
Kediaman Azzam.
"Mas, Mas, lihat ini!" Baru saja menjalankan ibadah isya, handphone Azzura terus berbunyi. Banyak sekali pesan masuk ke Wanya. Karena penasaran, Azzura membuka pesan itu. Dia terbelalak sebab itu pesan dari pembantu yang berada di rumah mertuanya.
Sejak Fatimah memaksa Azriel, Azzam tidak lagi tinggal di rumah mewah milik keluarganya. Dia tidak nyaman karena putranya selalu saja di atur oleh Fatimah. Jadinya mereka memilih tinggal tidak serumah dengan Fatimah.
"Ada apa sayang?" Azzam menoleh. Dia yang baru saja pulang dari mesjid terdekat, baru saja masuk ke kamarnya mendengar teriakan istrinya. Tentunya dia panik, namun keningnya mengkerut ketika Azzura menyuruhnya melihat pesan masuk.
"Ini pesan dari mbak Jum, katanya Mama sakit dan saat ini sedang di periksa. Tadi pingsan di dekat tangga, Mas." Azzura menunjukan foto yang di kirimkan oleh Mbak Jum padanya.
"Mama di infus lagi? Apa sakit jantungnya kambuh lagi?" Azzam juga kaget.
"Sepertinya begitu, jantung yang saat ini mama rasakan. Kita ke sana yuk, Mas. Aku khawatir sama mama dan kita menginap juga di sana."
"Iya, kita kesana malam ini juga. Kamu cepat hubungi Azriel atau Khanza, tadi mereka sempat bilang mau bilang hari ini."
Azzura mengangguk, lalu ia mengirimkan foto keadaan Fatimah dan juga menghubungi putrinya.
*****
Kediaman Genta.
Di saat semua orang tengah bahagia dan sedang bercengkrama bersama di ruang tamu, Khanza mendapatkan pesan dan Bundanya menelpon. "Bunda."
"Bunda menelpon kamu, Za?" tanya Azriel yang kini sedang sedang duduk di samping Naura. Mereka tidak lagi duduk berjauhan setelah akad nanti.
"Iya, Kak. Aku angkat dulu." Khanza pamit sebentar sama yang lainnya untuk menerima panggilan dari bundanya. Khanza berjalan ke arah depan.
( "Assalamualaikum, Bunda." )
( "Waalaikumsalam, Khanza. Kamu dan kakak kamu jadi tidak pulang ke rumah?" )
( "Jadi, Bun. Kaki sudah ada di kota dan saat ini sudah berada di rumahnya kak Naura." )
( "Alhamdulillah, syukurlah. Kalau gitu kamu dan kakak kamu pulang ya, Nak. Pulang dulu ke rumah nenek. Nenek sakit lagi." )
__ADS_1
( "Nenek sakit lagi? Jantungnya kambuh?" )
( "Sepertinya begitu, kamu dan Kakak kamu cepat pulang ya, kami takut terjadi sesuatu sama nenek kamu." )
( "Tapi kakak baru saja ..." )
( "Ini darurat, sayang. Bagaimana kalau nenek kamu kenapa-kenapa, tapi kalian belum menemuinya? Pulang ke rumah nenek ya sayang." )
( "Ya sudah, aku bicarakan dulu sama Kakak." )
Padahal Khanza mau memberitahukan bahwa Azriel sudah menikah dengan Naura. Dia lupa mengirimkan video dan foto pernikahan kakaknya pada keluarganya saking asyiknya bercengkrama dengan keluarga Naura.
Setelah selesai telponan dengan bundanya, Naura pun kembali lagi ke dalam rumah.
"Ada apa, Khanza? Bunda kalian menyuruh kalian pulang?" tanya Genta menangkap kerisauan dalam raut wajahnya Khanza.
"Iya, Om. Barisan bunda bilang kalau Nenek sedang sakit dan saat ini sedang di rawat. Aku dan Kak Azriel di suruh pulang dulu sebentar, tapi ..." Naura bingung harus apa. Ini adalah malam pertama kakaknya dan dia tidak mungkin bisa membiarkan kakaknya ikut pulang dulu.
