Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 52 - Siapa yang menikah?


__ADS_3

Keadaan di pondok.


Para orang-orang yang ada di pondok tengah di sibukkan dengan acara yang akan di gelar hari ini. Tepat jam sembilan nanti Azriel akan menikahi Azkia sesuai permintaan sang Nenek.


Para anggota keluarga sudah di rias, pun dengan pengantin baik perempuan dan laki-laki. Tapi ada yang gelisah tidak menentu, dia adalah Azriel yang terus saja gugup dan mondar-mandir tidak jelas di dalam mesjid. Dia tidak ingin pernikahan ini terjadi, tapi satu sisi tidak mau neneknya kenapa-kenapa.


"Kak." Khanza memanggil Azriel lalu menarik tangannya. Banyak mata yang menatap mereka tapi tidak menegur karena mereka tahu kalau pria yang sering di sapa Ustadz Fauzi dan Khanza adalah adik kakak.


Khanza membawa Azriel ke samping mesjid. "Apa kakak akan terus lanjutkan pernikahan ini? Apa kakak tidak memikirkan perasaan aku dan Kak Naura? Aku sedih, kak. Kau tidak terima Kakak menikah dengan orang lain. Kalau nanti kak Naura datang tiba-tiba apa yang akan kakak jelaskan padanya? Lima tahun Kak Naura menunggumu datang, lima tahun dia sering mencurahkan isi hatinya padaku, lima tahun dia berjuang dalam doanya, dan lima tahun dia mencintaimu. Lalu sekarang ketika kakak mengakui perasaan akan tega meninggalkan dia? Berjuanglah Kak! Kakak ini laki-laki yang seharusnya memiliki pendirian sendiri dan sikap yang tegas. Ini hidupmu dan harus kamu yang menentukan, Kak. Khanza tidak setuju meski Azkia anak seorang ustadz."


"Kakak harus apa? Kakak tidak mungkin membuat Nenek sakit dengan sikap kakak." Azriel mengusap wajahnya kasar, ia bingung harus berbuat apa.


"Jadi Kakak akan tetap mengikuti perintah Nenek? Jadi bersiaplah untuk kehilangan Kak Naura. Kalau kakak memilih ini maka aku orang pertama yang akan mencarikan Kak Naura pria yang benar-benar bisa memperjuangkannya. Wanita butuh di berjuanglah, cinta butuh bukti nyata bukan hanya omongan saja."


Percuma dia bicara sama orang yang tidak bisa berjuang, lebih baik dirinya pergi tidak menghadiri acara itu. Rasanya sudah terlanjur kecewa pada sikap kakaknya dan keluarganya yang memaksakan kehendak orang lain.


"Rupanya kamu di sini, ayo buruan masuk acaranya akan segera di mulai." Ajak Fatimah tersenyum senang cucunya akan menikah dengan gadis pilihnya.


"Nek .." lirih Azriel ingin menolak.


"Jangan menolak, Azriel! Kamu mau melihat nenek mati sekarang." Fatimah melototkan matanya mengancam cucunya.


Azriel yang penurut menghela nafas berat. Dan pada akhirnya dia pun melangkah masuk.


*****


Sampaikanlah Naura di depan pondok.


"Terima kasih sudah mau mengantarkan aku ke sini. Maaf merepotkan kamu."


"Sama-sama, dan terima kasih juga sudah menemani perjalanan ku." Rumah sakit tujuannya terlewat, jadinya dia lebih dulu mengantarkan Naura ke pondok.


Kemudian Naura ingin turun.


"Tunggu! Boleh ku tahu nama kamu? Aku Revan."

__ADS_1


Naura tersenyum meski wajahnya tidak seceria kemarin-kemarin. Masih terlihat raut wajah kesedihan menyelimuti wajah cantiknya. "Aku Naura." Kemudian Naura turun, dia pun melangkah menuju pintu gerbang.


Revan menatap lekat Naura. "Naura," lirihnya. Lalu memutar balik mobilnya.


Setibanya di depan gerbang, Naura tertegun melihat janur kuning melengkung.


Deg.


"Janur kuning?! Siapa yang menikah?"


"Ya Allah neng Naura udah kembali. Ayo masuk neng, di dalam ada acara pernikahan," kata pak satpam.


"Siapa yang menikah, Mang?"


"Neng Azkia sama Ustadz Fauzi, Neng."


Deg.


