Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 66 - Kedatangan Azriel


__ADS_3

Perjalanan terasa lama, waktu begitu lambat, ingin sekali Azriel cepat-cepat sampai ke alamat yang di tunjukan oleh Khanza. Dia dan Khanza sudah lebih dulu izin pada Umi Qulsum dan pimpinan pondok lainnya untuk pulang ke Jakarta. Pihak pondok pun mempersilahkan karena itu hak mereka.


"Lama sekali sih jalannya, Pak? Aku lagi buru-buru, nih." Azriel menegur sopir kebetulan dia duduk di bangku paling depan bersama Khanza.


"Kita utamakan keselamatan dulu, Nak. Tidak baik cepat-cepat. Gak apa lambat asal selamat, daripada cepat tapi celaka? Naudzubillah jangan sampai," balas sopir bus tenang.


"Sabar dulu, Kak. Dari sini sudah tidak jauh lagi, kok. Mudah-mudahan saja Kakak tidak terlambat mencegah keputusan Kak Naura. Semoga saja dia belum menerima perjodohan ini." Khanza semakin mengompori kakaknya. Dia senang kalau Azriel mau bertindak cepat. Dari kemarin-kemarin malah diam di tempat tanpa mau menunjukan keseriusan cintanya.


Dan ini juga rencana dia dan Revan supaya Azriel mau datang menemui orangtuanya naura. Dia juga baru tahu alamat rumahnya dari Revan juga.


"Justru itu, aku tidak tenang sebelum secepatnya bertemu Naura dan kalau perlu hal ini juga Kakak akan menikahinya. Tidak akan lagi ku biarkan dia jauh dariku."


"Yakin mau menikahi kak Naura hari ini? Emangnya Kakak berani melawan keluarganya?" Khanza ingin tahu keseriusan Azriel, apa benar Jika dia bakalan menikahi Naura hari ini juga? Khanza ingin lihat nanti.


"Yakin, soal restu nenek mah belakangan. Kalau restu Ayah dan Bunda udah jelas akan Kakak dapatkan." Apapun akan Azriel lakukan untuk mempertahankan Naura lagi. Sekalipun ia akan di coret dari ahli waris, dia tidak peduli.


"Kalau begitu aku mau kabarin Ayah dan juga Bunda dulu. Aku mau bilang kalau kakak sedang berjuang mendapatkan restu dari keluarganya kak Naura." Dengan semangat Naura mengirimkan pesan pada bundanya. Tak lupa juga meminta doa supaya kakaknya berhasil menaklukkan hati keluarga Naura.


*****


Kediaman Azzam.


"Jadi kalian tahu rumah perempuan itu? Jadi kalian menyembunyikan ini dari mama? Pokoknya mama tidak akan pernah setuju meski perempuan itu sudah ada ayahnya. Mama tidak akan biarkan Azriel menikahi dia, mama tidak akan pernah setuju dan akan melakukan apapun demi memisahkan mereka."


"Mama sadar dong, ini pilihan Azriel sendiri. Kita yakin kalau Azriel tahu mana yang terbaik untuknya. Meskipun masa lalu Naura kurang baik, kita yakin kalau gadis itu baik dan juga tidak seperti yang mama kira. Lagian itu hanya masa lalunya, bukan masa sekarang," kata Azzam.

__ADS_1


"Terserah kalian mau bilang apa, tapi mama tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Fatimah pun melenggang pergi.


Tring.


Azzura yang dari tadi diam melirik ponselnya. Nama Khanza tertera di sana. Azzura pun membuka pesannya. ( "Bunda, aku sama Kak Azriel lagi menuju rumahnya Kak Naura. Mohon doa restu buat kakak dan doakan kakak supaya berhasil membujuk orangtuanya kak Naura. Kak Azriel mau melamar Kak Naura." )


"Mas! Lihat ini!" Azzura menunjukkan pesannya. Azzam terbelalak.


"Dia sedang di perjalanan ke rumah Naura?"


Azzura mengangguk.


"Mudah-mudahan dilancarkan segala keinginan putra kita, aamiin."


Sampailah sudah mereka berdua di tempat yang di tuju oleh Azriel dan Khanza. Mereka sudah turun dari taksi dan juga sudah berdiri di depan gerbang minimalis, mungkin setinggi Azriel atau mungkin saja dua meteran.


Baik Azriel maupun Khanza memperhatikan sekeliling tempat, mereka berdua begitu takjub melihat rumah yang cukup bagus. Rumah modern minimalis bercat putih dengan pilar tinggi di depan rumah.


"Ini beneran alamatnya, Za? Nanti kayak lagi Ayi ting-ting, alamat palsu." Azriel takut salah alamat.


"Dari pesan yang di kirim Dokter Revan sih ini. Benar kok." Khanza memastikan lagi alamatnya.


Azriel menghela nafas berat. "Jika ini benar alamatnya berarti ini memang rumahnya. Kalau begitu kita harus ke dalam."


Azriel celingukan mencari bel yang akan ia tekan. Dia bingung belum menemukannya. Hingga klakson mobil mengalihkan mereka berdua.

__ADS_1


Tiiid .. Tiid ..


Khanza dan Azriel saling pandang, kedua menggelengkan kepalanya tidak tahu siapa itu. Mobil itu masuk ke dalam di saat gerbangnya terbuka sendiri. Lalu turun lah seorang pria menatap heran pada Khanza dan juga Azriel. Dia tahu siapa pria itu.


"Kalian ngapain di sini?" tanya pria itu yang tak lain adalah Aditya sambil mendekati keduanya.


"Ka-kami," Azriel mendadak gugup.


"Kami mau bertemu kalian, Kak." Khanza bersuara. Dia tidak sabar ingin bertemu Naura. "Boleh kita ketemu Kak Naura terutama ayahnya?"


Aditya mengerutkan keningnya, ia melirik Khanza lalu beralih menatap Azriel. "Ada perlu apa kalian datang kesini? Dari mana kalian tahu alamat rumah ini? Setahuku aku, Naura, ataupun ayahku tidak pernah memberitahukan kepada kalian."


Khanza menoleh pada kakaknya. Dia mengikut lengan sang kakak supaya mau bicara. Azriel menoleh.


"Begini, aku mau memohon kepada kalian untuk tidak menikahkan Naura pada siapapun. Tolong beri aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku meminang Naura dan berusaha membahagiakannya." Pada akhirnya Azriel mengutarakan niatnya dan tujuan dia datang ke sana itu apa.


"Siapa kamu berani melamar Naura? Kamu tidak sadar kalau kamu dan keluargamu pernah menyakitinya? Jadi kami tidak akan memberikan Naura kepada kalian yang tidak bisa menghargainya. Kami tidak akan pernah membiarkan Naura tersakiti lagi."


"Tapi saya ..."


"Kak mana pesanan aku? Kok lama masuknya sih?" seru seorang gadis yang membuat Azriel tertegun dengan jantung yang berdebar kencang.


Dia berlari mendekati Aditya, dan langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat sosok pria yang ada di dekat kakaknya.


"Azriel!"

__ADS_1


__ADS_2