
Namun siapa sangka kalau Naura menampar wajah Fatimah. Azriel dan Khanza tercengang atas apa yang terjadi, ia tidak percaya kalau Naura berani menampar neneknya.
"Maaf, apa Anda pernah sekolah? Apa Anda pernah mengaji? Apa Anda pernah belajar untuk menjaga tutur kata Anda? Bukankah Anda ini seorang perempuan berpendidikan dengan ilmu agama yang cukup tahu, tapi mengapa bicara Anda menunjukan bahwa kualitas diri Anda lebih rendah dari saya?" kata Naura menatap dingin dengan sorot mata tak terbaca tapi juga terlihat kecewa dan marah namun berusaha untuk meredam emosi.
"Saya dan ibu saya memang hina, tapi mulut Anda jauh lebih hina dibandingkan dengan saya. Buat apa memiliki ilmu tapi tidak di amalkan, buat apa terlihat baik serta berpendidikan tapi ternyata hatinya memiliki sifat pembenci. Bukan kah Allah tidak suka orang-orang yang berhati buruk dan pembenci seperti Anda? Seperti hati Anda yang suka menilai buruk seseorang hanya karena masa lalunya dan apa yang Anda lihat, maka saya yakin kalau Anda juga belum tentu ahli ibadah dan ahli surga. Setidaknya saya tidak munafik jika kenyataannya saya perempuan hina, tapi saya menyayangkan diri Anda yang terlihat Alim namun ternyata memiliki sifat angkuh dan petuduh." Pedas dan tepat, itulah yang Naura katakan untuk orang seperti Fatimah. Namun secara tiba-tiba air mata Naura menetes begitu saja. Ia memang bukan manusia sempurna, pernah salah dan khilaf, banyak dosa, tapi kenapa di saat dirinya mau berubah banyak yang tidak suka dan terus mengungkit masa lalunya.
Se tetes air mata mengingatkan dia pada setiap dosa-dosa yang ia lakukan. Bulan hanya semata sakit hati atas ucapan Fatimah, namun juga karena gagal tidak bisa menjadi muslimah yang baik.
Fatimah tertegun, ia tidak menyangka kalau wanita itu berani melawannya. Rasa tidak sukanya semakin besar dengan sorot mata penuh kebencian. Rasa ingin menjauhkan Azriel dari Naura semakin bertambah dan ia berjanji dalam hatinya tidak akan pernah membiarkan Naura dan Azriel bersatu.
Pun dengan Azriel dan Khanza yang juga tidak menyangka jika Naura berani melawan neneknya dan menampar orangtua.
"Naura, kamu tidak boleh berbuat kasar. Dia itu nenek aku yang seharusnya kamu hormati. Bukan begini caranya menghadapinya." Azriel menegurnya. Meskipun ia tidak menyukai cara neneknya bertindak semaunya, tapi hatinya merasa tidak menerima melihat orang yang ia sayang di tampar.
"Dia memang orang tua, tapi apa dia menghormati sesama perempuan? Tidak. Lalu apa dengan cara aku diam saja nenek kamu akan diam? Tidak juga. Justru dia akan semakin menjadi. Maaf, aku mengecewakanmu. Tapi aku tidak akan tinggal diam saja jika di depan mataku ada orang salah. Kamu boleh membelanya, kamu boleh amarah padaku, tapi jangan halangi aku untuk memberikan dia nasehat untuk menjaga lisannya. Kamu kuliah di Kairo, tentu kamu tahu jika ucapan adalah senjata yang paling menyakitkan. Luka di badan mungkin bisa di hilangkan, tapi luka di hati karena ucapan tidak akan mudah di lupakan meskipun butuh waktu lama melupakannya. Dan aku meminta sama kamu untuk menasehati nenek kamu. Lidah memang tidak bertulang, tapi lidah lebih tajam setajam pedang."
Fatimah yang mendengarnya bukan berpikir malah semakin tidak suka. "Aku tidak akan membiarkan anak kurang ajar ini berani menginjak harga diriku lagi. Berani-beraninya dia menasehatiku, sok suci sekali dia."
"Aku tahu, tapi..."
