
Baik Khanza, Azriel, dan juga Fatimah mengejar Naura. Tapi tidak dengan Azzam dan Azzura yang sedang meminta maaf atas kekacauan ini. Bahkan para tamu dan anak-anak santri masih berada di dalam mesjid karena kebanyakan yang hadir menyaksikan ijab qobul keluarga inti dan santri-santri yang ada di sana.
"Umi, Ustadz, kamu minta maaf karena sudah mengacaukan pernikahan ini. Kami juga minta maaf atas sikap putra kami yang di luar kendali. Sesungguhnya ini adalah kemauan Mama, bukan kemauan Azriel. Anak kita hanya mencoba untuk berbakti pada neneknya, tapi ternyata malah begini jadinya." Azzam merasa bersalah dan tidak enak hati atas kejadian ini.
"Sebenarnya saya sebagai orangtua dari Azkia merasa kecewa. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa karena segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik. Kami bersyukur tahu sebelum pernikahan itu terjadi, jika sudah menikah kami tidak akan tahu kehidupan Azkia dan putra kalian seperti apa. Mungkin hanya akan ada kesedihan terjadi diantara mereka," kata Ustadz Ali.
"Sebenarnya ini juga salah kita yang tidak teliti dulu dalam memutuskan apapun. Padahal jaman sekarang perjodohan sudah tidak ada dan anak-anak selalu memilih jodoh pilihnya sendiri," sahut Umi Qulsum.
"Ini salah ku yang tidak bertanya dulu pada Ustadz Fauzi, padahal sebelumnya Khanza sudah memberitahuku, tapi aku tetap ingin melanjutkan pernikahan ini. Namun ternyata Khanza benar kalau mereka saling memiliki satu sama lain," kata Azkia merasa bersalah sekaligus kecewa. Namun ia sadar kalau cinta tidak bisa dipaksakan.
"Sekali lagi kami minta maaf, Umi." Azzura bersuara.
"Tidak apa-apa, Nak. Semuanya takdir."
*****
"Naura tunggu dulu, dengarkan penjelasan ku dulu!" Azriel mencegah langkah Naura dengan cara menghalangi jalan Naura.
"Penjelasan apa lagi? Kamu mau menjelaskan kalau kamu sudah menentukan pilihan dan mengingkari janji yang kamu ucapkan? Sudah tidak perlu lagi penjelasan, aku sudah tahu keputusan kamu dan pilihan kamu. Jadi jangan lagi mengejar ku! Kamu memilih ini, maka aku pun akan memilih jalanku sendiri." Naura menghapus air matanya secara kasar. Sudah cukup ia memendam rasa selama ini namun ternyata rasa ini tak bertepi.
"Bukan begitu, ok aku salah salah telah mengingkari janjiku padamu yang akan datang meminang mu, tapi aku terpaksa melakukan ini karena ..."
"Nenek kamu? Aku sudah yakin itu dan kamu lebih baik menjalankan perintahnya saja. Aku sudah lelah dengan rasa ini dan aku tidak mau lagi berurusan dengan kamu." Naura mundur, dia tidak mau berjuang lagi meski hanya berjuang lewat doa. Hatinya tidak sekuat itu untuk bertahan dalam keadaan yang cukup rumit.
Dia kembali berlari, Azriel mengejarnya lagi.
"Azriel mau kemana kamu? Jangan mengejar perempuan murahan itu! Ini trik dia, Azriel." Fatimah mencekal tangan Azriel menahan cucunya mengejar.
"Maaf, Nek. Aku tidak bisa kehilangan dia, aku mencintainya. Maafkan aku tidak bisa memenuhi keinginan nenek." Azriel sampai menangis dan melepaskan tangan neneknya, lalu berlari mengejar Naura lagi.
__ADS_1
"Dasar perempuan murahan, sudah enak tidak ada doa di sini tapi malah datang lagi. Sepertinya aku harus menggunakan caraku lagi."
"Azriel tunggu! Aw ... Dada nenek sakit, Azriel. Tolong..!" pekiknya membuat Azriel yang sedang mengejar tertegun. Pun dengan Naura yang sudah ada di sebrang jalan menoleh. Dia memperhatikan Fatimah yang sedang memegangi dadanya.
