Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 78 - Bukti Nyata


__ADS_3

Mendapat kabar buruk mengenai Fatimah, Azriel dan juga Naura berencana menjenguknya. Meskipun Azriel masih kesal atas rencana sang nenek yang terbilang egois dan memaksakan kehendaknya, namun Azriel tidak mungkin untuk tidak melihat keadaan Fatimah.


Baik Azriel dan Naura terlebih dulu berpamitan pada Genta.


"Ayah juga ikut kalian ke rumah sakit. Ayah ingin melihat keadaan nenek kamu dan juga sekalian mau bertemu kedua orangtua kamu. Meskipun Ayah tahu ini bukan momentum yang tepat, tapi ada hal yang harus Ayah bicarakan sama kedua orangtua kamu." Tanpa di duga Papa Genta ingin ikut ke rumah sakit. Baik Naura maupun Azriel tentu saja tidak keberatan. Mereka justru senang kalau papa Genta ingin ikut.


"Iya, Yah."


"Kalian bareng papa saja naik mobil." Naura dan Azriel pun mengangguk. Jika terpisah pun akan memakan waktu lama, bahkan bisa bermacet-macetan di jalan di karenakan Azriel dan Naura tidak membawa kendaraan dan memilih naik kendaraan umum. Daripada mereka berpisah, mendingan bareng saja.


Bukan naura tidak ingin menerima pemberian papanya, hanya saja dia tidak ingin merendahkan suaminya dengan barang-barang pemberian papanya.


"Iya, Yah."


******


Rumah sakit.


Keadaan Fatimah sudah membaik, untungnya goresan beling yang Fatimah arahkan ke tangannya tidak terlalu dalam dan tidak sampai memutuskan urat nadinya. Jadinya Fatimah bisa terselamatkan dan keadaannya pun lebih baik lagi. Akan tetapi tetap saja raut wajahnya terlihat marah, sinis, dan juga tatapnya pun masih tersulut emosi.


"Kenapa harus kekanak-kanakan begini, Mah? Bunuh diri itu bukan hal yang baik dan juga di benci Allah. Bunuh diri bukan menyelesaikan masalah, tapi malah membuat masalah untuk semua orang. Baik Mama sendiri di akhirat dan juga kita semua di sini," ujar Azzam tidak habis pikir oleh hal nekat mamanya kemarin malam. Kalau bukan dia yang cepat-cepat bertindak segera menghalangi tangan Fatimah, mungkin pecahan gelas kaca itu sudah benar-benar menggores nadi di tangan mamanya.


"Kekanak-kanakan kian bilang? Lebih baik Mama mati saja daripada harus menanggung malu atas kelakuan anak kalian berdua. Mama lebih baik tiada daripada harus menerima segala perlakuan dan perlawanan dari kalian. Mama sakit hati sama kalian."


"Apa iman Mama sudah tidak ada sampai memiliki niatan gila ini? Kenapa harus malu jika segala sesuatu yang terjadi sudah menjadi garis takdir. Seharusnya kita lebih banyak membenahi diri sebelum ajar tiba, bukan malah menambah dosa," timpal Azzura merasa kesal dan juga kurang suka dengan sikap mertuanya yang semakin gila.


"Kalian berdua sama saja, mendingan kalian pergi saja sana! Mama tidak butuh kalian! Mama pastikan Azriel tidak akan mendapatkan warisan dari papa kamu Azzam."


Azzam menghela nafas, "terserah Mama saja. Aku yakin Azriel bukan orang gila harta. Dia anakku dan aku yakin pilihannya adalah yang terbaik."


"Assalamualaikum," ucap beberapa orang mengalihkan perhatian mereka bertiga.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Ayah, Bunda," sapa Azriel menyalami kedua orangtuanya. Pun dengan Naura yang juga mengikuti dari belakang suaminya. Tangannya pun tak pernah Azriel lepaskan.


Ketika hendak menyalami Fatimah, tangan Azriel dan juga Naura dibiarkan saja.


"Ck, tidak tahu malu. Beraninya kalian datang kesini setelah seenaknya berbuat ulah. Dan kau perempuan murahan, sudah puas membuat keluarga saya hancur karena ulahmu?" pedas, Fatimah berucap tanpa memikirkan perasaan Naura.


Naura menunduk, dia merasa tidak nyaman dan juga merasa bersalah atas kekacauan yang terjadi. Namun Azriel mengeratkan genggaman tangannya di tangan kiri Naura.


"Sepertinya Nenek baik-baik saja, buktinya mulut nenek sudah bisa mencaci maki lagi. Daripada kedatangan kita di sini tidak di inginkan, mendingan kita pamit lagi."


