
Bu Nur melepaskan pelukannya, ia yang tadi menangis mencoba menguatkan diri untuk memberitahukan perihal kejadian sebelumnya sampai menyebabkan Farida kecelakaan. Bukan kecelakaan biasa, tapi sebuah peristiwa yang terbilang tragis dan menyebabkan Farida terluka.
"Tadi siang, ibu dan ibu kamu sedang melayani pembeli. Tiba-tiba ada seorang pria datang menyeret paksa ibu kamu ke luar kedai. Saya tidak tahu dia siapa dan berasal dari mana, tapi pria itu terlihat marah-marah pada ibu kamu. Percekcokan terjadi antara keduanya, bahkan ibu kamu juga sempat menampar pria itu. Kami mencoba melerai kejadian tadi malah tidak bisa karena pria itu membawa senjata tajam. Saya sempat mendengar kalau pria itu akan balas dendam pada ibu kamu, namun saya tidak mengerti apa maksudnya. Hingga sebuah kecelakaan terjadi ketika ibu kamu mencoba kabur dari pria itu. Bukan sebatas kecelakaan biasa, tapi sebuah penembekan yang dimana ibu kamu menjadi korbannya," tutur Bu Nur menjelaskan kronologis kejadian yang sebenarnya pada Naura.
Sedangkan orang yang sudah menyebabkan Farida seperti ini kabur entah kemana, atau mungkin saja sedang menjadi buronan polisi.
Bak tersambar petir, itulah yang saat ini Naura rasakan.
"Ya Allah Ibu!" Tidak pernah di bayangkan ibunya menjadi korban kejahatan. Ia bertambah syok mengetahui semuanya. Jiwanya terasa remuk, tubuhnya terasa lemas seakan dunia ingin runtuh.
Namun satu hal yang sedang Naura tanyakan dalam hatinya. Siapa pria itu? Setahunya ibunya tidak memiliki musuh dan tidak ada orang yang berniat menjahati ibunya.
"Keluarga pasien?" sampai suara dokter mengalihkan perhatian keduanya.
"Dokter, ba-bagaimana keadaan ibu saya, dok? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius kan, Dok?" cerca Naura mendekat dokter untuk mengatakan keadaan ibunya.
Raut wajah pria berjas putih itu menunduk lesu. Meski usianya masih muda, namun terlihat kekecewaan dan lelah dalam raut wajahnya.
"Maafkan saja," ujarnya menunduk lesu tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan yang sedang ia hadapi.
"Ma-maaf? Kenapa dokter minta maaf? Apa yang terjadi pada ibuku? Jawab, Dokter!" Lagi dan lagi perasaannya semakin tidak karuan. Bertambah cemas, jantung semakin tidak menentu, pikiran semrawut kacau balau, tubuh pun gemetar menahan berat tubuhnya yang sudah terasa lemas. Untungnya ada Bu Nur yang berdiri disampingnya tengah merangkul pundaknya.
__ADS_1
"Peluru yang ada di tubuh ibu mu tepat mengenai bagian dada dan itu menyentuh jantungnya. Kami sudah berusaha keras untuk membantunya, tapi Allah berkehendak lain. Beliau tidak selamat, maafkan kami." Nada penyesalan sangat jelas menemani alunan nada dari ucapan yang di ucapkan sang dokter. Ia sudah berusaha keras membantu pasiennya, tapi dia hanya manusia biasa dan Allah yang berkehendak.
"Tidak! Itu tidak mungkin! Kamu pasti bohong, Dokter. Tidak mungkin ibuku tiadaaa, tidak mungkin!!" teriak Naura mendorong tubuh Dokternya merasa tidak percaya atas kabar menyakitkan ini.
"Dokter apa kau seriusan?" tanya Bu Nur.
"Ini kenyataannya, Bu. Saya minta maaf.
"Tidaakkkk !!! Ibu ..!!!" jerit Naura menerobos masuk tanpa memperdulikan yang lainnya.
Bu Nur yang ada di sana tak kuasa menahan tangis ketika mendengar tangisan Naura yang begitu menyayat hati.