"Azriel," lirihnya tertegun. Dadanya terasa sakit mendengar sosok yang ia harapkan akan menikah. Kedatangannya ke pondok ternyata di suguhkan oleh kabar yang begitu menyesakkan.


Dia berlari ke dalam ingin melihat dengan jelas siapa yang akan menikah hari ini.


Naura menabrak seseorang.


"Maaf, maaf." Naura merasa bersalah, ia tidak melihat siapa yang ia tubruk, tapi dia kembali berlari menuju area mesjid yang pastinya akan menjadi tempat akad.


"Kak Naura! Kak Naura tunggu!" Dia adalah Khanza. Ia sama kagetnya melihat siapa yang datang.


Sedangkan di dalam mesjid.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naura binti ..."


"Azriel, ini Azkia bukan Naura! Fokus, dong!" Fatimah menegurnya. Ia kesal karena cucunya sudah dua kali gagal.


Azriel sudah dua kali gagal mengucapkan ijab qobul. Dia gugup bercampur tidak pokus, pikirannya terus pada Naura.

__ADS_1


"Maaf, nek."


Sedangkan para keluarga Azkia cemas, mete mulai menyadari adanya hal tidak beres yang tengah meliputi diri Azriel. Sudah dua kali pria itu menyebut nama Naura bukan Azkia. Pun dengan Azkia yang berada di belakang para lelaki yang tengah di tutupi pembatas tirai. Dia memejamkan matanya merasa sedih atas apa yang terjadi.


"Jadi benar kalau Ustadz Fauzi mencintai Naura? Di saat ijab qobul saja hanya nama Naura yang ia ingat. Ya Allah, rasanya sakit." batinnya.


Sekali lagi Azriel menjabat penghulu, dia mencoba meyakinkan dirinya untuk menerima takdir ini. Dan pak penghulu juga kembali mengucapkan tuntunan ijabnya kemudian di akan di ikuti oleh Azriel.


Jantung Naura bak tertimpa batu besar, sosok yang ia cintai kini tengah melakukan ijab qobul. Hatinya sakit, dadanya sesak, matanya berembun menyaksikan sendiri pernikahan ini.


Kini tidak ada lagi harapan untuknya bisa memiliki sosok pria itu, semuanya sudah hancur menjadi abu. Cintanya, orangtuanya, kehidupannya, semua telah pergi. Tubuhnya lemas, kakinya melangkah mundur dengan air mata terus menerus membasahi wajah cantiknya. Belum kering luka kehilangan sang ibu, kini di tambah lagi dengan luka kehilangan orang yang ia cintai dan ia harapkan menjadi sandarannya kelak.


"Saya terima nikah dan kawinnya Azkia ..."


"Kak Naura!" pekik Khanza kala melihat Naura ingin terjatuh ke belakang. Khanza segera menahan tubuh Naura.


Deg.


Saat itu juga jantung Azriel bertalu lebih cepat. Pria itu dan yang lainnya menoleh ke samping dan matanya langsung bertubrukan dengan pandangan mata kosong penuh kesedihan dan kekecewaan yang ada di sirit mata Naura. Hatinya teriris sakit melihat wanita yang ia cintai terlihat rapuh.


"Naura." Azriel langsung berdiri.


"Azriel kamu mau kemana?" Azzam menahan tangan Azriel.


Naura berlari dari sana dengan perasaan hancur berkeping-keping. Ketika orang yang ia harapkan tidak menepati janjinya dan memilih pilihan lain, maka itu artinya dia tidak berhak lagi berharap padanya.


"Maaf, Ayah. Aku tidak bisa, aku tidak bisa menikah dengan orang lain, aku mencintainya." Azriel berlari meninggalkan mesjid.


"Azriel kamu keterlaluan! Kamu bikin malu keluarga kita, Azriel!" pekik Fatimah juga mengejar cucunya. Dia marah dan kesal karena Naura datang di saat waktu yang tidak tepat.


Sedangkan keluarga Azkia tertegun.


"Nak," ucap Umi Qulsum mengusap lembut tangan Azkia.


"Aku tidak apa-apa, ini sudah menjadi garis takdir ku."

__ADS_1


"Ikhlas kan, dia bukan jodoh kamu," kata Asiah memeluk tubuh Azkia.


"Insyaallah." Bibir berucap baik-baik saja, tapi hatinya merasa sakit. Sekarang ia semakin yakin kalau Azriel dan Naura memang saling mencintai dan dia telah mengecewakan Naura.


__ADS_2