"Lihatlah wahai perempuan hina! Cucuku sampai melawanku dan ini karena mu, puas? Kau puas!"


"Jangan pernah membentak putriku!" ujar Genta baru masuk langsung di suguhkan oleh teriakan Fatimah pada putrinya. Sebagai seorang ayah merasa nyeri putrinya di caci maki.


"Ck, kalian semua sama saja."


"Kau ..." Fatimah menggeram. Sekarang banyak orang yang melawannya.


"Hahaha ayah sama anak sama saja, sama-sama hina."


"Cukup, Nek! Kedatangan kita keni hanya ingin melihat keadaan nenek karena kita masih memiliki perasaan, tapi rupanya kita memang tidak di harapkan. Sekalipun Nenek terus menghina Naura, nyatanya sekarang dia adalah istriku. Terima atau tidak, suka atau tidak, Naura sudah menjadi istriku."


"Hahahaha istri? Istri yang tidak sah."


"Siapa bilang? Justru saya datang kesini untuk menunjukan ke sah han pernikahan Naura dan Azriel." Genta tidak main-main, dia menunjukan semua foto-foto pernikahan Naura dan Azriel dan menyimpannya di hadapan Fatimah sehingga wanita tua itu bisa melihat jelas semuanya.


Fatimah, Azzura, dan Azzam menatap tidak percaya. Azriel benar-benar sedang melakukan ijab qobul.


"Ayah," lirih Naura dan juga Azriel.

__ADS_1


Azzam menghela nafas.


"Bahkan kedatangan saya kesini untuk memberitahu besan saya jika Naura dan Azriel akan mengesahkan pernikahan mereka berdua. Sekalipun Anda melarang, maka saya yang akan menjadi tameng buat mereka. Sebelum kalian menyentuh keduanya maka saya yang akan melawan duluan."


"Benar-benar murahan, beraninya merayu cucuku dengan segala tipu dayamu." Fatimah masih tidak terima cucunya menikah dengan perempuan yang ia sangka tidak baik dan juga murahan.


"Naura tidak murahan, dia tidak seperti yang nenek katakan dan aku bisa membuktikan kalau istriku ini wanita baik-baik." Azriel terus menggenggam hangat tangan istrinya. Tidak sedikitpun dia melepaskan tangan sang istri.


"Membuktikan bagaimana? Dengan cara dia memberikan tubuhnya pada mu, begitu? Sudah berapa pria yang telah menggagahinya?"


"Anda ingin tahu?" Yang lain ingin menjawab namun Naura segera menyela. "Anda ingin tahu seberapa banyak pria yang sudah ku layani?" Naura menyeringai, dia melepaskan tangan suaminya.


"Maka jawabnya adalah satu, dia cucumu sendiri. Dan ih iya, hubby, aku lupa menunjukan sesuatu berharga pada nenek kamu ini."


Azriel dan yang lainnya mengerutkan kening memperhatikan Naura membuka tas yang dia bawa. Tasnya pun cukup besar, mungkin cukup membawa satu stel pakaian.


Naura mengambil sprei putih, kemudian menyimpannya di depan kaki Fatimah. Mungkin ini terbilang tidak sopan dan lebih ke privasi, namun demi membungkam mulut Fatimah, Naura akan menunjukan ini.


"Ini bukti bahwa orang pertama yang sudah aku layani adalah suamiku sendiri, bahkan semalam penuh kami menikmati malam pertama kami. Bukan begitu, Hubby?" Naura tersenyum manis sambil menatap suaminya dengan tangan merangkul lengan suaminya.


"Paling juga bohongan." Fatimah tetap tidak percaya. Namun ucapan Azriel mampu membungkam keangkuhannya dan membuat dia diam seribu bahasa.


"Aku yang sudah mencobanya dan itu memang bukti darah perawan Naura. Dan apa perlu aku ingatkan lagi ketika nenek menikahi mendiang kakek apa nenek masih perawan?"


"Azriel, kau ..."


"Nyatanya tidak, justru nenek yang sudah sukarela menyerahkan tubuh sendiri pada pria yang menurut nenek cinta. Jangan tanya darimana aku tahu, aku sudah muak dengan kebohongan yang nenek sembunyikan."


Kemudian Azriel menggenggam tangan Naura, dia pun ke luar dari sana dengan amarah menguasai dirinya.


"Darimana Azriel bisa tahu?" Batin Fatimah gusar. Kini tatapan Azriel, Azzura, dan juga Genta seakan menyiratkan banyak pertanyaan.

__ADS_1


Namun lagi-lagi ucapan Genta mampu memporak porandakan hatinya. "Murahan teriak murahan. Mati saja sekalian!"


__ADS_2