Diam membisu ketika melihat sosok lemah tak berdaya kini terbaring di atas brangkar dengan kain putih menyelimuti tubuh tua renta sang ibu. Tiada kata terucap, tiada henti menangis, bibir pun terasa kelu, hati terasa hancur.
Tangannya meremas kuat baju di bagian dada. Hingga jerit tangis tak bisa tertahan lagi. "Ibuuu...!!!"
Tubuh lemah itu berlari memeluk tubuh ibunya, tangisnya pecah, mulutnya terus memanggil nama ibu memintanya untuk bangun lagi. Namun semuanya percuma karena Allah telah memanggilnya.
"Ibu bangun, Bu! Jangan tinggalkan Naura sendiri. Bu bangun! Ibu sudah janji akan menemani Naura sampai aku menemukan kebahagiaan ku. Ibu harus bangun! Bangun Ibu!!!" Naura terus mengguncangkan tubuh tak bernyawa itu dengan harapan ibunya bangun demi dirinya.
"Hiks hiks hiks, kenapa Ibu pergi? Kenapa Ibu tidak menepati janji? Kenapa Bu, kenapa? Sekarang Naura sendirian, Naura tidak punya siapa-siapa lagi, Bu. Aku sendiri, hanya Ibu yang Naura miliki, bangun Bu, Bangun! Naura mohon!!"
__ADS_1
Tidak pernah menyangka akan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki untuk selama-lamanya. Tidak pernah ia bayangkan ibunya tiada secepat ini. Padahal banyak hal yang ingin Naura lakukan bersama sang ibu tercinta, namun Allah lebih menyayangi ibunya.
Bu Nur yang ada disana menangis melihat betapa rapuhnya Naura. "Naura, yang sabar sayang. Allah lebih sayang sama ibu kamu." Bu Nur membawa Naura dalam pelukannya.
"Ini pasti mimpi, Ibuku tidak mungkin meninggalkan aku, aku tidak percaya. Ibu pasti masih hidup." Naura menggelengkan kepalanya menolak percaya kalau ibunya telah tiada. Ia tidak percaya ini semua.
"Sabar, Nak. Kamu harus ikhlas menghadapi semua ini."
"Tolong bilang sama ibu buat bangun! Bilang padanya kalau aku akan pergi lagi kalau dia tidak bangun!" lirih Naura merosot lemas tak bisa lagi menahan tubuhnya. Kini ia tidak lagi memiliki siapapun, semua orang yang ia sangat sayangi telah pergi. Tidak ada lagi sosok yang akan mengelus rambutnya ketika Naura rindu pelukan sang ibu. Tidak akan ada lagi seseorang yang akan memeluk tubuhnya yang selalu membuatnya nyaman. Kini tempat ternyaman itu telah pergi meninggalkannya.
Bu Nur tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya mencoba menenangkan Naura, namun ia juga tak bisa berhenti menangis.
Pun dengan sosok dokter muda yang tadi membantu Ibunya Naura, ikut menangis diam. Entah kenapa hatinya terenyuh sakit kala mendengar jerit tangis pilu Naura. Ia mendongakkan kepalanya seraya mengerjakan mata. "Ya Allah, kenapa hatiku ikut sakit melihatnya menangis," batinnya.
Umur tidak ada yang pernah tahu. Seberapa kuat kita menghindar dari ajal, kita tidak akan mampu menghindarinya. Setiap yang hidup akan mati, begitulah kiranya.
Innalilahi wainnailaihi rojiun.
Yang artinya : Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami kembali.
Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah, apapun yang terjadi atas kehendaknya. Rezeki, maut, jodoh, semuanya atas kehendaknya. Kita sebagai manusia hanyalah wayang yang tengah pentas di atas panggung, dimana panggung sandiwara ini selesai maka selesai pula kehidupannya.
__ADS_1
Kita hanya hidup sementara, maka gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Mati tidak akan membawa apapun kecuali amal kebaikanlah yang akan menemaninya.