek kamu sedang berada di rumah sakit, Nak." )


"Nenek di rumah sakit? Kenapa? Apa ada kejadian setelah kepergian aku?" Azriel cukup kaget, namun ia tidak ingin larut dalam drama yang neneknya lakukan.


( "Nenek kamu mencoba bunuh diri." )


"Apa?! Bunuh diri!" pekikan Azriel juga mengagetkan Naura, perempuan yang masih ada di samping Azriel itu terkejut atas kabar barusan. "Tapi kenapa nenek bisa nekat begini?"


( "Nanti Ayah jelaskan, kamu datang kesini kan? Ada hal yang ingin ayah bicarakan sama kamu." )


"Baiklah, aku dan Naura akan kesana, tapi kalau Nenek macam-macam sama Naura apalagi memaksaku lagi, aku tidak mau bertemu nenek lagi." Azriel masih belum ingin bertemu neneknya yang pemaksa itu, namun demi melihat keadaan neneknya, dan juga ingin tahu apa yang akan ayahnya bicarakan, Azriel pun mau.


"Bunuh diri?! Nenek nekat begini pasti karena aku, Hubby. Aku sudah membuat keluarga kalian kacau." Naura merasa bersalah telah menyebabkan kekacauan ini. Ia tidak menyangka kalau wanita yang mungkin usianya tidak akan lama lagi berani mengambil tindakan di luar dugaan semua orang.

__ADS_1


"Tidak sayang, ini bukan salah kamu. Nenek begini atas kemauannya sendiri. Apa kamu mau ikut denganku?" Azriel mengusap pipi istrinya, dia tidak akan memaksa jika istrinya tidak ingin ikut.


"Aku mau lihat keadaan nenek."


__ADS_2