"Trik yang luar biasa, Anda menipu orang, semoga Allah tidak memberikan sakit jantung yang sesungguhnya," batin Naura merasa yakin kalau itu hanya pura-pura saja.
"Tapi ..." Azriel menoleh pada Naura, mata mereka bertatap-tatapan. Lalu beralih menatap mata neneknya yang kini sudah di pegang oleh Khanza. Meskipun Khanza tidak suka cara Fatimah, tapi dia tidak mungkin membiarkan neneknya terjatuh.
Azriel berada di tengah-tengah jalan dalam keadaan bingung. Ingin mengejar Naura, tapi neneknya bagaimana? Kembali pada neneknya maka ia akan kehilangan Naura.
"Ya Allah aku harus apa?"
Tiiid ... Tiiid ...
"Minggir remnya blong!" teriak pengendara yang ada di dalam truk pengangkut pasir.
Naura, Khanza, dan Fatimah terbelalak.
"Kakak lari!" pekik Khanza.
"Ustadz minggir!" seru mamang penjaga satpam.
Namun Azriel seakan tuli karena pikirannya sedang kacau balau. Dia malah melamun menunduk memilih pilihan mana yang ahrus ia ambil.
Tiiid.. Tiiidd...
Naura tidak akan membiarkan pria itu melamun bodoh. Dia berlari sekencang mungkin di saat truk besar makin mendekat.
"Awaasss!!" teriaknya mendorong tubuh Azriel.
__ADS_1
Brukkk! Brakkk!
"Kak Nauraaaa!!!" jerit Khanza terperangkap kala tubuh mungil itu terpental membentur aspal. Khanza melepaskan neneknya dan berlari menghampiri Naura yang tengah berlumuran darah dengan mata terbuka.
Deg.
Azriel yang tersungkur di tanah diam mematung menyaksikan sendiri wanita itu berlumur darah. "Naura!!!"
Seketika semua orang yang ada di dalam berhambur keluar kala benturan keras begitu nyaring terdengar.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun! Kecelakaan!" ujar para santri yang ada di sana.
"Kak Naura!" teriak Khanza sedangkan Azriel langsung berjongkok lemas memangku tubuh Naura.
"Naura jangan tinggalkan aku, Nau. Bertahanlah, Nau. Aku tidak akan lagi mengingkari janjiku, ayo kita menikah." Azriel terisak memeluk tubuh Naura yang sedang berlumuran darah.
Naura menggelengkan kepalanya begitu lemah, ia tersenyum di saat rasa sakit ia rasakan di sekujur tubuhnya. Cairan merah terus merembes mengalir dari kepala, kali, dan tangan.
"Te-terima ka-kasih su-sudah ma-mau mengajakku me-menikah, ma-maaf aku ti-tidak bisa me-menikah ta-tanpa restu. Ma-maaf, a-aku capek, a-aku lelah, a-aku mau ikut i-ibu pu-pulang, a-aku ingin be-bertemu i-ibuku." Suara naura tercekat mencoba berkata meski terbata dan dalam keadaan lemah
"Tidak! Kamu bilang apa? pulang kemana? Kamu tidak boleh pulang, ibu mu ada di sini, kita akan bertemu ibumu, aku akan datang meminang mu." Azriel tidak peduli dengan batas antara perempuan dan laki-laki. Dia mendekap erat tubuh lemah Naura, dia tidak mau kehilangan sosok yang sudah merasuk pada hatinya. Cinta pertamanya, perempuan yang sering hadir dalam mimpinya, perempuan yang mampu menggetarkan hatinya.
Di saat terluka seperti ini pun Naura tetap tersenyum. Ia membalas pelukan Azriel seakan tidak ingin kehilangnnya. Dia terisak menahan sakit luka luar dalam. Luka di badan, dan luka hatinya. Ia akan mengikhlaskan pria itu dengan pilihannya.
"A-aku pa-pamit, a-aku me-mencintaimu," lirihnya begitu lemah. Pandangan matanya mulai menghitam, ia tidak kuat lagi bertahan.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, jangan pergi, Nau! Tetap bersamaku hiks hiks." Namun, ia tidak lagi merasakan pelukan dari Naura.
"Nau." Azriel melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Naura. "Kamu tidur? Kamu pasti capek? Kamu ..."
__ADS_1
"Kak," lirih Khanza.
"Nauraa!!!!"