Naura yang mendengar neneknya Azriel sakit menghela nafas berat. "Rasanya tidak ingin aku membiarkan Azriel pulang. Hatiku merasa gelisah dan merasa ada sesuatu di balik sakitnya itu. Namun aku juga tidak boleh egois dan tidak boleh melarang Azriel menemui neneknya. Aku harus berusaha ikhlas dan bersabar menerima hinaan dari beliau," batin Naura.
"Kalau kamu mau pulang dulu silahkan, aku tidak apa-apa."
"Kamu yakin membiarkan aku pulang ke rumah? Ini malam pertama kita, loh."
Blush..
Pipi Naura merona bak kepiting rebus. Aditya memutar matanya jengah. "Tidak akan ada dulu malam pertama Karena Nauranya sedang datang bulan. Jadi sambil menunggu tamunya pergi mendingan kau pulang dulu. Mungkin sebelum mati mau bilang sesuatu dulu," kata Aditya kurang menyukai Fatimah.
"Adit! Tidak baik bicara seperti itu," ujar Genta menegurnya. Namun Adit cuek, dia malah asyik dengan ponselnya.
"Begini, Nak. Karena keadaannya darurat, kamu pulang dulu lah. Tengok dulu keluargamu karena mereka adalah keluarga mu. Ayah tahu kalau kamu belum kembali ke sana kan? Jadinya untuk malam ini kamu pulang saja, besok kalian bisa tinggal satu rumah lagi. Kasihan keluarga mu," kata Genta memberikan saran pada Azriel.
"Iya, kamu pulang saja dulu. Aku di sini akan menunggu mu kembali." Naura tersenyum manis, ia juga tidak mau egois menahan Azriel di sana di saat kedua saudara itu belum pulang sama sekali.
"Maaf ya belum bisa menemani kamu di hari pertama kita, tapi aku janji setelah bini kita akan terus bersama."
__ADS_1
*****
Sesuai kesepakatan bersama, Azriel dan Khanza pulang dulu ke rumah besar keluarganya.
"Assalamualaikum," ucap Khanza dan Azriel ketika mereka sudah berada di kediaman Fatimah. Namun mereka berdua heran karena banyak orang di sana.
"Waalaikumsalam," balas semua orang.
"Ayah, Bunda, bagaimana keadaan nenek?" tanya Azriel sambil menyalami kedua orangtuanya dan juga yang lainnya. Namun tidak dengan para perempuan yang tidak ia kenal dan hanya mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Alhamdulillah mendingan," sahut seseorang yang berjalan mendekati Azriel. Dia tersenyum senang karena cucunya pulang ke sana.
Fatimah memeluk Azriel dan juga Khanza silih berganti. "Ayo duduk dulu, kalian pasti capek."
"Tunggu, Nek! Bukannya nenek sakit? Kenapa sekarang malah jalan-jalan di sini? Harusnya istirahat kan?"
"Alhamdulillah Nenek baikan setelah mereka datang. Oh iya, kamu ingat dengan Tante Silvi? Dia mamanya Syifa adik kelas kamu dulu."
Azriel mengangguk, ia juga kenal dengan gadis yang sedang duduk di samping Silvi. "Iya, terus."
"Hmmm karena kalian sudah ada di sini, maka malam ini juga kalian akan bertunangan sebagai permintaan terakhir Nenek."
"Apa?! Tunangan?" pekik Azriel, Khanza, dan juga Azzura. Mereka semua tidak tahu menahu.
"Iya, dan lusa kalian akan menikah." Fatimah tersenyum.
"Aku tidak mau! Dan aku menolak tegas perjodohan ini!" ucap Azriel.
"Kamu harus mau, Azriel!" seru Fatimah egois.
"Sekali tidak mau ya tidak mau, Nek! Jangan paksa aku! Aku menolak!" Azriel hendak pergi, tapi perkataan Fatimah membuatnya geram.
"Apa karena perempuan ja lang itu? Apa yang dia berikan padamu sampai kamu begitu tergila-gila padanya? Apa dia telah menyerahkan tubuhnya padamu?"
"Istriku tidak seperti itu, Nenek!"
__ADS_1
"Apa?! Istri?!"