"Azriel ... Dia ..." Fatimah tiba-tiba memegang dadanya. Mereka yang ada disana menoleh.
"Nenek kenapa?" ujar Azriel dan Khanza segera mendekati Fatimah yang hendak jatuh.
"Da-dada ne-nenek sakit," lirih Fatimah terbata seraya memegangi dadanya.
"Sakit?!" keduanya panik, pun dengan Naura yang juga terhenyak ketika Fatimah tak sadarkan diri.
"Nenek!" pekik Khanza menjerit kenceng sampai terdengar ke arah beberapa orang.
__ADS_1
"Nek, bangun, Nek. Nenek!" Keadaan semakin tidak terkendali.
"Ada apa itu ribut-ribut? Ayo kita ke sana." Dan sudah banyak orang yang berkumpul di sana.
Azriel mencoba membangunkan neneknya namun tidak sadar juga. Khanza sudah terisak kecil takut kalau neneknya kenapa-kenapa.
"Nek bangun, Nek!"
"Lebih baik segera bawa ke rumah sakit terdekat, ustadz."
"Betul Ustadz, biar cepat di tangani."
Naura diam mematung memperhatikan pergerakan Fatimah. Entah kenapa hati kecilnya merasa ada yang janggal dengan keadaan Fatimah.
Azriel menoleh pada Naura sebelum dia mengangkat tubuh neneknya. "Kamu lihat! Gara-gara kamu nenek ku jadi begini. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku tidak akan pernah memaafkan mu!" ujar Azriel
Deg.
"Dalam keadaan darurat begini kamu malah menuduh nenek ku berpura-pura? Dimana hati nurani kamu, Naura?" ujar Azriel kalang kabut takut neneknya kenapa-kenapa. Dia sampai marah pada Naura dan tidak berpikir jernih.
Azriel menggendong tubuh Fatimah menuju mobil. Keadaan di sana tidak terkendali, apalagi Azriel terlihat panik dan marah. Naura masih diam mematung, menatap pria itu masuk dalam mobil.
"Kak Naura, aku minta maaf atas sikap kakak aku dan nenek aku. Kak Azriel sedang panik, tapi aku yakin kalau dia tidak bermaksud menyakiti mu."
Naura tidak menjawab namun matanya terus menatap pada Azriel yang masuk ke dalam mobil.
"Teteh, tolong bilangin sama Umi dan pengurus lainnya kalau aku dan Ustadz Fauzi ke rumah sakit," kata Khanza.
"Iya, Teh.
__ADS_1
"Khanza cepetan masuk!" tak sedikitpun Azriel menatap Naura. Pikirannya sedang kalut tidak bisa berpikir jernih.
"Iya, Kak." Khanza kembali menoleh pada Naura. "Kak Nau ..." Khanza merasa tidak enak hati harus meninggalkan naura yang ia yakini sedang tidak baik-baik saja. Meskipun terlihat tegar, tapi hatinya sedang rapuh. Khanza tahu itu.
"Pergilah! Jangan hiraukan aku, aku hanya orang lain yang menyebabkan nenek kamu begini."
"Kak bukan begitu ..."
Namun Naura malah berlari menjauh dari sana.
"Kak Naura tunggu!" Khanza berteriak membuat Azriel yang sedang di landa panik terhenyak. Dia tertegun menyadari kesalahannya.
Deg.
"Naura!"
******
Lagi dan lagi hatinya terasa sakit atas bentakan keras dari pria yang sudah merasuk kedalam hatinya. Ia tahu kalau tindakannya salah, tapi dirinya hanya sedang membela diri saja. Kalau dia salah bisa di tegur dengan baik, bukan di bentak di hadapan banyak orang.
"Aakkkhhh!!!" teriaknya di tengah-tengah lapangan area pondok.
"Naura, Naura, kamu di sini. Ada kabar dari orangtua kamu," kata salah seorang santriwati tergesa menghampiri Naura.
Naura menoleh, dia menghapus air matanya secara kasar. "Kabar, kabar apa?"
"Tadi Umi Qulsum meminta aku mencari kamu, katanya ibu kamu masuk rumah sakit."
"Apa?!"
__ADS_1